Tubuh Perempuan Dalam Karya Agung Sukindra

Agung Sukindra yang dikenal sebagai fotografer profesional di kalangan seniman Yogyakarta – kini bermukim di Klaten, rupanya lulusan ASRI Yogyakarta angkatan tahun 1983. Ia memang lulusan seni lukis dari kampus seni yang didirikan oleh RJ Katamsi di Yogyakarta pada bulan Desember tahun 1949.

Pertemuan saya dengan Agung Sukindra di kota Yogyakarta beberapa tahun lalu menyisakan pertanyaan tentang potensi artistik Agung Sukindra pada karya dwimatra. Saya melihat ruang kreatif pribadinya, sebuah studio seniman dengan medium seni lukis, selain fotografi.

Agung Sukindra, “Meratapi Waktu” (2007). 110 cm x 140 cm, akrilik di atas kanvas. FOTO: Agung Sukindra, dan bluring by artspaceID.

Perbincangan kami sore itu mulai serius ketika membahas presentasi karya seni lukis dengan subject-matter pada tubuh perempuan yang disajikan dengan sederhana di atas bidang kanvas. Bagi Agung Sukindra, tubuh adalah entitas unik  yang menyimpan kesan misterius. Juga magma nilai-nilai humaniora di mata seniman sepanjang jaman.

Saya kira, praktik seni Agung Sukindra dapat disejajarkan dengan eksplorasi yang dilakukan Mochtar Apin di akhir karirnya sebagai seniman akademis di Bandung.  Mochtar Apin juga Agung Sukindra memilih tubuh-tubuh perempuan sebagai simbol religius di atas bidang kanvas.

Lalu, mengapa Agung Sukindra memilih seni lukis dengan kemampuan eksekusi karya karya fotografi?

Agung mengemukakan bahwa eksekusi karya dengan subject-matter yang serupa melalui karya fotografi sudah pernah dilakoninya. Tapi, Agung melihat pertimbangan etika budaya Timur yang membuatnya tidak bisa mengekspos karya itu pada bidang fotografi. Oleh karena itu, salah satunya, ia memilih teknik lukis sesuai dengan studinya semasa kuliah di ASRI.

“Seperti juga pada sastra kita dapat mengekspresikan sesuatu dengan kata-kata. Begitu juga dalam tari, bergerak dan diam pun bisa seolah berkata. Itulah yang saya tangkap sebagian dari pose-pose yang saya lukisankan melalui media kanvas. Alangkah indahnya kalau kita bisa berkata dan bergerak selaras dan indah apa yang dimiliki tubuh kita,” kata Agung Sukindra.

Karya Agung Sukindra berjudul “Meratapi Waktu” (2007), melalui goresan kuas dengan cat akrilik di atas bidang kanvas berukuran 110 cm x 140 cm, memiliki konteks yang berbeda bila saya deretkan dengan lukisan tubuh perempuan pada karya Mochtar Apin di tahun 1990-an.

Mochtar Apin merujuk pada wilayah keilmuan tentang seni lukis itu sendiri, yaitu soal warna dan pembidangan di ranah ekspresionis. Sementara Agung cenderung menangkap ruh di balik keindahan bentuk atau gesture subject-nya.

Namun keduanya sama-sama berupaya mengungkap nilai spiritual dari bentuk yang nampak kasat mata. Dua seniman ini juga dapat dikatakan menggunakan sudut pandang fotografis dalam menyajikan komposisi tubuh perempuan secara sederhana laiknya lukisan still-life, namun imbuhan artistik yang diperoleh pada proses melukis dua seniman inilah yang jadi pembeda pencapaian estetiknya.

“Tubuh perempuan dalam pandangan saya adalah sesuatu yang begitu indah, menarik, elok. Disadari atau tidak, tubuh kita banyak mengandung daya-daya atau energi yang menarik dan luar biasa, terutama bagi lawan jenis. Banyak hal kadang tak bisa kita jelaskan betapa ELOK-nya,” kata Agung Sukindra.

Lukisan di atas serupa penanda bahwa tubuh yang elok itu memiliki linimasa yang menerangkan perkara waktu atau jaman, bahwa keindahan pada bentuk dan nilai di dalamnya memiliki magma estetik yang abadi. Sekaligus sebuah pernyataan bahwa keindahan itu memiliki moment historis yang mesti digali, diendapkan, diekspos melalui bahasa artistik, seni lukis.

Agung Sukindra, “Nude 23” (2015). 110 cm x 140 cm, akrilik di atas kanvas. FOTO: Agung Sukindra, dan bluring by artspaceID.

Agung Sukindra menjelaskan bahwa riset yang dilakukannya terhadap tubuh-tubuh perempuan secara rinci diperoleh dari amatan visual dan karya-karya fotografinya.

Melalui gesture dan gerak tubuh yang dinilai sangat artistik, mempesona itu memicu munculnya imaji-imaji transenden yang kuat di luar kehadiran bentuk tubuh itu sendiri. Bagi Agung Sukindra, pose tubuh perempuan memiliki bahasa paradoks juga misterius.

Melalui goresan kuasnya, Agung Sukindra mencoba mengungkap bagian-bagian yang dianggap penting, esensial, merujuk pada nilai-nilai religi yang ia tangkap dari amatan pose-pose tubuh yang indah itu.

Lukisan “Nude 23” (2015), ukuran 110 cm x 140 cm, karya Agung Sukindra sepertinya memiliki konteks relasi dengan seni lukis mazhab Bandung rupanya. Bidang abstrak yang dibangun melalui sapuan brush-stroke oleh Agung Sukindra memberikan ruang dan dimensi yang lebih luas dimana tubuh yang sederhana itu hadir sebagai presentasi nilai keagungan Tuhan.

Juga bidang kosong di atas pose tubuh perempuan yang dijadikan penanda ruang spiritual manusia saat ini. dan, kehadiran tubuh di antara dua bidang kosong itu jadi penanda mikro-kosmos yang memproduksi nilai-nilai interpretatif.

Saya melihat upaya abstraksi simbolik pada lukisan “Nude 23” yang oleh Agung digoreskan dengan kepekaan teknis untuk menyajikan dunia atas (spiritual), dunia tengah (peradaban) dan ruang bawah sadar yang ditarik dari untaian rambut perempuan itu.

Lukisan-lukisan Agung Sukindra sesungguhnya tidak lagi berbicara soal bentuk atau ilusi imaji yang provokatif dari tubuh perempuan. Agung justru berupaya menyajikan bahasa simbolik dari ritus tradisi masyarakat tani – Dewi Sri, dan reposisi tubuh-tubuh itu di dalam siklus kehidupan manusia kontemporer. Kehadiran tubuh yang oleh Michel Foucault dianggap eksis di dalam ruang kegilaan masyarakat kontemporer. Kehadiran nilai yang selalu bersejajar dengan kekuatan tubuh sekaligus kekuatan jiwa yang saling mengimbuhi.[]

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *