Mengunggah Realita Sosial Dalam Lukisan Realisme Review Karya Lingga Ami Lisdianto

“Pembungkam Cerita” (2016), 100cm x 80cm, cat minyak pada kanvas.

Lukisan-lukisan Lingga Ami Lisdianto nampak seperti karya fotografi yang dicetak langsung di atas kanvas. Faktanya, Ami – salah satu pelukis realis tamatan ISI Yogyakarta – bukan perupa yang bersentuhan dengan piranti cetak digital, ia mengerjakan karyanya dengan kekuatan cat minyak  dan sapuan kuas.

Ia memilih lukisan realis karena ada tantangan tersendiri dalam menyajikan persoalan sosial yang diteropong melalui sudut pandang estetika pada karya dua dimensional.

Ami memandang lukisan realisme sebagai medium ungkap dalam menyampaikan kritik-kritik sosial terhadap fenoeman keseharian, khususnya, generasi muda yang terjangkau oleh Ami sendiri dalam proses interaksinya sebagai bagian dari riset atau amatan personalnya.

Narasi non-verbal pada lukisan realis “Pembungkam Cerita” merupakan suatu refleksi dari rasa empati pelukis terhadap pengalaman seorang anak perempuan. Dia yang pernah melalui peristiwa-peristiwa pahit pada masa kanak-kanak, hingga mengganggu mentalnya. Gangguan mental masa kanak-kanaknya masih membekas hingga dia beranjak dewasa. Traumatis.

“Adalah normal untuk memiliki berbagai perasaan dan emosi setelah terjadi peristiwa traumatik. Mengalami rasa takut kecemasan, kesedihan, rasa bersalah, atau malu yang sangat,” kata Lingga Ami Lisdianto.

Luka yang tak terungkap tersurat dengan simbol kehadiran lakban hitam. Sebuah masa lalu yang kelam, yang tak tersentuh, dan tak diijinkan untuk dibuka hingga menjadi tabir kehidupan perempuan itu.

“Petanda suatu amarah yang terpendam direpresentasikan melalui warna kemerahan. Dilatarbelakangi oleh warna kehijauan, merah dan hijau memberi arti bertentangan/komplemen menjadikan konsep warna yang diaplikasikan ke dalam konteks tema,” ungkap Lisdianto.

Sampai di sini kita bisa membaca bahwa sebuah lukisan realis selalu memiliki alasan yang masuk akal, baik itu pilihan subjek, objek dan warna dalam konteks estetiknya. Terlebih lukisan karya Lisdianto tersebut di atas yang berupaya mengunggah fenomena keseharian di lingkungan sekitarnya.

“Larut” (2017), 140cm x 140cm, cat minyak pada kanvas.

Pada lukisan “Larut” (2017),  Kita bisa melihat wajah seorang anak laki-laki dengan wajah yang terefleksi oleh warna cahaya sebagai penanda aktifitas anak laki-laki itu menggunakan perangkat elektronik (paparan cahaya layar). Tanda ikonik “play” digunakan pelukis untuk penanda kehadiran budaya kontemporer –  aktifitas penggunaan perangkat digital yang selalu jumpai di mana-mana.

Lisdianto menjelaskan fenomena perkembangan teknologi digital yang telah membawa fantasi manusia menembus batas ruang dan waktu. Mereka menciptakan ruang-ruang tiga dimensi berikut obyek-obyek di dalamnya, sampai pada tahap di mana realitas visual telah dilampaui dengan manipulasi pencitraan. Sehingga manusia saat ini, menurut pelukis yang satu ini, berupaya melangkah dari dunia nyata menuju dunia fantasi – sebuah dunia maya yang nampak nyata.

“Pada saat teknologi memuaskan hasrat/nafsu, memberikan pesona ekstasi, maka nilai-nilai moral seakan rontok satu per satu khususnya pada seorang anak yang masih belum dapat memilah dampak baik dan buruk dalam pemanfaatan perangkat digital,” kata Lisdianto.

Peristiwa keseharian masyarakat marjinal di kota Bandung menjadi sorotan Lisdianto dalam membuat lukisan wajah anak-anak. Sebuah representasi dari realitas hari ini di luar isu kader partai politik dengan janji-janji super-manis-nya, isu agama dan kesenjangan sosial dan ekonomi.

Juga realitas sosial hari ini yang dirasa jadi makin semu dengan kehadiran aplikasi-aplikasi media sosial yang telah menggantikan interaksi sosial. []

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *