Isrol Triono : Propaganda, Found Object, dan Tembok Review karya Isrol Triono a.k.a. Media Legal

BETAMAX (2017). 19 cm x 31 cm. Spray paint on betamax Semacam jalur sinyal yang terekam pada sebuah pita penghubung, berputar melalui transportasi pengantar gambar mencapai “maximum”.

Masih kuat dalam ingatan ketika saya melihat tembok-tembok di jalanan atau ruang publik di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Ingatan pada pesan-pesan moral dari mural dan grafiti yang menghubungkan ingatan saya pada Isrol Triono a.k.a. Media Legal di Yogyakarta.

Isrol adalah seniman jalanan kelahiran kota Jakarta yang saya kenal kali pertama dalam workshop kurator muda di RuangRupa, Tebet, Jakarta Selatan, 2009 silam. Ia mengenalkan nama Media Legal setelah menyebutkan nama asli sesuai yang tertera di kartu identitasnya.

Ia memang getol membuat merchandise dengan label Media Legal sejak tahun 2000. Lebel itu menandai aktivitas produksi karya cetak saring juga proyek-proyek seni mural di ruang publik. Tidak hanya ruang kota, dinding-dinding rumah di sejumlah kampung juga digarapnya dengan teknik stensil, mural.

Kenapa jalanan atau ruang publik menjadi habitat Media Legal untuk menyampaikan propaganda bernada pendidikan? Apakah karya di dinding itu bersifat personal atau pelayanan publik dari lembaga?

Media Legal menjawabnya dengan sederhana, bahwa seniman jalanan itu baiknya berbagi pengetahuan dengan masyarakat, berinteraksi dengan semua kalangan, menguraikan gagasan yang sederhana untuk mengingatkan semua orang bahwa kita punya budaya dan identitas sendiri.

Sekarang bukan jamannya lagi melakukan praktik hit and run dilakukan oleh seniman jalanan. Kemudian, Media Legal menguraikan reposisi dirinya dan ruang publik secara lebih konseptual,

“Jalanan adalah pembuluh darah di sebuah wilayah. Katakanlah sebuah kota. Di sana terjadi peredaran berbagai hal, mulai dari ekonomi, kemacetan lalu-lintas, perubahan dan pembangunan kota yang berdampak pada situasi sosialnya, hingga perdebatan peraturan yang kontroversial di wilayah itu. Ia (jalanan) merekam jejak kekerasan dan perebutan kekuasaan di ruang publik. Jalanan dalam konteks ini, menjadi objek (sekaligus subjek) langsung dari proses perubahan yang terjadi. Ia menjadi wajah dari sebuah masa, sebuah periode, atau bahkan sebentuk rezim,” kata Media Legal.

Isrol masih kerasan berkarya di tembok ketimbang bermigrasi ke atas kanvas. Mural di atas kanvas dianggap kurang memiliki ruh oleh Isrol. Tetapi, Isrol memiliki ‘mainan baru’, yaitu found object (benda temuan).

BETA (2017). 19 cm x 31 cm. Spray paint on betamax. Pemuda rantau mengkomunikasikan kabar dirinya kepada keluarga dirumah, soal bagaimana kabar dan juga pengalaman hidup yang jauh dari sanak saudara maupun orang tua.

Isrol menggunakan benda-benda temuan dari barang bekas pakai yang memiliki nilai historis tertentu sebagai media untuk memvisualkan gagasan artistiknya. Benda temuan itu bukan saja media untuk ‘menggambar’. Benda temuan dan gambar yang dipilih untuk menjadi satu kesatuan karya yang utuh itu merupakan sebuah harmoni artistik yang apik.

Isrol menggunakan kertas untuk membangun pattern, dan cat semprot untuk memberi warna di atas bidang-bidang kayu, lembaran logam atau rolling-door bekas yang sudah dipotong-potong, bahkan ‘lukisan bekas’.

 

“Praktik seni yang saya kerjakan saat ini, mendaur-ulang benda-benda bekas pakai sepert papan nama dari seng, rollingdoor, dan juga kayu. Material yang kerap dijumpai di jalan. Material keras yang memiliki nilai histori, peran dan fungsi di ruang asalnya itulah yang saya jadikan medium berkarya,” kata Media Legal di Yogyakarta.

Isrol yang sibuk blusukan di ruang-ruang alternatif di Jakarta itu pindah ke Yogyakarta rupanya. Isrol sepertinya melakukan praktik seni yang tidak sekedar produktif di ranah visual setelah pindah ke Yogyakarta dan berkeluarga.

Ia melakukan riset-riset sederhana sebagai pendekatan objektif terhadap figur-figur yang menjadi kegelisahannya pada wajah budaya Indonesia di masa yang akan datang. Tidak hanya itu, Isrol kerap memberikan workshop kepada masyarakat untuk menggambar dengan teknik stensil atau cetak saring.

Walhasil, Isrol a.k.a. Media Legal memilih figur anak-anak yang jadi center-point di atas bidang benda temuannya. Pencapaian artistik di atas bidang gambar yang tak sebesar tembok itu makin apik dan kuat menyampaikan pesan-pesan propaganda tentang kearifan lokal, dengan muatan pendidikan budaya setempat untuk generasi muda di wilayah riset sosialnya.

Isrol menyajikan benda-benda yang pernah akrab dengan figur-figur anak di gambarnya. Penanda-penanda interaksi sosial kerap kali muncul pada karyanya. Isrol merindukan aktifivas sosial semacam itu melalui karya-karyanya. Dengan kata lain, isu-isu sosial memang dominan dalam garapan artistiknya.

Buah dari pengamatan atau riset sederhana mengenai budaya lokal di daerah setempat menjadi menegaskan kecenderungan Isrol dalam memilih isu-isu kritis; tentang semangat hidup dalam kebersamaan yang mulai terkikis oleh kehadiran smartphone, isu lingkungan seperti sampah, dan persoalan perilaku budaya urban yang salah asuh.

Figur anak-anak itu jadi memorabilia sekaligus pilihan bentuk artistik yang secara politis digarap Isrol dalam upaya membangun komunikasi kultural dengan masyarakatnya. Strategi artistik itu pun dirasa berhasil dalam upaya Isrol membuka ruang kesadaran kolektif mengenai hidup gotong-royong yang kreatif di jaman NOW.

“Perkembangan pola kerja pelaku street art/graffiti memberi perhatian pada faktor pergeseran berbagai kemungkinan di mana wilayah kontestasi ruang. Juga media di ranah praktik seni yang menerapkan gagasan ke berbagai media. Tak terkecuali ruang publik itu sendiri, bahkan media konvensional seperti kanvas, kertas, ataupun benda keseharian yang ditemui menjadi media berkaryanya,” ungkap Media Legal.

Seniman yang murah senyum dan terkesan selalu santai ini memiliki kegiatan yang cukup padat saat ini, terlebih sejak namanya masuk dalam artist list perhelatan akbar para seniman Graffiti dan Street Art dari seluruh dunia di Canggu, Bali, 2016 – Tropica Fest (Bali Street Art Festival), bersama Fintan Magee, Seth Globepainter, dan seniman internasional lainnya.

Pameran penting yang mengorbitkan namanya di publik seni mainstream pun dilakoninya melalui pameran “OFF THE WALL” di Art Stage Jakarta 2017 oleh ALLCAPSSTORE Art Gallery. Hingga saat ini Isrol a.k.a. Media Legal sudah mempersembahkan tiga pameran tunggalnya di Jakarta dan Yogyakarta, serta puluhan pameran bersama sejak tahun 2007. Isrol T. a.k.a. Media Legal baru saja merampungkan Mural Project #4 di RedBase Foundation, Yogyakarta. []

🚬 @medialegal_ @redbaseart @wedharpj . . ☕ @anjanayenggita

A post shared by Alan Mahirma Lars (@alanmahirmalars) on

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *