Syam Terrajana Tawarkan Bangsa Kelapa Perupa Muda dari Gorontalo

Syam Terrajana “Bangsa Kelapa #2” (2017). Ukuran 90 cm x 70 cm, akrilik dan minyak di atas kanvas. FOTO: Syam Terrajana.

Syam Terrajana melihat buah kelapa melalui sudut pandang sejarah panjang masyarakat Gorontalo yang dikenal sejak era kolonial. Kelapa bagi Syam Terrajana adalah, “sejarah panjang yang menyertai gelap terang peradaban Nusantara.”

Ia gelisah dengan persoalan manusia saat ini, khususnya soal identitas budaya global di mana jarak geografis sudah tidak signifikan namun menyisakan nilai-nilai paradoks. Lukisan Syam Terrajana berlatarbelakang budaya pesisir masyarakat Gorontalo dan budaya maritim yang masih hidup di seluruh pelosok Nusantara ini. Kelapa diidentifikasi sebagai entitas simbolik oleh Syam hingga ia jadikan rujukan konten karya dwimatranya.

 

 

 

“Kelapa bukan sekedar komoditas ekonomi, atau romantika tentang negeri-negeri tropik dengan pantai, hutan dan nyiur melambai,” tegas Syam Terrajana.

 

Syam menyebut menggunakan judul “Bangsa Kelapa” pada dua karya ini disebabkan oleh memori kolektif masyarakat Gorontalo pada industri kelapa yang pernah berjaya di era kolonial Belanda hingga era pemerintahan Soekarno. Namun kelapa bagi Syam Terrajana dalam karyanya ditarik pada konteks budaya masyarakat maritim di timur Nusantara. Memori kolektif itu seperti hendak dimunculkan kembali sebagai modal budaya dalam peradaban Nusantara saat ini. Kelapa yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat Sulawesi mendorong perupa muda ini untuk merekonstruksi identitas budaya lokal pada karyanya.

Modal budaya itulah yang mendorong Syam memilih gagasan artistik tentang kelapa di dalam karya seni lukisnya, seperti yang ia nyatakan pada lukisan “Bangsa Kelapa #2”. Syam menyajikan seorang figur anak kecil bertelanjang dada dengan sayapnya dari sabut kelapa – membingkai bola mata, disertai syal merah yang melilit diterpa angin laut, tetapi ujungnya adalah senjata api yang dipakai oleh para officier Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada abad 19. Figur anak dengan kacamata itu berdiri di atas sebuah perahu yang berbentuk kelapa yang dibelah dua. Syam menawarkan sebuah imaji kolektif tentang bangsa Kelapa di masa kini dengan keluguan budaya lokal dan semangat penjelajah daratan dari pesisir Nusantara hingga pesisir benua Afrika dan Eropah.

 

Syam Terrajana “Bangsa Kelapa #3” (2017). Ukuran 90 cm x 70 cm, akrilik dan minyak di atas kanvas. FOTO: Syam Terrajana.

Kemudian Syam membaca-ulang persoalan cara pandang masyarakat Melayu membangun peradabannya yang dimetaforma pada figur berkepala kelapa yang sudah dikupas beberapa lapis dari kulit luarnya. Lukisan dengan judul “Bangsa Kelapa #3” ini memang hendak menyapa masyarakat Melayu dengan pose merenung, mengenakan sarung sebagai selendang yang hingga kini termakan stigma orang-orang malas.

Gagasan artistik dengan isu Bangsa Kelapa ini cukup menarik untuk kita baca kembali melalui sudut pandang estetik. Bahwa, seorang perupa memiliki kewenangan menggunakan kode-kode artistik berbasis riset dengan rujukan budaya lokal. Keberagaman identitas geokultur seperti inilah yang sedang dirayakan di dalam wacana seni rupa kontemporer Asia.

 

 

“Kelapa menciptakan peradaban dan kebudayaan yang diluhurkan. Membentuk cara pandang manusia nusantara terhadap diri sendiri segala sesuatu di luar dirinya; orang lain, alam dan Tuhan. Kelapa melahirkan sebuah bangsa. Kelapa, juga menghasilkan penindasan: kolonialisme dan nafsu ingin berkuasa,” katanya.

 

Alih-alih menyelidik kode-kode budaya lokal yang memungkinkan hadir di dalam karya seni rupa. Lantas metodologi apa yang digunakan oleh Syam Terrajana dalam proses kreatifnya sebagai seniman? Inilah hal lain yang menarik dari perupa muda satu ini. Kegiatan jurnalistik Syam Terrajana dengan kemampuan analisa dan pengumpulkan data juga fakta sejarah membuat karyanya memiliki posisi tawar yang unik ketimbang perupa muda lain – perupa muda seringkali dianggap gagap dalam menyajikan data riset di luar proses kreatifnya.

Lukisan Syam Terrajana menunjukkan kekhasan budaya visual yang berkembang di kotanya. Tetapi, pemilihan warna-warna dingin pada garapan lukisannya jadi pertanyaan yang menarik. Budaya pesisir yang didominasi oleh warna-warna panas justru tidak nampak pada lukisan Syam Terrajana.  Saya kira perupa muda yang satu ini tidak ingin terjebak di dalam kode-kode budaya pesisir dalam hal pilihan warna atau tonal value-nya. Ia ingin bebas dalam eksplorasi warna dengan mengimbuhkan esensi dari modal budaya yang dirujuk untuk karya-karyanya.

Perupa muda asal Gorontalo, Syamsul Huda M. Suhari atau lebih dikenal dengan nama Syam Terrajana ini lahir tahun 1982. Ia mulai berkarya secara otodidak sejak tahun 2013 dan aktif mengikuti pameran dari tahun 2014 di Gorontalo, Mendo, Bali juga di Galeri Nasional Indonesia di Jakarta.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *