Display Method pada Karya Senirupa Jaman NOW Menengok Display karya Jompet Kuswidananto, Angki Purbandono, Agus Suwage dan Mulyana

Pameran tunggal Jompet Kuswidananto, “On Paradise”, di Mac’s Grand-Hornu, Belgium. 22 oktober 2017- 14 Januari 2018. Foto: Andry William

Display karya senirupa itu sangat penting, bukan soal kemasan pameran atau cara penyajiannya yang terkait dengan gagasan senimannya saja, atau wacana yang diimbuhkan oleh kurator.

Saya amati setiap pameran senirupa yang saya anggap penting dan saya nilai menawarkan suatu kebaruan entah dari kekuatan karya secara visual atau isu yang dibagi kepada publik pecinta senirupa. Presentasi gagasan seniman melalui karya senirupa sekaligus representasi pentingnya posisi seniman atau perupa dalam sejarah praktik seni.

Perkara ini sangat penting dalam upaya mengundang publik senirupa yang baru, khususnya, publik senirupa jaman NOW. Karya new media art termasuk instalasi seni, digital art, dan karya-karya hibrid meskipun dari material senirupa tradisional (lukisan dan patung) penting untuk disajikan sesuai dengan jamannya. Hal ini terkait dengan cara mengapresiasi karya-karya seni rupa oleh publik senirupa jaman NOW.

The fact that art is made by a historically positioned (and therefore biographically unique) maker cannot be denied, except at the cost of losing what makes art special: its mediation through an experiencing, living subject. At the moment of completion, however, the subjective component of making becomes an objective property of the work, a property that distinguishes it from everything else that professes itself to be ideal, universal, or objectively true [baca: Sean Cubitt, “Aesthetics of the Digital” dalam Christiane Paul, ed., (2016). “A Companion to Digital Art“, halaman 270].

Penyajian karya terkait dengan metoda apa yang ditawarkan kepada publik pecinta seni dalam mengapresiasi karya yang dimaksud. Hal ini juga berhubungan dengan pengalaman estetik seperti apa yang hendak ditawarkan oleh seniman melalui karya seni di ruang pajang

Catatan Julian Stallabrass, Elite Art in an Age of Populism, dalam “Contemporary art : 1989 to the present” [Alexander Dumbadze and Suzanne Hudson (Ed.) 2013. Halaman 39], menjelaskan bagaimana karya seorang seniman dapat merasuki memori para pecinta seni pada mulanya adalah penyajian karya yang selalu diingat oleh publik pecinta seni yang luas, termasuk para selebritas dalam pasar senirupa jaman NOW. Kemudian bagaimana informasi mengenai penyajian karya yang mengagumkan itu tersebarluaskan melalui jejaring media sosial.

Pameran tunggal fotografi seni karya Angki Purbandono di Mizuma Gallery, Singapore, 2017. Foto: Angki Purbandono

Saya kira para publik pecinta seni, milenials, memahami betul bagaimana sebuah karya yang dikonsumsi secara visual dan disebarkan secara global melalui Instagram dapat menjadi tolok-ukur seberapa menarik karya seni itu. Sebuah cara mengapresiasi karya atas dasar impresi-impresi dan nilai takjub yang menjadi bagian dari pengalaman estetik penikmat senirupa.

Kita bisa membaca lagi bagaimana sebuah pameran-pameran karya site-specific mengeluarkan isu penting dari karya seorang seniman.

Saya meninjau kembali catatan Miwon Kwon (2001), One Place after Another: Site-specific Art and Locational Identity, di dalam Monica E. McTighe (2012), “Framed Spaces: Photography and Memory in Contemporary Installation Art“, yang menjelaskan, ketika karya site-specific terus digambarkan sebagai suatu reputasi atas orisinalitas dan otentisitas sebagaimana kualitas-kualitas yang ada di dalam objek seni (karya) atau senimannya.

Resistensi ini memberikan keleluasaan suatu penerjemahan dan pemindahan atas nilai kualitas-kualitas dari karya ke tempat karya itu disajikan.

Hanya untuk mengembalikan karya sudah menjadi keharusan bahwa karya dan ruang itu mesti jadi bagian yang tak terpisahkan. Kebalikkannya, jika kekhususan geografis, sejarah dan sosial dari apa yang ditawarkan oleh Charleston kepada seniman-seniman sebuah peluang yang unik untuk menciptakan karya (lebih jauh lagi, karya itu tidak bisa dipamerkan lagi di ruang yang lain). Maka, perlakuan karya site-specific di dalam sebuah pameran seperti TEMPAT dengan sebuah MASA LALU yang digunakan dalam seni rupa untuk mempromosikan Charleston sebagai sebuah tempat yang unik.

Karya Mulyana di Jogja National Museum, Yogyakarta, 2017. Foto: Mulyana

Demikian, karya senirupa itu menjadi penting untuk diapresiasi dan dikoleksi bukan sekedar mengisi dinding rumah atau apartement yang kosong. Tetapi, bagaimana karya senirupa itu diperlakukan secara otonom menurut kaidah yang otonom juga sebagai bagian dari senirupa jaman Now.

Kita bisa perhatikan karya-karya Jompet Kuswidananto yang selalu terkait dengan ruang, waktu dan sejarah gagasan itu dieksplorasi oleh seniman.

Juga karya-karya fotografi seni yang paling anyar dari Angki Purbandono yang melepaskan diri donimasi dinding ruangan. Fotografi seni karya Angki Purbandono sudah sangat memperhatikan display karya yang ‘mendekati publik’ atau sifat pro-aktif. Demikian juga pada karya-karya Mulyana di galeri dan museum. Karya Mulyana dengan kecenderungan site-specific art jelas mempertimbangkan display method dalam setiap presentasi karyanya.

Seniman keren yang juga tinggal di Yogyakarta adalah Agus Suwage. Seniman lulusan FSRD-ITB yang tersohor ini memang dikenal sudah mahir memanfaatkan beragam medium pada karya-karya dua dimensi maupun obyek-instalasi seni di sepanjang karirnya. Bagi Agus Suwage, presentasi karya sangat penting untuk memancing komunikasi publik dan karyanya. Display method adalah perkara urgent baginya.

Karya Agus Suwage di Jogja Nasional Museum, Yogyakarta, 2017.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

2 Comments on “Display Method pada Karya Senirupa Jaman NOW Menengok Display karya Jompet Kuswidananto, Angki Purbandono, Agus Suwage dan Mulyana

  1. Perkenalkan, saya Yonaz dari kolektif RAR Editions, kolektif yang berfokus pada desain, kajian arsip, dan self-publishing yang berbasis di kota Yogyakarta. Bersamaan dengan pesan ini kami bermaksud untuk meminta izin terkait dengan penggunaan foto karya Jompet Kuswidananto, Shadow Play, 2017.
    Foto ini rencananya akan kami gunakan dalam projek kami, kwartet sejarah seni rupa Indonesia yang merupakan apropriasi bentuk dari projek kwartet oleh Marijke Appelman dan Koen Taselaar dari Team Thursday (Belanda).
    Namun demikian, projek ini memang dimaksudkan sebagai projek komersial. Dana yang didapatkan akan digunakan untuk kegiatan kolektif kami ke depannya.
    Jika diizinkan, kami harapkan dari pihak Artspace.id untuk mengajukan ketentuan-ketentuan dalam penggunaan foto-foto tersebut.

    Atas perhatian Anda kami ucapkan terima kasih.

    1. Terima kasih telah membaca artikel yang ditulis oleh Kurator artspace Indonesia.

      Kami, redaksi, mempersilakan penggunaan foto yang bersumber dari artikel ini dengan syarat menyertakan nama fotografer dalam credit foto yang akan anda publish serta menyertakan alamat html artikel ini.

      Kami juga menyarankan agar anda menghubungi mas Jompet untuk perolehan izin publish dari pihak kedua (seniman). Demikian tanggapan dari Redaksi artspace Indonesia atas permintaan anda.

      Salam,
      Redaksi artspace Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *