Wajah Wajah ‘Temuan’ Yang Bergejolak Review karya Nandanggawe

Nandanggawe, “Ndankenstein series” (2017. 80 cm x 60 cm, paper collage. FOTO: Nandanggawe.

Nandanggawe saat ini sedang terpikat lagi pada gagasan kolase wajah-wajah ‘anomali sejarah’ pada karya-karyanya. Wajah-wajah yang berbicara dan bersejajar dengan laku-tubuh manusia kontemporer yang diambil dari lembaran-lembaran majalah. Sekumpulan desain bahasa rupa pada kertas yang berjejak di alam fikiran seniman dengan narasi-narasi kecilnya.

Laiknya sebuah kuasa rupa yang menorehkan makna kesunyian di tengah hiruk pikuk produksi bahasa rupa di media sosial, fenomena itu jadi representasi kesunyian senimannya di sudut kota. Kolase wajah-wajah itu juga serupa nilai artistik yang selalu bergerak, meliuk-liuk, mengaliri sungai-sungai birahi di dalam bentangan sejarah peradaban manusia yang selalu diinterupsi oleh kuasa rupa. Nandanggawe menyatakan sikapnya melalui teks-teks yang berkelindan dari halaman-halaman majalah.

 

“Majalah adalah salah satu artefak paling kongkrit dari budaya populer (industri media kapital corong penggerak budaya massa),” kata Nandanggawe.

 

Karyanya yang berjudul  The series of Ndankenstein (2017) di atas serupa upaya seniman mengamati fenomena narsisme keseharian manusia-manusia urban di dunia yang-tak-nyata. Seniman mengulas karakter manusia jaman NOW dari serpihan sifat-sifat temporal jadikan monumen wajah dalam sirkus kebudayaan kontemporer – yang plastis, elastis dan eksotis – dibingkai seduction of visual dari akar budaya campuran.

 

Nandanggawe, “The other face of Ndankenstein” (2017). 100 x 85 cm, paper collage. FOTO: Nandanggawe.

Karya kolase Nandanggawe yang terangkai dalam konsep estetika perversi dan tema Sirkus ini diamini sebagai bagian dari fenomena sosial yang mengganggu alam pikiran dan batin senimannya.

Nandanggawe menjelaskan bahwa kehadiran karya itu merupakan gejala perversitas/abnormalitas dalam gaya hidup dan laku tubuh masa kini membentuk tubuh-tubuh (wajah) anomali, akibat dari terjadinya budaya hibrid-eklektik.

Senada dengan konsep kolase Robert Rauschenberg, kolase-kolase Nandanggawe memang berupaya melepaskan diri dari batasan-batasan komposisi bidang dua dimensi.

“Bersandar juga pada konsep ready-made atau found object. Menggambar di atas citra gambar yg telah ada, sehingga membentuk citra gambar yang baru bahkan asing,” kata Nandanggawe.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *