Seni, Heterotopia, dan Situs Cigondewah

BAMBANG ASRINI WIDJANARKO

Tidak mudah untuk mengamati peran seni sebagai hasil produksi kultural hari ini di tengah multi krisis yang disandang manusia sejagat. Energi konvensional telah menipis, memicu ketegangan negara-negara adikuasa berebut sumber-sumber alam yang masih tersisa.

Karya komunitas Invalid Urban “HAPPY BALANGSAKS #2” dipamerkan di Imah Budaya Cigondewah, saat perhelatan Seni Bandung #1. FOTO : ARGUS FIRMANSAH

Selain itu, kekuasaan korporasi gigantik global yang mendikte manusia dari gaya hidup sampai cara manusia menentukan masa depannya. Belum lagi, ancaman kekerasan terorisme atas nama keyakinan, pemantik saling curiga di dunia maya; juga ambang populasi manusia yang berlebihan serta ancaman kerusakan lingkunganhidup.

Beban itu menjalar dan memenjarakan akal budi, sementara kita masih dituntut untuk tetap percaya bahwa seni mampu memberi sumbangsih pada dunia. Estetika yang diandaikan sejalan dengan logika dan etika terus saja ditantang untuk berbuat sesuatu. Sampai satu saat, di penghujung abad ke-20, seorang kritikus perempuan, Suzi Gablik berujar:

“Dalam situasi kita saat ini, keefektifan seni perlu dinilai dari seberapa baik hal itu menjungkirbalikkan persepsi dunia yang telah diajarkan pada kita, yang telah membuat keseluruhan masyarakat kita mengalami kehancuran biosfer. Saya percaya bahwa apa yang akan kita lihat dalam beberapa tahun ke depan adalah paradigma baru yang didasarkan pada gagasan partisipasi, di mana seni akan mulai mendefinisikan kembali dirinya sendiri dalam hal keterkaitan sosial dan penyembuhan ekologis.” — Connective Aesthetics: art after individualism (Gablik, 1995)

Apa yang diajarkan tentang konsep seni selama ratusan tahun di dunia Barat; lebih layak untuk dieja ulang. Paradigma baru ditawarkan untuk apa yang disebut Gablik sebagai penghindaran terhadap kebinasaan sesuatu yang dianggap hidup, biospheric destruction. Ia tak hanya memberi amsal tentang “atmosfir bumi”, namun segala hal yang merusak kehidupan manusia dengan cara berpikir manusianya pun peran produksi seni-nya. Yang Gablik katakan, sebuah upaya untuk memancing partisipasi seniman dalam merehabilitasi kondisi sosial dan ekologi bumi.

Konsep Gablik tersebut yang pada dekade 60-80an, baik dalam praktik disiplin Teater dengan temuan Augusto Boal dengan Theater of The Opressed maupun di seni rupa dengan Alan Kaprow dengan Happening-nya, atau Joseph Beuys dengan patung sosialnya, dll., banyak memberi inspirasi para kritikus dan sejarawan pada abad ke-21 ini. Terutama tentang definisi participatory art dan yang membedakannya dengan socially engaged art atau community based art serta art activism.

Tak lagi mempersoalkan tentang definisi-definisi beragam tersebut, dalam ruang dan produksinya sendiri-sendiri, Invalid Urban sebagai komunitas lebih menyukai mengintensifkan kerja-kerja kolaboratif atau mereka lebih suka disebut sebagai sekumpulan personal yang memanggungkan visual art ensemble – layaknya sebuah pergelaran orkestrasi musikal – pada semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memberi keahlian masing-masing memproduksi karya seni. Terutama, membangun relasi-relasi antar seniman dan anggotanya dari berbagai disiplin, atau bahkan orang-orang biasa yang tak berlatar seni selalu memungkinkan ikut memberi pengayaan, seperti masyarakat atau warga yang tinggal disekitar karya yang akan diproduksinya.

Mereka semuanya, memang sejak lama memaklumi asumsi-asumsi dasar kondisi geografi pikiran manusia yang cenderung chaotic, nilai-nilai kemanusiaan universal yang tak sama dalam konteks budaya lokal, dan pangalaman kebertubuhan (raga manusia) yang terhubung dengan berkesenian mereka terhadap isu-isu sosial.

Yang paling menarik, adalah seolah komunitas mereka menjaga jarak dengan kehidupan keseharian, dengan konsepsinya yang terlampir di katalog pamerannya Overload Cellebration pada 2012:

“bagi kami dalam Invalid Urban, berkesenian adalah sebuah perayaan atas hasrat bersama yang digembalakan dengan sukacita. Layaknya hari-hari besar dalam kehidupan pada umumnya yang seringkali diistimewakan atau ruang jeda, semacam interupsi atas rutinitas sehari-hari. Ia bisa jadi merupakan akumulasi dari jejak keseharian atau sebaliknya, ruang kompensasi dunia ideal yang tak tersentuh kenyataan sehari-hari. Sebagai sintesa atau antitesa. Bahkan keduanya sangat mungkin hadir sekaligus seperti layaknya kehidupan itu sendiri yang kerap dipenuhi paradoks, ambivalen dan ironi”.

Komunitas Invalid Urban menggunakan berbagai barang dan benda. FOTO : ARGUS FIRMANSAH

Pada beberapa kesempatan, mereka memang menjaga jarak, dalam ruang-ruang interior di dalam galeri dengan konstruksi simbol-simbol berupa instalasi maupun olah gerak tubuh, dan berbagai pertunjukan seni-panggung dan mengekspresikan apa yang dikonsepsikan sebagai pertanyaan-pertanyaan yang mengungkap perayaan atas paradok, ironi pun ambivalensi dalam kehidupan keseharian.

Tapi dalam kesempatan lain, komunitas Invalid Urban ini bergerak keluar ruang interior. Mereka “turun ke jalan” membuat gulungan-gulungan instalasi sampah plastik – semacam seni performans sekaligus aktivisme; di jalan-jalan utama. Mereka memungut sampah-sampah plastik di beberapa ruas jalan di Bandung, yang kemudian dibentuk seperti sebuah bola plastik raksasa.

Intensinya adalah mengkritisi para pengguna jalan dan publik untuk jangan membuang sampah plastik sembarangan. Dalam kesempatan lain, mereka juga melakukan upaya “aktivisme protes” atau seni yang secara politis berhadap-hadapan langsung dengan kebijakan publik dari penguasa. Misalnya, dengan berjalan mundur dijalanan memprotes sebuah situs bersejarah di kota Bandung yang akan dialih fungsikan untuk lahan industri dan rekreasi untuk kalangan tertentu (mall dan sejenisnya).

Dalam konsepsi mereka, mungkin saja pengertian “sukacita dan selebrasi” representasinya bermacam-macam. Jika kita mengamati yang ditulis ini di katalogus dalam merayakan “12 Tahun” komunitas Invalid Urban berkarya, pada 2012:

“Invalid Urban mengajak siapapun [semua][segala] yang ingin turut bergembira, merayakan hidup dan kesenian sebagai ruang dialog terbuka dalam keosnya, berkelana: menjelajah jauh ke batas-batas imajinasi, ruang katarsis lain yang mampu meruntuhkan segala ‘blub!’ dalam mekanisme represi dan pengingkaran hidup manusia, dan mengekspresikan berbagai [semua] [segala] ‘bulb!’ lain dalam semesta secara sukacita.

Dari sana, pengertian kalimat “ruang katarsis lain yang mampu meruntuhkan segala ‘blub!’ dalam mekanisme represi dan pengingkaran hidup manusia, dan mengekspresikan berbagai [semua][segala] ‘bulb!’” adalah bekerja seni secara langsung dengan publiknya, tanpa ada batas-batas dan hanya berupa simbol ilusif. Turun ke jalan membuat perubahan-perubahan dengan jalan protes adalah keniscayaan.

Tentunya menarik untuk ditelaah ruang-ruang praktik berkeseniannya. Komunitas ini masih percaya, bahwa objek seni tetap penting tidak hanya dalam perkara bentuk, medium atau tema-tema spesifik — yang biasanya dari objek-objek yang sudah ada (found objects); atau daur ulang benda-benda menjadi bermakna anyar; tetapi juga sikap keterhubungan dan keterbukaan mereka dengan dunia di luar objek-objek tersebut. Mereka “merayakan” pengalaman keseharian dan terhubung langsung dengan publik luas.

Heterotopia dan Situs Cigondewah
Tisna Sanjaya, seniman dan pendiri Imah Budaya Cigondewah saat menghadiri diskusi “Seni Partisipatoris Seni Bandung”. FOTO : Rendra Santana/FB

“Heterotopia are the very foundation of society, and are something like a counter-sites, a kind of effectively enacted upon utopia in which the real sites, all the other real sites than can be found within the culture are simultaneously represented, contested and inverted,” — Of Other Spaces: Utopias and Heterotopias (Foucault, 1961)

Kali ini, Invalid Urban berupaya hadir di kawasan Cigondewah. Sebuah area yang masih di kota Bandung dan menjadi pusat industri. Komitmen untuk memilih wilayah urban dengan kompleksitas dan paradoksnya masih disukai untuk olah ekspresi. Cigondewah yang kita kenal sebagai sentra daur ulang plastik dan kain, industri tekstil serta pabrik-pabrik hadir sebagai sebuah kenyataan area urban. Wilayah ini dekat dengan aliran sungai Cigondewah yang mengalir sampai Citarum yang saban hujan meluber dan dipastikan ada banyak sampah-sampah berserakan.

Sebuah studio khusus didirikan di sana oleh perupa senior Tisna Sanjaya (imah seni cigondewah); dan Invalid Urban berkesempatan memberi penanda dengan sebuah pameran khusus. Jika dikaitkan dengan konsep site specific art bisa jadi benar; namun akan lebih menarik jika kita telaah Cigondewah dan Studio tersebut dengan identifikasi ruang-ruang yang pernah filsuf Michel Foucault katakan sebagai Heterotopia.

Foucault menggunakan ide ruang sebagai sebuah cermin. Yang menjadi metafor tentang apa yang disukai kelompok Invalid Urban; dualitas dan kontradiksi. Yang selalu disodorkan oleh komunitas ini, merayakan dengan jalan mempertanyakan, mengajak dialog sampai pada titik meng-komedikan realitas fiksi atau pun yang realitas fisik.

Terlihat sekali bahwa komunitas ini ingin mendekati salah satu karakter ruang dari beberapa kriteria yang dianggap sebagai ruang Heterotopia dengan mantra-nya, yakni purifikasi “ruang antara” disebuah wilayah.

Cigondewah diandaikan sebagai wilayah ambang yang disebut Utopia, yakni secara mental masyarakat komunal menginginkan kota adalah tempat yang ideal, atau yang diimajinasikan sebagai yang paling tepat untuk hidup. Sehat, nyaman dan berkecukupan. Kenyataan lain; Cigondewah adalah juga sebuah wilayah urban yang menanggung beban Distopia, yakni masa depan yang memburuk, persaingan kuasa dan perebutan modal spasial serta rusaknya lingkungan ekologi yang mungkin saja menjadi “absolut” pada masa mendatang.

Ruang-ruang Heterotopia; sebagai upaya “penyembuhan” seringkali dipentaskan, dipanggungkan dan memprovokasi kebutuhan seniman-seniman mengekspresikan tatanan yang dianggap tak ideal sekaligus bukanlah skenario terburuk yang manusia-manusia putus harapan melihat sebuah kehidupan di kota besar. Para cendikia seperti Edward Soja acapkali membangun konsep dialog spasial semacam ini, dengan karya-karya Henri Lefebvre dalam bukunya Thirdspace. Ia mengajukan argumentasi tentang yang spatial representational ataukah yang representation of the space.

Sebuah pentas yang oleh Invalid Urban diimajinasikan sebagai karya Happy Balangsak #2 nantinya akan mendekati “ritual penyucian tempat” di Cigondewah, sebagai Ruang ke-3; dengan mengkritik, mendialogkan serta mensyukuri kemungkinan-kemungkinan yang Utopia dan sekaligus yang dianggap Distopia itu.

Kembali ke kritikus Suzi Gablik; bahwa “argumen kita bahwa krisis environmental tak bisa dipandang sebagai aspek kebetulan dari pengetahuan tentang kondisi modernitas sebagai penerapan ilmu sains yang bebas nilai, yang mengkritik dualisme ala Cartesian yang semata menyasar pertumbuhan ekonomi, dominasi kekuasaan pastilah tak akan selamanya bertahan dan mampu sustain”.

Salah satu detil karya “Happy Balangsak #2” karya Komunitas Invalid Urban yang dipamerkan di Imah Budaya Cigondewah. FOTO : ARGUS FIRMANSAH

Kritikus lainnya, yang lagi-lagi perempuan; Charlene Spretnak menyetujui Gablik dengan menyebut kegagalan modernitas memang menyebabkan kematian ekologi, sebuah kondisi globalisasi yang tak berkualifikasi dengan target pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya mematikan budaya-budaya masyarakat dunia ke-3 yang telah lama ada – (Spretnak, States of Grace, 1993). Gablik dan Spretnak yakin bahwa krisis lingkungan hidup karena memisahkan pikiran dari tubuh, yang celakanya memproduksi apa yang kita kenal dengan pandangan sains yang bebas nilai dan seni yang bebas nilai pula.

Mereka berdua sepakat, melawan model pembagian dan pemisahan-pemisahan tersebut dan anggapan tentang bebas nilai; adalah sudah saatnya menarik sebuah paradigma baru. Disebut sebagai interdependensi yang mengajukan re-integration di dalam “the self dalam diri manusia dan the self pada anatomi tubuh masyarakat”. Dengan demikian, individu—baik seniman atau non-seniman — bukan saja menjadi observer di luar sana—yang outside, sebagai dunia sosial yang disintegratif. Gablik, dalam hal ini menegaskan “by participating agent; art can act as a catalyst to such a process, even in small ways”.

Nandanggawe dalam wawancaranya dengan penulis, bahwa karya Happy Balangsak #2 nantinya di Cigondewah memang tidak langsung terhubung kesungai Citarum.

“Sungai mungkin akan jadi salah satu yg akan direspon. Sedangkan karya utama akan dibuat indoor, di dalam ruang studio, dikerjakan bersama tim invaliders dan merespon dari aktifitas beberapa warga sekitar termasuk material yang digunakan kemungkinan akan banyak dipengaruhi dari sampah di sekitar pemukiman warga. Karya tersebut, memungkinkan akan meluber keluar ruang sampai kejalan. Yang paling menantang adalah, memungkinkan terjadinya pergesekan dan temuan-temuan baru dengan warga sekitar dan mengadaptasinya, berbagi pemahaman nilai-nilai, yang terikat ruang dan waktu tentunya”.

Nandanggawe bertutur, bahwa Cigondewah adalah hamparan ironi dalam iklim kota yang dianggap modern. Yang dulunya wilayah persawahan, dan dikenal cukup religius – dalam konteks nostalgik – ada banyak pesantren di sana, bertransformasi menjadi tataran pabrik-pabrik, pemukimnya yang dulunya petani kini jadi pedagang dan tukang, terutama bisnis mendaur ulang sampah, serta yang paling memprihatinkan: segala hal dilihat dalam ukuran-ukuran pragmatisme.

Nandanggawe mengatakan bahwa, ia dan teman-teman Invalid Urban membangun imajinasi konstruksi bangunan semacam pabrik-pabrik, besar atau kecil atau bisa jadi menyerupai monster-monster yang terbuat dari materi barang-barang bekas yang dikumpulkan dari lingkungan sekitar. Apa yang dikerjakan Invalid Urban, memanggungkan “mesin mimpi” yang merefleksikan ruang-ruang Heterotopia, yang fisikal sekaligus yang mental. Memberinya makna, ruang fisik yang dihadapi sebagai keseharian serta dalam waktu sama ruang harapan yang harus selalu terjaga.

Mereka memprovokasi pengunjung dan apresian seni-nya; menerbangkan secara mental bisa jadi karya puing-puing yang berupa seperti totem dari masa silam, yang nostalgik itu, dan kotradiksinya dengan kenyataan industri dan modernitas hari ini. Mereka menginisiasi dialog tentang “harapan-harapan yang tersisa” ; sampai ruang-ruang ilusif dan kenyataan yang saling berkelindan, apakah Cigondewah telah benar-benar menemui “ajal ekologis” dalam konteks Distopia atau masihkah ada ruang asa layaknya Utopia?

Disanalah ruang-ruang antara, Heteropia menjadi pilihan untuk apa yang dikatakan Gablik sebagai katalis bagi dunia modern dan peran kongkrit bagi seni.*****

____________________________________________

Catatan ini mengantar pameran Invalid Urban bertajuk “Happy Balangsaks #2” di Imah Budaya Cigondewah Tisna Sanjaya, Bandung, oleh Bambang Asrini Widjanarko – penulis & pengamat seni, tinggal di Jakarta.

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *