Ketika Perempuan Korban Kekerasan Bangkit dari Keterpurukan The Raped Love karya Nia Gautama

Ketika seorang perempuan bangkit dari keterpurukan, itulah saatnya kita mengalami gempa bumi dan angin badai. 

Nia Gautama, mempresentasikan karya “The Raped Love” tahun 2016. FOTO: Dokumentasi Nia Gautama

Kisah terpuruknya perempuan, yang mengalami kekerasan seksual, dilecehkan, juga persoalan ditinggalkan karena kehamilan, menjadi titik masuk Nia Gautama untuk mengungkap proses perempuan merebut kepercayaan dan harga diri mereka.

Kisah-kisah itu terungkap dalam karya instalasi media dan peformans interaktif Nia Gautama bertajuk “The Raped Love” yang dipresentasikan di A.P.A Space, Jakarta, pada tahun 2016.

Ada banyak perempuan masuk ke dalam karya itu. Ke dalam ruang yang mirip dengan liang vagina. Karya itu pun diposisikan tersudut. Seperti situasi perempuan, selalu tersudut meskipun sebenarnya adalah korban. Lalu para audiens menuliskan pengalaman atau kesaksian di atas kain, tepatnya di dalam ruang sempit itu. Simbolisasi ini begitu terasa ngilu.

Sejatinya, ruang sempit yang penuh berbagai kisah dan perasaan itu selalu milik perempuan.

“Sejak aku berani mengungkapkan luka masa laluku, aku menjadi semakin berani, percaya diri, dan paham bahwa kesalahan bukanlah ada padaku, namun memang ‘pelaku’lah yang bejat,” ungkap Nia Gautama.

Nia pun menyuguhkan sebuah “jantung” yang tertancap gunting. Dia memegang jantung itu dengan mengenakan kain yang melilit tubuhnya. Pilihan jantung, gunting, juga dirinya itu bukan sekadar mewakili ungkapan”sakitnya tuh di sini”, tapi entah bagaimana menuliskan atau mencoba masuk ke “kedalaman” pengalaman itu. Tentu lebih.

Audiens merespon dengan menuliskan pikiran dan perasaan mereka di atas sehelai kain. FOTO: Dokumentasi Nia Gautama

“Dalam wawancara, saya mendengarkan cerita tentang kekerasan dalam rumah tangga dan perselingkuhan, tentang pasangan yang pergi tanpa alasan, dan siapa yang melonggarkan tanggung jawab mereka ketika anak-anak sakit,” tulis perupa yang banyak berkarya dengan keramik ini.

Perempuan-perempuan itu, kata Nia, mengalami kekerasan dari orang yang mereka cintai.

Lebih lanjut Nia menjelaskan pengalaman mengerikan ini terjadi pada wanita dari semua latar belakang sosial – wanita berpendidikan, intelektual, dan dari strata sosial yang lebih rendah.

“Saya menemukan bahwa cerita-cerita ini saling berbagi, karena wanita semua mengalami kepahitan yang sama; Ini bukan tentang rasa sakit fisik, tapi juga siksaan emosional dan trauma jangka panjang yang mendalam, dan perjuangan panjang mereka untuk pulih dari rasa sakit itu, untuk mendapatkan kembali kepercayaan diri dan harga diri mereka,” ungkap seniman yang meraih Master of Fine Art Degree di Fakultas Seni Rupa dan Desain  Institut Teknologi Bandung, tahun 2016.

Sejak berhasil menggelar pameran tunggal di Bentara Budaya Jakarta tahun 2008,”Saat itu aku merasa berharga,” ungkap Nia.

Karya “The Raped Love” dengan demikian berhasil menyentak kita atas semua tragedi yang dialami perempuan. Dengan keterlibatan audiens, gempa dan badai itu baru sedikit saja  kita rasakan. Jauh di kedalaman perempuan-perempuan korban, entah bagaimana goncangan itu sebenarnya.[]

Mengenal Nia Gautama :
1. Biografi
2. Youtube 

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *