Festival, Seni, dan Pemberdayaan Festival Payung Indonesia

Arahman Ali*

Festival Payung Indonesia (FPI) 2017 sudah usai diselenggarakan di Pura Mangkunegaran, Solo (15-17 September 2017). Festival yang dinilai sebagai salah satu dari 100 festival terbaik di Indonesia ini sudah terselenggara 4 tahun berturut-turut.

Festival multi event yang menghadirkan creator payung, musik, senirupa, fotografi, sejarah, tari, fashion dan kuliner dalam formasi keberagaman nusantara.

Festival yang tidak hanya merayakan karya seniman tetapi juga merayakan setiap individu yang hadir untuk mengaktualisasi diri dan memikirkan ulang industri kreatifnya.

Festival Payung Indonesia yang dimulai sejak 2014 ini memang diniatkan untuk mendorong pertumbuhan perajin payung tradisional dan melestarikan payung tradisi Indonesia, sekaligus memposisikan payung sebagai inspirasi karya.

FPI diselenggarakan oleh Mataya Arts & Heritage dengan dukungan berbagai pihak.

Gagasan FPI bermula dari kegelisahan perajin payung Juwiring (Klaten) atas sepinya pesanan payung tradisional. Bermula dari kegelisahan perajin payung ini kemudian festival merambah ke bidang industry kreatif lainya: pertunjukan, fotografi, fashion, karya rupa hingga wisata budaya. Payung pun menjadi titik tolak untuk karya kreatif lainnya.

Mbah Rasimun, salah seorang pengrajin payung tradisional Solo saat mengikuti Festival Payung Indonesia 2017. FOTO : AGUNG PRIYO WIBOWO

FPI 2017 ini mengusung tema Sepayung Indonesia dengan maksud untuk membuka dialog budaya berbagai tradisi yang berada di Indonesia. Sebuah penanda bahwa kebhinnekaan Indonesia merupakan potensi penting untuk memajukan bangsa dan negara Indonesia.

Dalam pengertian lain, FPI 2017 tidak hanya menempatkan diri sebagai event Jawa Tengah saja tetapi sekaligus menjadi bagian utama dari perubahan sosial di Indonesia. FPI 2017 memposisikan diri sebagai sentra strategis industri kreatif di Indonesia.

Tidak heran kemudian ratusan partisipan dari luar Solo berdatangan untuk memeriahkan festival ini. Partisipan Banyumas, Malang, Klaten, Sumba, Bandung, Jakarta, Denpasar, Riau, Makassar, Chiangmai (Thailand) dan lainnya terlibat langsung untuk kemeriahan festival tahunan ini.

Soal pendanaan, ketergantungan terhadap pendanaan pemerintah bukanlah persoalan untuk penyelenggaraan festival. Event dapat bermula dari inisiatif komunitas tanpa harus menunggu dukungan pihak pemerintah dan swasta. Empat tahun penyelenggaraan FPI berpijak dari keras kepalanya penyelenggara yakni Mataya Arts & Heritage.

Memang, festival butuh dukungan financial dari swasta maupun pemerintah. Namun dukungan tersebut bukan segalanya. Inisiatif dari komunitas, seniman dan masyarakat pendukung itu sendiri yang utama. Dukungan dana dari pemerintah dan swasta dapat diterima dengan tangan terbuka namun bukan berarti yang utama. Berbagai festival yang mengandalkan dana pemerintah terbukti susah bertahan, tumbang ketika kran dana dihentikan. Festival mudah bubar ketika dilihat sebagai proyek.

Seni dan Aksi PemberdayaanSeni tak harus berdiri dalam ruang privat namun dapat bermain pula dalam ruang bisnis. Seni tak harus berada dalam area personal namun dapat pula terlibat dalam pemberdayaan ekonomi pengrajin.Seni tak harus untuk seni!

FPI ini merupakan model yang dapat dipelajari, bagaimana seni berkaitan dengan aksi pemberdayaan ekonomi rakyat. Peristiwa seni tidak sekadar hadir sebagai seni tokh, melainkan ikut juga mempromosikan kerajinan rakyat. Dalam peristiwa seni seperti ini, batas antara high art dan low art menjadi kabur, tercampurbaur. Kriya dan seni murni berjalan seiiring, berbarengan.

Hal lain yang penting diperhatikan dalam penyelenggaraan festival yakni pengunjung. Pengunjung milineal berbeda sekali dengan pengunjung yang kita persepsikan selama ini.Mereka datang bukan hanya untuk menonton tetapi juga ingin ditonton. Eksistensi aku dan kamu berbarengan hadir ke ruang publik. Buktinya banyak sekali fotodan video personal di lokasi festival di media sosial.

FPI 2017 dengan tagar #festivalpayung mencapai 13 ribu lebih kiriman publik. Artinya pengunjung milineal tidak hadir sebagai obyek pasif namun juga subyek yang aktif. Mereka hanya menonton apa yang disukai dan menarik perhatiannya. Hal yang tidak dianggap penting dapat dilewati begitu saja, sekadar lewat. Aspek visual, kenyamanan dan keakraban menjadi penting bagi generasi milineal. Penyelenggara festival perlu belajar soal manajemen penonton.Generasi medsos berbeda sekali dengan generasi tangan terkepal.

Memang kerumunan pengunjung bukan indikator utama keberhasilan sebuah festival tapi penting. Kerumunan pengunjung penting untuk promosi. Bisa dihitung, satu postingan foto di instagram dilihat oleh minimal lima orang temannya, berarti ada sekitar 65ribu orang yang memperhatikan event tersebut. Aksi yang bagus sebagai promosi event, sekaligus bagus untuk branding seniman dan pengrajin.Aksi generasi milenial yang menyenangkan sekaligus berdampak luas.

Penyelenggara festival dan seniman sering abai soal apresiator. Kegiatan diselenggarakan sesuai nawaitu sang creator tanpa memperhatikan sudut pandang apresiator.  Mari berpikir ulang soal apresiator, apalagi di hadapan generasi milinial ini. []

* Arahman Ali, aktif di Aliansi Indonesia Festival (ALIF) Jakarta.

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *