Ribuan Penikmat Seni Tonton Biennale Jogja XIV

Biennale Jogja XIV sudah dibuka secara resmi oleh para pejabat publik pada tanggal 2 November 2017. Acara pembukaan itu menampilkan 27 seniman Indonesia dan 12 seniman Brasil dalam atmosfer kesenian yang akrab di Jogja National Museum, kota Yogyakarta.

Belasan ribu pengunjung berhasil diserap oleh serangkaian kegiatan Biennale Jogja XIV sampai saat ini. Dodo Hartoko, Direktur BJ XIV menyatakan bahwa, publik Jogja seperti yang saya percayai masih antusias untuk hadir di pembukaan dan pameran Biennale Jogja XIV, beserta program Parallel Events, Festival Equator dan Biennale Forum hingga saat ini bisa tembus lebih 14.000 pengunjung dalam kurun waktu 10 hari dan masih berlangsung sampai tanggal 10 Desember 2017, bukanlah angka kecil untuk sebuah perhelatan seni rupa. Ada yang jauh lebih penting lagi, Biennale Jogja XIV menjadi ruang dialog gagasan yang semakin luas melibatkan publik. Biennale Jogja XIV semacam payung menjadikannya pertukaran pengalaman dan kemungkinan-kemungkinan baru yang muncul dan tentu tantangannya semakin besar, di situlah asyiknya.

dr. Oei Hong Djien (OHD Museum), Drs. Diah Tutuko Suryandaru (Kepala Taman Budaya Yogyakarta), Mr. Rubem Antonio Corrêa Barbosa (Duta Besar Negara Brasil untuk Indonesia), dll. (Dok. BJ XIV)

Setelah serangkaian intervensi publik yang menjadi bagian dari Festival Equator dengan tajuk “Organizing Chaos” dijalankan secara diam-diam dan subversif di seluruh penjuru kota (Yogyakarta dan sekitarnya –red), kini kami merefleksikan dan memikirkan apa yang tengah terjadi di lingkungan sosial ini. Intervensi tersebut telah mengundang sejumlah reaksi dari ruang publik, yang merujuk pada sebuah kenyataan terkini, bahwa orang-orang merasa lelah berdebat dan berada di antara konflik. Sementara itu, pada waktu bersamaan, sebagian pertunjukan tersebut telah membuktikan bahwa kerja keras, kesabaran, dan konsistensi adalah hal-hal yang tetap dipegang teguh oleh warga Yogyakarta.

Menanggapi organizing chaos ini, pembukaan Biennale Jogja XIV mengundang audiens untuk turut serta terlibat dalam Stage of Hopelessness di mana perjumpaan dengan aspek-aspek penting dari realitas kita dimaksudkan untuk menuntun kita bersama menuju AGE OF HOPE dan bersama-sama melihat masa depan dengan positif. “Ketika kita berhenti berharap, maka artinya kita sendirilah harapan itu,” ujar Pius Sigit, Kurator BJ XIV. Hal inilah yang Pius harapkan akan dirasakan oleh para pengunjung yang mendatangi lokasi pameran.

Bersama 39 seniman yang memamerkan karya-karya terbaru mereka, pameran ini bertujuan untuk mengaduk-aduk perasaan kita yang paling mendasar dan membawa kita pada pengalaman indrawi berdurasi 60 menit melalui 7 tahap narasi yang terjadi dalam hidup keseharian kita: Penyangkalan atas Kenyataan, Kemarahan pada Keadaan, Keputusasaan atas Kehilangan, Kepasrahan dalam Ketiadaan, Penghiburan atas Kehilangan, Kesadaran pada Keadaan, dan Penerimaan atas Kenyataan. Tiap-tiap seniman akan mengemukakan pesan-pesan penting dalam upaya mereka membaca realitas kita dengan cara yang tulus dan jujur.

Arin Dwihartanto Sunaryo (Bandung) menanggapi tahap Penyangkalan atas Kenyataan dengan mengubah proses artistiknya untuk menghasilkan karya yang terdistorsi dan labil sebagai upaya untuk keluar dari zona nyaman. Karya terbarunya untuk Biennale merupakan refleksi atas statusnya sebagai seorang seniman mapan yang ingin mendekonstruksi dan mengganggu posisi tersebut dengan cara mengubah hasil karyanya sehingga jauh berbeda dari biasanya.

“The Trilogy” karya Cinthia Marcella dan Tiago Mata Machado

Dalam tahap Kemarahan pada Keadaan, karya Cinthia Marcelle dan Tiago Mata Machado (Brasil) yang berjudul The Trilogy menjadi satu karya dahsyat yang dibawa ke Indonesia setelah dipamerkan di Venice Biennale. Karya itu berupa tiga video dokumenter yang menggambarkan realitas Brasil, kekerasan agung dari anarki dan daya revolusioner yang mencerminkan realitas politik negara tersebut.

Karya Mulyana (Yogyakarta), di lantai dua Jogja National Museum, membawa audiens memasuki sebuah perjalanan interaktif dari satu sisi gedung ke sisi yang lain. Karya ini bergelut dengan gagasan tentang pilihan ganda yang kita miliki dalam kaitannya dengan harapan—sebagai sekadar gagasan atau mewujudkannya jadi kenyataan. Perjalanan ini hendak membawa kita lebih dekat pada ide dan realitas tentang harapan, dan secara fisik menuntun pengunjung ke lantai tiga yang memamerkan karya para seniman yang menindaklanjuti tahapan Kesadaran pada Keadaan dan Penerimaan atas Kenyataan.

“Saya pengen ngajak orang untuk berfikir bagaimana melihat, menghadapi dan menyikapi rasa takut. Melihat warna atau ruang dengan perspektif yang berbeda,” kata Mulyana

Daniel Lie, seniman Brasil keturunan Indonesia yang melakukan residensi di Yogyakarta, melangsungkan pertunjukan selama tiga jam di depan pohon beringin di pintu masuk museum. Ia akan membagikan buah dan mengumpulkan titik-titik keringatnya sendiri ke dalam mangkuk keramik yang akan dibawanya ke ruang pameran dia yang terletak di lantai tiga. Selayaknya sebuah prosesi ritual, karya ini mencerminkan keterhubungan kita dengan alam dan kembali pada leluhur, identitas, dan diri; prosesi ini melambangkan proses regenerasi dan kelahiran kembali.

“Saya sendiri akan membawa kekuatan dari sebuah tindakan yang sangat intim, dan kemungkinan saya akan sangat emosional dalam situasi dimana saya perlu sangat berkonsentrasi seperti gestur memberi. Nangka dan seluruh ritual mengkupas dan memberi adalah sesuatu yang saya meliat di ayah saya sejak masa kecil. Bagi saya, performans ini bergerak dari kesederhanaan ke sesuatu yang lebih dalam”, ujar Daniel.

Pertanyaan publik senirupa mengenai pilihan seniman-seniman dalam kegiatan Biennale Jogja XIV kali ini memiliki alasan kuat seiring dengan perkembangan praktik seni di Indonesia, juga praktik seniman-seniman di dunia. Praktik seniman dalam mengolah gagasan dan pilihan media hari ini menegaskan sebuah pemahaman ‘baru’ bahwa seniman terhadap dunia seni saat ini sudah jauh berkembang dari teori-teori seni yang dianggap usang.

Foto: Dokumentasi Panitia Biennale Jogja XIV

“Seniman Biennale Jogja kali ini adalah mereka yang aktif dengan pameran tunggal dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini, keragaman media, metode dan cara berpikir menjadi alasan pemilihan karya. Untuk karya-karya mereka dalam Biennale kali ini, mereka menggali momen-momen traumatik yang mereka rasakan akhir-akhir ini. Harapannya supaya pengunjung dapat menemukan ‘harapan’ dari momen-momen traumatik yang terjadi,” pungkas Sigit Pius Kuncoro, Kurator BJ XIV, di Yogyakarta.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *