Kosmologi Seni Plastis dari I Wayan Upadana

I Wayan Upadana, “The Desire of Gravity” (2017). 170 cm x 300 cm x 70 cm, resin, fiberglass, besi, dan cat mobil. FOTO: I Wayan Upadana.

 

I Wayan Upadana adalah salah satu seniman Bali yang eksploratif terhadap medium. Karya-karyanya muncul dari kesadaran kritis terhadap perkembangan artistik yang muncul di Bali. Bahasa estetik yang digunakan oleh I Wayan Upadana dilatarbelakangi oleh cara pandangnya sendiri terhadap fenomena komoditas budaya Bali yang sudah jadi industri pariwisata di pulau dewata.

Pengamatan saya terhadap perkembangan karya-karya I Wayan Upadana, dapat dikatakan bahwa, karyanya memiliki ciri khas pada konten kosmologi budaya Bali dan konteks sosial secara universal. Ia dapat mengartikulasi karyanya melalui medium dan objek-objek kosmologis pilihannya dengan cara yang unik. Juga sedikit politis karena mengimbuhkan padangan kritis terhadap fenomena seni dan budaya Bali yang diamatinya hingga saat ini. Karya-karyanya yang paling mutakhir dapat dilihat bagaimana seniman eksploratif ini menyajikan kecenderungan karya yang baru, yaitu pilihan abstraksi bentuk yang dinamis sebagai metodologi serta pilihan benda-benda dengan kesan plastis sebagai pilihan medium karya trimatra.

Bentuk abstraksi pada karya “The Desire of Gravity”, misalnya. I Wayan Upadana memilih bentuk gelembung yang bergelantung pada struktur – garis – dengan warna panas di permukaan objeknya, sehingga memantulkan bayangan di sekitar objek itu. Bentuk plastis dan dinamis itu merupakan representasi seniman dalam mengungkapkan daya hasrat melalui karya itu. Unsur gravitasi dari objek tersebut juga menawarkan narasi simbolik yang dinamis. I Wayan Upadana mengimbuhkan sistem nilai masyarakat petani padi dalam pemahaman makro-kosmos tentang Dewi Sri kemudian dielaborasi ke dalam ruang paradoks yang membahas pertemuan harmonis antara tubuh dan jiwa.

“Hasrat bisa bermakna paradoks, yaitu konten materialistik maupun spiritual. Seperti payudara, di satu sisi memiliki daya seksual dan di sisi yang alami adalah berkah manusia yang bermakna kesuburan. Saya percaya bahwa hasrat memberikan daya pada manusia, baik dari sisi kultural, kehidupan sosial dan juga spiritualitas,” kata I Wayan Upadana.

I Wayan Upadana, “Connected in the Deep #1 (2017). 20 cm x 45 cm x 25 cm, resin, fiberglass, cat mobil, tali sintetis. FOTO: I Wayan Upadana.

I Wayan Upadana dengan kecenderungan terbaru ini berupaya menyajikan strategi komunikasi artistik yang lebih lembut. Ia masuk ke dalam ruang sublimasi yang lebih intim wacana kosmologi dari ajaran Hindu tentang hubungan manusia dengan alam sekitarnya sebagai basis risetnya.

 

I Wayan Upadana, “Connected in the Deep #2 (2017). 51 cm x 28 cm x 28 cm, resin, fiberglass, cat mobil, tali sintetis. FOTO: I Wayan Upadana.

Karya trimatra dengan judul “The Desire of Gravity” tadi juga berkaitan dengan karya objek berjudul “Connected in the Deep #1-2″ (2017). Karya “Connected in the Deep” seri satu dan dua boleh jadi lebih simbolik nilai paradoknya; bahwa bentuk abstraksi dan pilihan warna dari tubuh manusia yang berkilau – karena daya tarik visual-nya – serta kehadiran tali sebagai pengikat tubuh dengan nilai religius sama-sama merepresentasikan hakikat hidup manusia Bali yang tidak bisa lepas dari nilai-nilai spiritual Hindu meskipun tubuh-tubuh manusia itu berjarak dengan kosmosnya. ”

Tiga karya terbaru dari I Wayan Upadana itu menunjukkan kecenderungan baru atas pilihan abstraksi bentuk sebagai metoda penciptaan karya terbarunya yang lebih lembut dan universal. Karya I Wayan Upadana tetap hadir dengan daya tarik yang selalu kritis, tanpa menanggalkan unsur kosmologi budaya Hindu bali di dalam karyanya yang baru.

 

“Sesuatu yang ingin saya ungkapkan adalah tali ini mengikat bentuk sekaligus memisahkan permukaan, tapi di dalam ruang kosong itu terdapat udara yang saling menyatu dan bertemu. Ini adalah ungkapan antara tubuh fisik dan spiritual. Kita sebagai manusia tentunya merasa terpisahkan dan terikat akan ketubuhan, akan tetapi ada rongga- rongga udara dan gelombang yang sebenarnya menyatukan kita dengan manusia lainnya dan juga alam,” pungkas I Wayan Upadana.

 

Pemahaman seni rupa kontemporer yang ditempa I Wayan Upadana di Bandung dan Yogyakarta – selama proses studi seni patung, mendorong karya-karya Wayan Upadana makin matang. Melalui karya Wayan Upadana kita bisa melihat bagaimana sikap seniman dengan latarbelakang budaya Hindu Bali menanggapi fenomena budaya dan dan persoalan produksi artistik yang bermunculan di sekitarnya mendorong daya imajinasi artistik.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *