Ruang Kamu, Publikku

Karya stensil Iwan Mael dan Kampret Syndicate di Kota Bandung. Foto : Argus

Identitas kekinian sebuah kota adalah ruang dan manusia kreatifnya. Isu penting dimana sebuah kota teridentifikasi melalui kehadiran ruang-ruang yang jadi wadah representasi sekumpulan manusia urban kreatif dengan karya-karyanya. Mengapa ruang menjadi penting dalam sebuah jalin-budaya kota saat ini? Karena ruang adalah penanda bagi masyarakat urban. 

Wacana ini tidak hanya penting dalam melihat sebuah kota dari aspek kulturalnya secara umum, tetapi karakteristik ruang macam apa saja yang berhasil mendorong manusia kreatif untuk memproduksi suatu karya. Tentu saja, kita bisa memilah ruang kreatif yang bersifat private (studio seniman) dan ruang presentasinya (galeri, ruang seni, rumah budaya, rumah kreatif, dll.).

Manusia kreatif itu sebut saja seniman – salah satu golongan atau sub-sektor di dalam masyarakat kota. Alih-alih, seniman inilah yang menjadi sumbu utama bagaimana perkembangan seni dapat melaju di wilayah geo-kultural tertentu melalui praktik seni yang dijalankan, baik yang metodis-akademis maupun otodidak. Dalam hal ini saya coba mengamati ruang private dan ruang presentasi itu terkait dengan karakteristik budaya urban yang memberi pengaruh terhadap praktik seni yang dilakoni oleh seniman serta sistem presentasi yang berdampak pada nilai ekonomi. Apakah persoalannya? Tentu saja keberadaan ruang-ruang yang dimaksud yang berhubungan dengan persoalan kota sebagai domain makro-kosmosnya.

Contohnya, kehadiran taman-taman kota yang sudah dimodifikasi di kota Bandung atau keterbatasan ruang manusia urban untuk melakukan aktifitas produktif sekaligus hiburan. Bagaimana seniman saat ini membahasakan urusan-urusan ruang publik semacam itu melalui karya seni?

(con)struck Artificial karya Eko Bambang Wisnu dan Teguh Agus Supriyanto dipamerkan saat perhelatan Seni Bandung #1, Oktober 2017 di Cikapundung River Spot, Bandung. Foto : Argus

Sebuah instalasi seni berjudul (con)struct: artificial karya Eko Bambang Wisnu dan Teguh Agus Supriyanto merupakan salah satu karya seni rupa yang memperkarakan persoalan kota, khususnya taman kota, yang dipandang sebagai ‘ruang bermain’ masyarakat kota yang sekaligus didorong menjadi identitas kotanya. Eko Bambang Wisnu dan Teguh Agus Supriyanto melalui karya tersebut dianggap berhasil menginterupsi kehadiran taman kota melalui representasi permainan ruang tertentu.

(con)struct: artificial, kemudian, dibaca pada ranah kritik penataan kota yang dianggap anomali. Apakah masyarakat kota Bandung sungguh-sungguh membutuhkan taman kota yang dikodifikasi dari ruang terbuka hijau. Apakah ada penghijauan di sana? Eko Bambang Wisnu dan Teguh Agus Supriyanto menggunakan warna hijau pada bagian struktur karya tersebut di atas material logam. Faktanya, taman-taman kota hasil kodifikasi tersebut cenderung bersifat artifisial, bahwa nilai ‘hijau’ atau dengan kata lain representasi dari tumbuhan, hanya sebatas citraan belaka. Hijau, kemudian, hadir sebagai warna pada karya (con)struct: artificial tersebut. Kita bisa melihat fenomena karya seni rupa saat ini yang terkait dengan persoalan kota ditanggapi oleh perupa dengan sangat personal sekaligus mewakili publik – karya itu disajikan di ruang publik.

Dalam hal ini penggunaan ruang seni publik sebagai peristilahan untuk memberi tanda pada soal kehadiran ruang-ruang produksi kreatif dan ruang kreatif yang produktif di sebuah kota, lebih lanjut, dapat digunakan untuk membaca perkembangan praktik seni dan wacana seni penyertanya saat ini penting.

Karya Armand Jamparing yang “menyomot” petikan puisi Wiji Thukul saat perhelatan Seni Bandung #1, Oktober 2017 di Cikapundung River Spot, Bandung. Foto : Argus

Pemahaman literasi ini saya anggap cukup untuk menandai fenomena ruang seni di dalam arus utama budaya urban saat ini dengan sudut pandang masyarakat saat ini. Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang muncul dari cara memandang masyarakat kekinian terhadap fenomena karya seni saat ini jadi penting. Kemudian, sejauhmana pembacaan ruang seni saat ini yang bersifat terbuka, dengan melibatkan partisipasi publiknya dalam membangun wacana-wacana baru yang memungkinkan bisa dibangun untuk menyebarkan pengetahuan dan pemahaman mengenai karya seni (seni murni dan terapannya).

Maka, ruang seni nampak jadi isu krusial di Bandung juga kota-kota lain saat ini ketika pembacaan praktik seni yang dikembangkan oleh seniman-seniman muda hari ini memberi pengaruh positif dalam upaya mengundang publik seni yang baru. Dialog mengenai proses kreatif, tafsir visual dan membaca struktur makna hingga pesan yang diimbuhkan pada karya makin multi-tafsir.

Artinya, keterbukaan informasi dari seniman tentang proses dan bagaimana karya itu ‘menjadi’ bermakna dengan keterlibatan publik menjadi penting. Sehingga, misteri kreatif yang dimitoskan secara tidak logis akan tumbang oleh cara pandang baru dan cara menafsir makna yang terimbuhkan di sana.

Respire yang berarti bernapas, karya Abbyzar Raffi mengundang publik untuk membangkitkan memori mereka dengan cara menghirup kumpulan ‘aroma’ Kota Bandung. Karya dipamerkan di Taman Cikapayang, Bandung. Foto : Argus

Apakah ruang seni yang hadir saat ini memberikan pengetahuan baru kepada publik seni dengan demografi terbaru? Apakah modus ruang seni dan ruang alternatif seni saat ini dapat mengundang msyarakat baru dalam upaya membangun pengetahuan baru? Dan apakah strategi politik kebudayaan yang dilakoni dapat ‘membina’ para pecinta seni dari lintas generasi?

Alih-alih ruang-ruang seni alternatif yang berafiliasi dengan ruang ekonomi kreatif meningkat secara kuantitas, kemudian, menandai kehadiran “benda-benda” yang disajikan di ruang tersebut dengan pra-syarat wacana seni dan wacana publik seni saat ini. Apakah ruang-ruang yang terkatagorisasi itu dapat dijadikan identitas sebuah kota?

Apakah seniman bersetuju dengan femomena ruang-ruang tersebut. Sebagahagian seniman bersetuju pada persoalan kebaruan pada wacana seni saat ini ketimbang identitas kota yang terbatas pada hal fisikal. Temukan jawabannya di ruang-ruang kreatif private dan ruang presentasinya.*****

About ©Argus FS™

curator, artist, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia ● Instagram: @argus_fs

View all posts by ©Argus FS™ →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *