Animasi dan Pengalaman Artistik Seong Ae Park di Bandung

‘Dadah / That I can never see you anymore’

“One morning I was captivated by this sentence. Now I know neither my father nor my friend would ever come back to me. I disappear (leave) from here now. I could never see you again.”

Selfie Photo Seong Ae Park di depan footage video animasi “Dadah”, 15 cm × 15 cm x 14 lembar), air kopi di atas kertas.

Kata ‘Dadah’ yang artinya sampai jumpa atau selamat tinggal bagi Park menarik dalam dua hal, pertama pelafalan kata itu terkesan lucu dan akrab bila didengar. Kedua, ‘Dadah’ seperti ungkapan kata itu yang memiliki nilai simbolik.

Kemudian, ‘Dadah’ mengendap dalam benak Park ketika mengamati orang-orang baru di sekitarnya (kota Bandung) berinteraksi satu sama lain di berbagai tempat.

Akhirnya kata itu juga terhubung pada sebuah peristiwa di mana terjadi suatu pertemuan yang akan berjumpa pula dengan perpisahan.

Seong Ae Park menyajikan dua karya video animasi berjudul Dadah #1 dengan durasi 00.01.38 (stopmition drawing menggunakan material pigmen dari buah naga) dan video animasi Dadah #2 berdurasi 00.01.38 (rekaman video jalan-jalan di kawasan Dago, Bandung, beserta drawingnya) di dalam ruangan pajang Ruang Gerilya.

Instalasi video animasi berjudul “Dadah #1-2” di Ruang Gerilya, Bandung.

Seniman asal Korea Selatan yang banyak menggunakan animasi sebagai medium utama, selain drawing dan lukisan, cukup terpikat dengan medan sosial dan medan seni di kota Bandung. Dia mengatakan suatu saat akan kembali ke kota Bandung untuk berkarya. Karyanya dalam pameran ini merupakan temuan sekaligus upaya kultural Park dalam berinteraksi dengan kota.

“Karyanya semacam visual diary. Tangkapan visual yang dia lihat selama dia jalan-jalan, bentuk-bentuk visual dari buah-buahan yang dia makan, dan lain sebagainya. Kemudian pembahasan yang dia angkat juga mengenai perpisahan dengan orang-orang, kerabat, juga tempat-tempat yang pernah dia jumpai, juga bagaimana akhirnya dia bisa menerima perpisahan,” jelas Christine, manager GARP, di Ruang Gerilya, Jalan Raden Patah no.12, kota Bandung.

Park juga menyajikan beberapa artefak yang muncul dari proses kekaryaannya selama melakukan AiR program di Bandung. Artefak-artefak itu berupa drawing di atas kertas menggunakan material arang dan air kopi. Bentuk dan benda-benda yang muncul merupakan buah eksplorasi Park dalam menggunakan material selain watercolor. Park menggunakan pigmen buah naga.

“Cofee Drawing” (2017). 90 cm x 100 cm, air kopi di atas kertas.

Park, dalam rekaman video yang isinya menjelaskan proses kreatif dia selama melakukan AiR (Artist in Residence) program, menyatakan bahwa objek pertama yang membuat dia takjub adalah banyak sepeda motor, orang-orang dan pepohonan. Pernyataan yang muncul dari bingkai layar laptop itu menunjukkan bagaimana cara pandang Park dalam melihat dan mengamati situasi di kota Bandung.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *