Merawat Lokalitas dalam Rajutan Senirupa Global Review Karya Tiarma Sirait

Penyajian karya-karya senirupa Indonesia selalu ditemukan nilai-nilai lokalitas di lingkup senirupa Global. Bentuk-bentuk rupa yang berakar pada budaya tradisional dijadikan rujukan estetika bagi seniman di ruang senirupa Global.

Wacana seni Global-Local dalam produksi bahasa artistik sudah bergulir pada awal milenium kedua dalam kerangka mengakomodasi perkembangan seni dari berbagai benua yang telah memiliki keberagaman akar budaya tradisional. Jean Baudrillard mengistilahkan ruang pertemuan kode-kode bahasa baru (karya seni) yang dapat dibaca akar budaya tradisionalnya sebagi ruang simulakra. Gerakan seni pasca-modern ini mengembangkan sistem politik bahasa seni modern yang lebih mutakhir dimana permainan bahasa dan kode laiknya passion para seniman.

Salah satu seniman perempuan yang konsisten dengan wacana dan metodologi serupa di Bandung adalah Tiarma Sirait. Seniman perempuan yang banyak mengolah bahasa artistik dengan material serat untuk membangun bahasa komunikasi simbolik di dalam perkembangan senirupa Global. Bagi Tiarma Sirait, identitas itu kadang dianggap urgent dalam dialog kebudayaan senirupa Global, di mana interaksi kultural menjadi bagian dari praktik seni yang melibatkan seniman-seniman dari berbagai latarbelakang geo-kultur.

Tiarma Sirait memang memilih untuk ‘sibuk’ membangun jaringan komunikasi seni di luar tanah airnya dengan kekhususan ekplorasi medium serta diskursus seni. Pilihan itu dianggap mudah sekaligus memiliki konsekuensi logis bagi Tiarma Sirait yang akrab dipanggil Ama, karena bermain di arena internasional bukan perkara mudah dalam menjalin interaksi artistik dengan budaya-budaya lain mesti dibarengi oleh posisi tawar kekuatan-kekuatan bahasa lokal.

“In Batik’s Kingdom & Pleasant Plantation” (2017). Acrylic on canvas.

 

Kekuatan bahasa lokal Ama pada karyanya kali ini lebih cenderung ekologis ketimbang menelisik peran teknologi mutkahir dalam perkembangan senirupa kontemporer. Ekosistem senirupa kontemporer hari ini banyak berkaitan dengan dengan persoalan-persoalan alam dimana kehadiran manusia-manusia kreatif menjadi pertanyaan kritis, bagaimana keseimbangan ekosistem alam dan kebudayaan dibangun secara lebih bijak.

Dampak eksploitasi alam di tengah suburnya pengembangan teknologi kreatif menjadi diskusi kritis dalam perkembangan senirupa kontemporer saat ini. Ama memilih Batik sebagai landasan estetik dalam diskusi tersebut. Karya “In Batik’s Kingdom & Pleasant Plantation” (2017) menunjukkan bagaimana Ama membangun dialog pola batik khas Jawa Barat dengan bentuk-bentuk yang lebih modern melalui komposisi bidang yang memuat kode-kode simbolik. Tumbuhan pada karya tersebut hadir sebagai struktur bahasa artistik yang disusun dengan nuansa ekologis dari pattern yang lazim ditemukan di dalam karya batik Garutan. Bahasa rupa itu membuka ingatan publik mengenai ekosistem di mana manusia hadir sebagai penguasa.

 

“A House Rhymes” (2017). Acrylic on canvas.

 

“Sebenarnya, saya hanya mengadopsi pola dasar karena saya merasa bahwa tugas saya sebagai seniman mengubahnya menjadi karya kontemporer yang bisa diapresiasi oleh masyarakat di seluruh benua, kata Tiarma Sirait di Bandung.

 

Pola (pattern) pada batik tradisional dapat dibaca laiknya susunan simbol yang menyatakan kandungan nilai-nilai budaya dan filsafat hidup masyarakatnya. Pola itu kemudian mendorong lahirnya sebuah gagasan artistik bagi Ama. Dia memandang pola atau bentuk itu sebagai subject-matter penting pada karyanya dalam konteks keseimbangan ekosistem. Lalu, Ama membangun bidang-bidang gambar dalam upayanya menyajikan nilai baru di atas bidang karya dwimatra menggunakan cat akrilik. Lukisan batik di ranah seni modern tidak banyak dikembangkan oleh seniman-seniman tradisi di tanah Jawa hingga saat ini.

Representing the Indonesia in an event hosted by the World Culture Artists Association, Inc.(WCAA) & Management of the International Creative Artists Association (ICAA) in the 24th Seoul International Art Festival “PEACE & LOVE” 2017 @the Chosunilbo Museum, Seoul – South Korea. FOTO: Tiarma Sirait

Ama justru memilih ‘ranah sunyi’ itu untuk membuka kesadaran praktisi seni bahwa budaya tradisional memungkinkan untuk hadir sebagai identitas baru yang telah dimodifikasi melalui sudut pandang baru pada karya-karya seni kontemporer. Karya “A House Rhymes” (2017) dapat dikatakan memiliki nilai estetik yang lebih paradoks, karena ikonografi yang berasal dari budaya pesisir (ikan) dan  budaya Jawa (pendhapa) berada di dalam ruang yang sama secara bersamaan. Karya inilah yang dikatakan oleh Jean baudrillard sebagai karya-karya postmodern art dimana presentasi Simulacra hadir pada karya seni.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *