Seni Bandung: Sebuah Pengantar Sejarah

Heru Hikayat

Pada 27 Agustus 2016, Walikota Bandung, sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung beserta sejumlah seniman bertemu di Celah-Celah Langit (CCL) Bandung, membicarakan rencana menyelenggarakan “biennale Bandung”. Lalu pada 19 September 2016, tim perumus yang terdiri dari Iman Soleh, Heru Hikayat, Ahda Imran, Alfiyanto, Asep Budiman, Dedi Warsana, Syarif Maulana, dan Tisna Sanjaya, melontarkan nama “Seni Bandung” pada rapat di Gedung PGN, Jl. Braga.

Hadir saat itu, Walikota Bandung, jajaran Disbudpar Kota Bandung, serta sejumlah seniman. Istilah Seni Bandung merupakan nama berbahasa Indonesia untuk menghindari istilah “biennale” yang satu sisi dianggap (terlalu) mapan dan di sisi lain dianggap problematik. Kegiatan dirancang mencakup 5 bidang seni yakni sastra, seni rupa, musik, tari, dan teater.

Proses berlanjut pada 17 Januari 2017 pada sebuah rapat di Gedung PGN. Poin-poin kesepakatannya: Seni Bandung #1 akan dilaksanakan pada 25 September–25 Oktober 2017. Kegiatan dilaksanakan menyebar di berbagai lokasi di Kota Bandung, dan dilangsungkan tiap tahun. Iman Soleh ditunjuk sebagai direktur eksekutif, Satria Yanuar Akbar sebagai produser, Heru Hikayat direktur artistik.

Tim kurator terdiri dari: Bob Edrian Triadi, Jajang Supriyadi, Dwihandono Ahmad (seni rupa); Syarif Maulana, Ismet Ruchimat, Budi Dalton (musik); Alfiyanto, Mas Nanu Munajar, Deden Tresnawan (tari); Bambang Qomaruzzaman, Dian Hendrayana, Zulfa Nasrulloh (sastra); serta Dedi Warsana, Asep Budiman, dan Hendra Permana (teater). John Martono diserahi tugas merancang logo Seni Bandung. Kru Satriasatria adalah tim inti manajemen Seni Bandung #1.

Organisasi pelaksana kegiatan juga menyertakan wali kota, kepala Disbudpar, sekretaris Disbudpar, dan kepala Bidang Produk Budaya dan Kesenian Disbudpar Kota Bandung, sebagai pelindung, dan penanggungjawab. Penasihat adalah I. Bambang Sugiharto dan Tisna Sanjaya. Penunjukan ini dikukuhkan dengan SK wali kota Bandung tertanggal 6 April 2017.

***

Keinginan agar Bandung punya kegiatan seni rutin telah lama digulirkan, dan tidak sedikit pula upaya mewujudkannya. Upaya-upaya ini bukan hanya berfokus pada isi dan bentuk kegiatannya, namun pula pada bentuk badan penyelenggaranya. Masalah keorganisasian ini pada gilirannya tertaut dengan pola hubungan warga dan penyelenggara negara, yang tak kunjung menemu pola ajeg hingga saat ini.

Selama ini  pola hubungan yang terbangun antara pemerintah dan warga terkait seni terjadi tidak secara simultan. Kegiatan-kegiatan kadang kesenian berlangsung tanpa sedikitpun keterlibatan pemerintah. Dari sisi perkembangan seni, bisa saja dianggap tidak menjadi persoalan.

Namun di sisi lain, nampak pemerintah menanggung kewajiban untuk mendukung kegiatan seni. Kadang hal itu berujung pada penyelenggaraan kegiatan seni tanpa pengetahuan yang mendalam. Pengetahuan perkembangan seni tentu dimiliki oleh seniman itu sendiri. Maka hubungan komunikasi dan kerja sama di antara keduanya dirasa perlu untuk dibangun.

Pertunjukan Teater berjudul “Munding Dongkol” dipentaskan oleh Kelompok Teater Bandungmooi di Celah Celah Langit, di samping Terminal Angkot Ledeng, Bandung (25/09/2017). FOTO : ARTSPACE.ID

Dalam rapat-rapat awal persiapan Seni Bandung, disepakati bahwa pemerintah berposisi sebagai fasilitator kegiatan. Perumusan tentang isi kegiatan kesenian, dan dengannya juga corak perkembangan kesenian dirancang sepenuhnya oleh warga negara (sipil) atau biasa disebut “pekerja seni”.

Surat Keputusan dari wali kota, sebagai dasar hukum penunjukan sekelompok warga kota untuk melaksanakan kegiatan yang didanai APBD dianggap sudah memadai, untuk sementara ini. Pada masa depan, badan penyelenggara kegiatan Seni Bandung harus ditetapkan.

Pembentukan badan tetap terdiri dari warga dan berposisi sebagai mitra pemerintah dalam bidang seni, diharapkan dapat mendesak agenda perumusan pola hubungan warga dan penyelenggara negara (dalam bidang seni), secara lebih jelas.

Seni Bandung #1, tahun 2017, dijuduli “Air, Tanah, Udara”, dimaksudkan sebagai cara puitik untuk menunjuk unsur-unsur alam yang menjadi faktor pembentuk kehidupan kota. Dari awal, perumusan Seni Bandung merujuk pada poin-poin ini: watak kolaboratif, hubungan seni dan kota, kehadiran (seni) di ruang publik. Telah terhimpun 688 kegiatan seni akan diselenggarakan selama sebulan, oleh 156 kelompok kesenian, 2475 individu pelaku seni, di 44 lokasi pagelaran.

Pada Seni Bandung #1 diutamakan seniman/kelompok seni yang tinggal dan berkarya di wilayah Bandung. Namun berhasil pula diundang sejumlah pelaku dari berbagai daerah di Indonesia, dan beberapa dari mancanegara.

Genre kesenian yang akan ditampilkan sangat beragam mulai dari seni berbasis tradisi hingga basis kontemporer. Ruang pagelaran pun ragam, mulai dari ruang-ruang konvensional (memanfaatkan ruang inisiatif warga maupun fasilitas pemerintah) hingga area hunian dan jalanan.

Tiap komite dalam Seni Bandung, memijakan dirinya pada basis tematik dan pendekatan yang telah disepakati bersama, sambil menyesuaikannya dengan watak khas disiplin dan medium kesenian masing-masing, perkembangannya, serta aspek sejarah. Hasilnya, tiap komite punya cerita sendiri-sendiri, saat “konsep bertemu dengan kenyataan di lapangan”.

Nama kegiatan selengkapnya adalah “Seni Bandung—A Collaborative Arts Event”. Kegiatan ini diharapkan jadi sebuah perayaan kesenian, kebudayaan, dan komunitas; juga menghubungkan medan sosial seni dengan komunitas urban, melalui pendekatan kultural. Frekuensi kegiatan tahunan dalam jangka panjang diharapkan dapat membuat kehadiran karya seni menjadi bagian dari keseharian warga kota.[]

Heru Hikayat, Direktur Artistik Seni Bandung #1

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

2 Comments on “Seni Bandung: Sebuah Pengantar Sejarah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *