Aktivasi Kegiatan Seni Rupa di Roemah Seni Sarasvati Diawali dengan pameran "Art & Academy: Tilas Balik Arsip Karya Studi Seni Rupa ITB Dekade Awal"

Suasana pembukaan pameran Art & Academy…. di ruang pajang depan, Roemah Seni Sarasvati, Bandung. FOTO: redaksi artspace.id

 

Ruang pajang karya seni rupa di kota Bandung kini bertambah lagi. Rumah Seni Sarasvati yang sudah sekian lama pasif kini sudah diaktivasi dengan kegiatan-kegiatan seni yang melibatkan komunitas – komunitas di kota bandung dan luar kota Bandung. Aktivasi kegiatan seni di Roemah Seni Sarasvati ditandai dengan pameran arsip koleksi Galeri Soemardja, FSRD-ITB, bertajuk Art & Academy: Tilas Balik Arsip Karya Studi Seni Rupa ITB Dekade Awal yang diselenggarakan oleh mahasiswa-mahasiswi dari FSRD-ITB.

 

“Kita berfikir bahwa revitalisasi ruang kota ini, ada aspek fisik, ada aspek aktifitas yang harus diaktifkan. Saya menawarkan diri untuk mengaktifkan Roemah Seni Sarasvati bagian dari aktivasi ruang kota. Konsepnya, saya tawarkan agar ruang ini lebih accessible, lebih ramah, lebih welcoming, lebih banyak kegiatan komunitas, seperti Bandung Sketch Walk, komunitas Board Game, komunitas Sketsa Pulang Kerja (SPK),” kata Muhammad Thamrin, manager Roemah Seni Sarasvati.

 

Muhammad Thamrin juga menjelaskan bahwa kegiatan-kegiatan di Roemah Seni Sarasvati akan diisi oleh karya-karya ‘sisi lain’ dari para desainer dan arsitek selain karya-karya utama mereka. Untuk kegiatan seni rupa, tim management Roemah Seni Sarasvati sudah menggandeng dosen dan kurator seni rupa, yaitu DR. Rikrik Kusmara, M.Sn. untuk aktivasi kegiatan seni rupanya.

 

Sketsa anatomi otot manusia karya Popo Iskandar (19..). 65 cm x 50 cm, pensil di atas kertas. Koleksi Galeri Soemardja. FOTO: redaksi artspace.id

Pameran Art & Academy: Tilas Balik Arsip Karya Studi Seni Rupa ITB Dekade Awal di Roemah Seni Sarasvati dimulai di sebuah ruang di belakang kedai kopi, sembilan poster pameran (1956 – 1973) dan arsip surat, kliping koran, dokumen foto-foto dosen dan murid Sekolah Guru Gambar (sekarang FSRD-ITB) mengawali sajian pameran arsip-arsip akademik dari para seniman yang sebagian besar sudah almarhum. Pecinta seni rupa Indonesia dapat mengamati sepak terjang karir para pendahulu seni rupa Bandung melalui arsip-arsip kegiatan mereka ketika menempuh pendidikan akademik sekaligus sebagai seniman Indonesia.

 

 

 

 

 

Karya-karya yang ditampilkan dibuat pada periode 1950-an hingga tahun 1970-an, dengan turut memamerkan karya dari nama-nama perupa besar seperti Popo Iskandar, Priyanto, dan Sudjoko. Pertimbangan terbesar dalam proses persiapan pameran ini mencangkup paparan mengenai nama-nama perupa besar yang dalam awal proses kekaryaannya juga melewati sebuah aplikasi kurikulum yang dinilai ideal bagi era mereka,” ungkap Syahid Nurrahman, penulis pameran Art & Academy: Tilas Balik Arsip Karya Studi Seni Rupa ITB Dekade Awal di Roemah Seni Sarasvati, Jalan Jend. Sudirman No.137, Astanaanyar, Kota Bandung.

 

Sementara di ruang pajang belakang, pecinta seni rupa Indonesia dapat melihat tiga sketsa gambar desain arsitektur klasik karya R. Herman Soetrisno, Raiosuto, Betty Pamoentjak (1950 – 1951), Lima sketsa anatomi karya Popo Iskandar, Mimy, Wijoso Yudhosaputro (1952 – 1955), delapan sketsa still-life karya Sie, Henky, Dibbyo, Sudjoko, Soemarjati, Priyanto, Soegino, Nuralim (1950 – 1955).

Christine Gerriette Henriette Toelle, ketua penyelenggara pameran ini, menjelaskan bahwa kepentingan dari proses pengarsipan dalam medan seni rupa muncul sebagai pembelajaran historis bagi para pelaku di dalamnya. Ia juga mengatakan bahwa, tujuan utama dari pameran ini adalah peningkatan proses apresiasi seni rupa di Bandung juga di Indonesia pada umumnya dalam bentuk kegiatan kearsipan.

 

Suasana pembukaan pameran Art & Academy…. di ruang pajang belakang, Roemah Seni Sarasvati, Bandung. FOTO: redaksi artspace.id

 

Art & Academy: Tilas Balik Arsip Karya Studi Seni Rupa ITB Dekade Awal merupakan sebuah usaha untuk mewadahi proses apresiasi pada karya-karya dan arsip dalam koleksi dari Galeri Soemardja. Rangkaian arsip ini merupakan karya-karya dari para perupa mau pun mahasiswa seni rupa semasa studi mereka di tahun-tahun awal pembentukan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung. Fakultas ini hadir sebagai sebuah lembaga kesenian yang berdiri mula-mula sebagai Sekolah Guru Gambar pada akhir dekade 1940-an. Buku 35 Tahun Pendidikan Tinggi Seni Rupa di Indonesia pada tahun 1983 memberikan sebuah pengantar mengenai asal mula fakultas seni dan desain di ITB yang baru di didirikan secara resmi pada tanggal 1 Agustus tahun 1947 sebagai Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar.

 

Sketsa karya Mimy (1952). 65 cm x 50 cm, pastel dan charcoal di atas kanvas. Koleksi Galeri Soemardja. FOTO: redaksi artspace.id

Konsep “Balai” kemudian beradaptasi menjadi sebuah “Fakultas” yang kini dikenal secara umum oleh publik. Kehadiran institusi seni di Indonesia adalah sebuah media untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran dan pengembangan kecakapan mau pun keterampilan dalam medan seni rupa. Dalam pembahasan keterampilan berkesenian, interaksi antara guru dan murid menjadi bagian yang begitu esensial bagi proses pengembangan artistik seorang perupa. Karya seni tersebut juga mampu menjadi artefak dari proses eksplorasi berkesenian mereka. Karya mula-mula seorang perupa mampu menjadi sumber rujukan dari karir keseniannya. Sementara karya masa studi mereka pun dapat dilihat sebagai titik awal pembentukan Seni Rupa ITB sebagai sebuah institusi, hingga dikenal sebagai sebuah institusi berpengaruh pada masa kontemporer. Kesadaran ini pun mampu menjadi acuan identitas bagi para perupa Indonesia yang memulai karir berkesenian mereka di bawah naungan Seni Rupa ITB.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *