Uniknya Keseharian Manusia pada Lukisan Cucu Ruchyat

Morning Hug (2017). 200 cm x 130 cm, cat minyak di atas kanvas.

Cucu Ruchyat, pelukis dari Bandung ini sudah aktif mengikti pameran sejak tahun 1999. Pameran lain yang pernah diikuti, antara lain; 10 besar Indonesian/ASEAN Art Awards [Philip Morris Awards] (2003), Jakarta Art Awards (2006-10), ‘Inspiring Indonesian Contemporary Art’, Shanghai Art Fair (2007), “My World, Your World, Our World”, WENDT GALLERY – New York (2010). Bazaar Art Jakarta (2013 – 2017).

Cucu Ruchyat juga pernah memenangi lomba lukis UOB Painting of the Year 2013, katagori pelukis profesional dengan posisi ketiga. Tak heran bila nama Cucu Ruchyat sempat menjadi perbincangan para art dealer di berbagai kota.

Lukisan-lukisan figur yang digarapnya banyak mengusung tema-tema keseharian yang bersifat universal dan terkesan segar juga unik. Karakter lukisan Cucu Ruchyat hari ini tidak muncul tiba-tiba. Ia terpengaruh, sedikit banyak, dari karya-karya Picasso pada mulanya. Dari amatan artistik itu Cucu Ruchyat mulai mempertimbangkan bentuk sebagai subject-matter pada lukisan-lukisannya.

Ia mulai mengolah bahasa artistik yang sederhana namun memiliki daya pikat yang kuat secara visual sejak tahun 2002. Deformasi bentuk, kemudian, menjadi pilihannya untuk menetapkan pijakan artistiknya.

Symmetrical Ballet Position (2017). 180 cm x 180cm, cat minyak di atas kanvas.

“Saya berfikir dengan deformasi bentuk (khususnya manusia), selain saya dapat lebih leluasa menggoreskan kuas dan tidak terikat proporsi anatomi realis, juga merupakan simbol penggambaran manusia secara esensi di satu sisi, yaitu, MANUSIA ADALAH MAKHLUK YANG TIDAK SEMPURNA. Figur-figur manusia pada lukisan saya yang besar/gendut dan karikatural. Saya lebih suka menyebutnya dengan ‘KETIDAK SEMPURNAAN’. Tapi, bukan berarti orang yg gendut itu tidak sempurna karena saya tidak menggambarkan manusia yang gendut,” kata Cucu Ruchyat.

Menyoal warna-warna pada lukisannya, dia hadir dengan sederhana. Tidak ada ketertarikan secara khusus, pertimbangan estetiklah yang menjadi pilihan mengapa warna-warna itu hadir dan dirasa cocok dengan figur-figur pada lukisannya.

Pada imej lukisan-lukisan di bawah ini bisa disimak bagaimana pencapaian awal Cucu Ruchyat sebelum kemudian menggarap bahasa artistik yang hingga saat ini masih terus dieksplorasi sampai menemukan visual yang paling pas untuk dapat dinikmati oleh semua lapisan pecinta seni.

Lukisan-lukisan Cucu Ruchyat periode tahun 2002-03. Foto: Cucu Ruchyat.

Rupanya, pengalaman-pengalaman batin dari cerapan berbagai peristiwa hidup menjadi latar belakang pemilihan tema-tema pada lukisan-lukisannya. Cucu Ruchyat mengatakan, bahwa inspirasi karya-karyanya muncul dari kegiatan keseharian, dan di setiap karyanya berupaya menghadirkan bentuk-bentuk imajiner, khususnya manusia yang dideformasi pada ruang realis. Dengan maksud bahwa presentasi macam itu sebagai simbol keberadaan kehidupan yang tak terlepas dari ‘syariat’ dan ‘hakikat’”.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *