Ridwan Kamil : Seni Bandung Hadir sebagai Refleksi

Walikota Bandung, Ridwan Kamil membuka resmi perhelatan Seni Bandung #1 di Jalan Dalemkaum, Bandung, Minggu malam (24/09/2017). foto : artspace

Ridwan Kamil, Walikota Bandung, hadir saat pembukaan perhelatan Seni Bandung #1 di Jalan Dalemkaum, Bandung, Minggu malam (24/09/2017).

Bapak, Ibu yang saya hormati, dimalam ini tanggal 24 September, kita memulai sebuah perayaan yang luar biasa. Perayaan yang menjadi asli wajah orang Bandung, yaitu penuh dengan kreativitas, penuh dengan rasa berkebudayaan, dan penuh hirup jukung sauyunan, sabilulungan, gotong royong, bersama-sama.

Bapak-Ibu, besok kita ulang tahun Bandung, tong hilap nyak (jangan lupa ya). Dua puluh lima September, tahun ini, kota ini, yang kita cintai ini, berusia 207 tahun. Bagi yang belum tahu, sekitar sini, ada makam pendiri Bandung, R A Wiranata Kusumah II. Silakan berziarah, silakan mendoakan.

Tidak ada masa kini tanpa masa lalu. Dan tidak ada masa depan tanpa imajinasi masa kini. Jadi tidaklah mungkin terjadi masa depan tanpa kita merefleksikan masa lalu.

Oleh karena itu seni bandung itu hadir sebagai refleksi. Refleksi dalam bentuk sastra, refleksi dalam bentuk musik, refleksi dalam bentuk tari, refleksi dalam bentuk teater, refleksi dalam bentuk seni rupa dan seterusnya.

Setelah kita mendengar, setelah kita merasa, setelah kita melihat, Insya Allah pulang-pulang dapat pencerahan, tentang siapa kita, tentang bagaimana hubungan kita dengan manusia, tentang bagaimana hubungan kita dengan Tuhan, bagaimana hubungan kita dengan lingkungan, alam dan seterusnya. Ini adalah kerja besar dari semua orang.

Tiga puluh hari hari kita akan merayakan kebudayaan, ada 156 kelompok kesenian bergabung, dari 156 kelompok kesenian terdapat 688 kegiatan berkesenian. Mudah-mudahan ini menyemangati. Saya tidak tahu ini pecah Rekor MURI atau tidak. Tapi ini banyak sekali.

Dari 688 kegiatan berkesenian diselenggarakan dikerjakan oleh hampir 2500 manusia-manusia terpilih dan istimewa di kota Bandung. Dan tidak terpusat. Tapi disebar di 48 lokasi.

Jadi jangan hanya belanja saja, setuju?

Hidup jangan hanya bekerja saja, membangun gedung. Hidup juga harus ada waktu untuk istirahat, merenung. Ada istirahat pribadi tidur, ada istirahat refleksi.

Nah Seni Bandung itu,maksud pak wali, adalah agar warga bandung jangan jadi chasing, jangan jadi mesin, tapi jadi manusia yang punya jiwa, punya isi, punya rasa, ya. Bagaimana cara mengisinya, selain dengan ibadah, adalah dengan berkesenian.

Lihat tarian tadi kan, urang kan melamun nyak…maksudnya naon, ooo maksudnya begitu, oh harus menghormati tentang sesuatu dan lain sebagainya. Dan banyak lagi, ada 688 cerita.

Oleh karena itu saya mengucapkan terima kasih khususnya kepada tokoh-tokoh seniman Bandung, yang sudah hampir setahun melakukan inisiatif ikhtiar yang luar biasa.

Saya yakin 99 persen energinya datang dari kecintaan kepada Bandung. Bukan karena disuruh Walikota, bukan karena difasilitasi Disbudpar. Saya yakin 99 persen datang dari kecintaan kepada kota yang airnya kita minum, kota yang udaranya kita hirup, kota yang manusia-manusianya kita sapa, kota yang rejekinya kita cari, betul?

Oleh karena itu kita harus mulang tarima ke kota Bandung, sing nyaah ke kota Bandung, cintai kota Bandung seperti kita mencinta ibu kita sendiri. Memuliakan kota Bandung berarti memuliakan ibu kita sendiri. Mengotori kota Bandung berarti mengotori ibu kita sendiri.

Jadi sebagai walikota saya titip, warga teh sing eman-eman, dipelihara kota Bandung ya, dijaga kebersihannya, taat aturan, dilarang nikung di pengkolan dan teman sendiri (warga jadi riuh senyum-senyum) jangan melakukan hal-hal yang melukai persahabatan dan lain sebagainya.

(Selanjutnya Ridwan Kamil, Walikota Bandung, mengucapkan terima kasih kepada seniman-seniman yang terlibat. Kang Emil juga bercerita tentang gagasan membuat kegiatan seni yang belum terjadi lagi sejak tahun 1980-an.)

Berikut petikannya,

Sejak tahun 80, Bapak Ibuk ya, berarti kalau dari tahun 80 berarti 37 tahun lalu kegiatan sebanyak ini. Terakhir tahun 80-an. Nah mudah-mudahan, generasi yang manggung hari ini, generasi yang energik hari ini, memulai tradisi baru membangun seni kolaborasi ini dan kita selenggarakan setiap tahun. Setuju?

Agar kota Bandung, tidak hanya jadi mesin ekonomi saja, tapi juga jadi ruang yang punya jiwa, kira-kira begitu. Ruang yang punya asa, ruang yang punya perasaan.

Nah sebagai Pemerintah Kota Bandung, saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Keni, selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar).

(Di depan warga, Ridwan Kamil menekankan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata agar lebih menekankan Budaya ketimbang Pariwisata.)

Teman-teman seniman, saya sudah titip ke Ibu Keni (Kepala Dinas Disbudpar Bandung). Mulai hari ini Bud-nya diperbanyak, Par-nya secukupnya. Dulu selama ini, Par-nya kebanyakan, Bud-nya rada terlupakan. Jadi Disbudpar sekarang harus Bud nya huruf besar semua, Par-nya cukup huruf kecil saja. Nah terjemahkan maksud saya ini untuk program-program tahun depan. Saya bermimpi Bandung kaya dengan peristiwa-peristiwa seni, kaya dengan kegiatan-kegiatan kebudayaan.

Mudah-mudahan awal malam ini, mengawali sejarah, dan saya titip ke Kang Iman (Iman Soleh-Direktur Eksekutif Seni Bandung) dan Kang Heru (Heru Hikayat-Direktur Artistik Seni Bandung), menurut teori EO (Event Organizer), saha-saha yang bias menyelenggarakan acara melewati 5 kali umurnya panjang si acara itu. Tapi siapa-siapa yang tidak sampai energinya di 5 kali, biasanya acara bubar, berganti nama.

Nah saya doakan, Seni Bandung ini melewati teori itu. Karena kalau sudah 5 kali, sudah professional, sudah pakemnya luar biasa, umurnya Seni Bandung akan lestari selamanya. Jadi itu titipan dari saya….

Setelah berpidato, panitia melaksanakan Akad Seni Bandung yang diwakili oleh Iman Soleh, seniman yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif.

Akad Seni Bandung merupakan prosesi simbolis tentang pertanggungjawaban panitia kepada warga kota yang diwakili oleh Walikota. Pembiayaan Seni Bandung #1 disokong oleh Pemkot Bandung dengan menggelontorkan dana sebesar Rp.5 milyar. Akad berupa penyerahan buku program Seni Bandung #1 yang melibatkan 2475 seniman Bandung. []

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *