Konsistensi Tito Tryamei dalam Lukisan Terapis

Tito Tryamei (2017) “Yang Tersisa”. 150 cm x 180 cm, cat minyak di atas kanvas. FOTO: Tito Tryamei.

Seekor anjing di atas pangkuan gadis kecil merupakan simbol perdamaian. Suatu resolusi psikologis bagi Tito Tryamei dalam lukisan berjudul “Yang Tersisa” (2017) di atas. Ia masih konsisten dengan tema fobia dalam karya-karyanya sebagai media terapi bagi dirinya sendiri. Lukisan surreal di atas merupakan representasi ruang imaji personal Tito sendiri yang dianggap dapat menghubungkan dirinya dan adik perempuannya. Sosok gadis kecil yang jadi subject-matter dalam lukisan-lukisannya dapat dikatakan identitas lukisan Tito Tryamei. Kehadiran sosok gadis kecil itu juga binatang-binatang atau juga objek-objek lainnya dalam lukisannya muncul secara spontan dari ruang ambang-sadarnya. terkadang objek-objek itu hilang atau diganti bila dirasa kurang ‘pas’.  Tito termasuk salah satu seniman muda yang masih mengelaborasi rasa dan ide atau tema dasar dalam proses kreatifnya. Sebuah metoda yang umumnya ditemukan pada seniman-seniman di Yogyakarta, tetapi ada hal menarik pada proses lukisan itu ‘menjadi’ dan dianggap ‘selesai’.

Tito Tryamei Christiandhi Yohannes adalah seniman muda kelahiran Blitar tahun 1988. Ia menetap di Yogyakarta setelah menyelesaikan studi pasca-sarjana di ISI Yogyakarta tahun 2013 dengan tugas akhir seni lukis. Karya-karyanya sudah melenggang di pameran-pameran penting di Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, Vietnam juga beberapa art fair di Jakarta, Seoul dan Hong Kong.  Tito adalah salah satu pemenang katagori Pendatang Baru di dalam kompetisi UOB POY Indonesia 2015. Pribadi seniman muda yang masih agak introvert ini mendorong kurator artspace Indonesia untuk melakukan pengamatan kembali yang lebih rinci pada karya-karyanya, yaitu, perihal content karya yang ditempuh melalui pengamatan langsung, proses abstraksi simbolik, lalu menyusun struktur bahasa visual terkait dengan tema fobia melalui garapan teknik seni lukis post-impressionist di atas kanvas-kanvasnya.

 

Tito Tryamei (2017) “Bahtera”. 150 cm x 120 cm, cat minyak di atas kanvas. FOTO: Tito Tryamei.

Nilai-nilai kemanusiaan dalam lukisan Tito Tryamei berjudul “Bahtera” (2017) terlihat banyak menggunakan bahasa simbol yang dominan atau teka-teki bahasa visual. Perupaan itu memberikan daya tarik tersendiri dari sejumlah karya dwimatra yang muncul di Yogyakarta. Lukisan-lukisan Tito Tryamei beredar di domain seni rupa kontemporer yang lain, terapi seni. “Aku tidak takut lagi,” decak gadis kecil kepada pelukisnya dengan tatapan bola matanya yang ‘sayu’. Dialog bathin antara subyek lukisan dengan senimannya sendiri rupanya percakapan imajiner sehari-hari Tito Tryamei di dalam intensitas proses kreatifnya. Gagasan artistiknya tidak sebatas lahir dari imajinasi karena ia melakukan riset-riset mengenai perilaku fobia. Tito Tryamei menjalankan sebuah metode terapi melalui bahasa visual dalam praktik produksi artistiknya. Praktik ini merujuk pada teori psikologi Gestalt, yaitu dengan cara menggambarkan apa yang ditakuti oleh subjek penderita. Sejauh mana kesadaran seniman ini mengolah bahasa artistic dari persoalan psikologis ini yang dikatakan sebagai praktik terapi visual. Hal inilah yang menarik untuk dibaca pada karya-karyanya. Misalnya, bagaimana sosok seorang gadis kecil – subject-matter lukisan – jadi metaforma dari senimannya dalam lukisan itu dapat memainkan peran alegoris dengan objek (entitas atau benda yang ditakuti oleh subjek) dalam upaya terapis terhadap fobia yang selalu hadir dalam keseharian senimannya.

Karya-karya Tito juga representasi dari amatan fenomena psiko-sosial yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya, persoalan fobia yang disajikan secara fragmentatif. Ada tiga macam fobia yang disajikan pada karya-karya Tito, yaitu Agoraphobia (ketakutan terhadap tempat ramai. Istilah Agora sendiri adalah representasi dari ruang public pada jaman Yunani Kuno misalnya pasar dan balai pertemuan. Yang kedua, Social Phobia, penderita takut bertemu orang lain, bukan karena rasa malu. Katagori fobia yang ketiga yang direpresentasikan oleh seniman ini adalah specific phobia, antara lain: claustrophobia (takut berada di ruang yang sempit), zoophobia (takut akan hewan tertentu), dan fobia tertentu lainnya.

Lukisan-lukisan Tito Tryamei memang tidak berambisi pada produksi karya seni lukis realis dalam perkara estetik. Karya-karyanya banyak berpijak pada seni lukis post-impressionism seperti yang sudah diuraikan oleh A.N. Hodge (2007) dalam The History of Art; Painting from Giotto to the Present Day di halaman 113;

Post -Impressionism adalah istilah yang diterapkan pada pengelompokan artis lain yang mengikuti Impresionisme dari tahun 1886-1910. Post-Impresionisme bahkan lebih beragam dari pada Impresionis. Karya Post-Impresionis menampilkan subjektivitas baru, yang diungkapkan oleh seniman berbeda dengan Van Gogh, Goerges Seurat, Edouard Munch, Paul Gauguin, Gustav Klimt, Henri Toulouse-Lautrec, Vuillard dan Bonnard. Cezanne adalah kunci Post-Impresionisme dan untuk memahami seni abad ke-20. Dia sibuk dengan struktur dasar benda-benda dan karyanya menampilkan perjuangan antara prinsip-prinsip realitas dan abstraksi yaitu untuk mengatur suasana hati untuk fajar era baru.

 

 

Tito Tryamei (2017) “Yang Seharusnya Ada”. 120 cm x 150 cm, cat minyak di atas kanvas. FOTO: Tito Tryamei.

Meskipun Tito Tryamei mengakui bahwa karya-karya Van Gogh cukup memikat dalam perkara teknik, namun referensi karya Tito merujuk pada karya-karya Claude Monet, Edouard Manet, Winslow Homer, Thomas Eakins yang termaktub di dalam gerakan post-impressionist. Lalu, ia memilih garapannya sendiri pada karya-karyanya yang lebih mengutamakan isi dan narasi. Tito Tryamei lepas landas secara bebas setelah berpijak pada sejarah seni lukis yang saya uraikan secara singkat di atas. Inilah keistimewaan lukisan-lukisan post-impressionist bagi penikmat seni lukis, khususnya seniman muda di jaman NOW dalam melakukan eksperimentasi artistik. Sebuah jalan untuk membangun identitas artistik pada karyanya sendiri.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *