Abstraksi Baru, Karya-karya Organik dan Orisinalitas Lukisan Richard Irwin Meyer

Richard Irwin Meyer “Karang” (2016). 30 cm x 30 cm, akrilik di atas kanvas. FOTO: Richard Irwin Meyer.

Perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia pada tahun 2017 lalu meninggalkan catatan-catatan menarik untuk disimak, khususnya mengenai praktik seni dengan metoda abstraksi pada karya-karya dwimatra. Lukisan-lukisan abstrak yang akhir-akhir ini disajikan oleh seniman-seniman Indonesia melalui komposisi garis, bidang dan warna di ruang pajang menandai sebuah fenomena kehadiran bahasa yang jadi sub-ordinasi dari kecenderungan bahasa rupa pada karya dwimatra yang ilustratif di Yogyakarta. Lukisan abstrak di kota Bandung malah menjadi arus utama sejak praktik seni para seniman Bandung berelasi secara tidak langsung dengan gerakan abstract expressionist di kota New York pada tahun 1950-an. Sejumlah seniman yang kini beroperasi di wilayah abstraksi antara lain: Ay Tjoe Christine, Aditya Novali, Hendrian Irfan, Richard Irwin Meyer, Dipo Andy, Syahfadil, Erizal, Handiwirman Saputra, Nyoman Erawan, Srihadi Soedarsono dan AD Pirous. Maka, pada kesempatan ini saya ingin mengulas karya-karya Richard Irwin Meyer.

***

Seniman yang satu ini memiliki latar belakang sejarah yang unik dan istimewa. Masa mudanya sebagai pelukis banyak ditempa oleh seniman-seniman yang aktif di dalam abstract expressionist movement di kota New York. Ia memiliki nasib baik pada masa itu karena masih dapat berinteraksi dengan seniman-seniman seperti Andy Warhol, musisi jazz yang kini menjadi legenda. Sejarah yang paling penting bagi Richard Irwin Meyer semasa muda adalah sempat menjadi asisten studio Willem de Kooning dan Elaine de Kooning.

Richard Irwin Meyer lahir pada masa abstract expressionist movement kian memuncak dan mempengaruhi arus utama perkembangan seni rupa di kota New York. Sejumlah seniman yang berada di poros gerakan ini antara lain, Paul Jackson Pollock, Mark Rothko, Willem de Kooning, Elaine de Kooning, Robert Rauschenberg, Franz Kline, Cy Twombly, Robert Motherwell, Helen Frankenthaler, Barnet Newman, Joan Mitchell, Jasper Johns, Hans Hofmann, Lee Krasner, Arshile Gorky, Frank Stella, Philip Guston, Antoni Tapies, Clyfford Still, Adolph Gottlieb, Ad Reinhardt, John Chamberlain, Aaron Siskind dan seniman-seniman abstract expressionist lainnya. Penjelajahan estetiknya juga ditempa lebih komprehensif ketika pada awal tahun 1970-1975 bekerja di departemen publikasi Museum of Modern Art (MoMA) di kota New York.

Richard Irwin Meyer “Black Planet The Eye of God” (2012). 100 cm x 100 cm, Akrilik di atas kanvas. FOTO: artspace Indonesia

Namun sebuah peristiwa yang kurang mengenakkan membuat Richard Irwin Meyer harus keluar dari medan seni rupa kota New York untuk sementara waktu, karena usianya masih dianggap terlalu muda untuk menjadi seniman dengan pencapaian artsitiknya bagi sebuah museum seni rupa saat itu. Maka, ia melenggang jadi aktor dalam film-film Holywood juga panggung drama di Broadway; memainkan berbagai peran. Sampai suatu masa ia berjumpa dengan seorang aktor, produser, sutradara, Robert Anthony De Niro – putra dari Robert De Niro, Sr. seorang pelukis dan pematung abstract expressionist. Maka, Jiwa pelukisnya muncul kembali dan mulai produktif berkarya lagi dari titik nol lagi.

***

Penjelajahan estetik Richard Irwin Meyer pada tahun 1980-an justru beranjak dari pengamatan budaya-budaya primitif di Asia Pasifik dan Afrika melalui artefak-artefaknya. Ia seperti menemukan semangat baru, yaitu budaya Asia sebagai sumber gagasan karyanya. Kesempatan itu ia manfaatkan dengan menjelajah geo-culture Asia Pasifik melalui residensi dan workshop kepada seniman-seniman tradisional dan bermukim untuk mengamati situasi medan sosial dan medan seni rupa di sana.

Richard Irwin Meyer memutuskan untuk bermukim dan berkarya di selatan Bali, sebagai wujud atas kecintaannya pada budaya sumber (Asian culture) yang menjadi landasan pada gagasan-gagasan artistik, khususnya seni lukis abstrak. Hal yang menarik dari proses kreatif Richard Irwin Meyer di Bali adalah proses mengabstraksi lingkungan alam di selatan pulau Bali ke dalam lukisan-lukisannya melalui bentuk-bentuk representasi seni lukis itu sendiri – tornado painting. Richard mengembangkan proses yang unik, yaitu, penggunaan teknik-teknik melukis yang paling prinsip atau mendasar dengan bertumpu pada kekuatan material cat disertai sebuah kesenangan dalam proses melukisnya, action!

Richard Irwin Meyer “Nebula Window” (2011). 200 cm x 150 cm, akrilik di atas kanvas. FOTO: Artlinked Indonesia.

Richard Irwin Meyer membuat konstruksi lukisan angin tornado melalui teknik drift-painting yang lebih ekpresif disertai dengan sapuan-sapuan brush-stroke yang cukup masif dan berlapis-lapis, namun masih meninggalkan jejak drawingnya pada permukaan kanvasnya. Ya, lukisan-lukisan abstrak karya Richard Irwin Meyer memang banyak menimbulkan rasa penasaran karena ia sendiri melakukan investigasi artistik dengan medium cat akrilik atau material yang berbahan dasar air. Lapisan-lapisan cat itu kemudian membangun suatu dimensi ruang imaji serta kedalaman rasa yang bertumpuk-tumpuk, tetapi tidak jadi ungkapan bahasa artistik yang representatif . Pokok soal yang penting pada lukisan-lukisan Richard Irwin Meyer adalah penyajian bahasa non-naratif. Tak ada cerita yang disajikan pada karya-karyanya selain perasaan yang sedang diperiksa melalui struktur garis, pembidangan dan warna dengan teknik drawing yang berlapis-lapis menggunakan cat interference color. Sehingga agak sulit untuk membuat reproduksi citraan pada permukaan kanvasnya.

Tema lukisan itu sebetulnya tidak menitikberatkan pada bentuk yang hadir di dalam lukisannya, tetapi persoalan gesture dalam konteks relasi atau semacam relational aesthetic terhadap alam dan benda-benda hidup yang diamatinya. Misalnya, cara pelukis membubuhkan cat di atas media lukis laiknya seorang musisi jazz memainkan alat musiknya. Pelukis tidak lagi mengaplikasikan sebuah teori atau pemahaman seni lukis dari sejarah yang sudah selesai, melainkan membangun ruang tafsir baru yang belum ditentukan atau disusun oleh sejarah. Inilah yang menjadi penanda estetik dari seniman-seniman di akhir masa abstract expressionist movement hingga seni rupa kontemporer. Hasil amatan dengan karya lukisnya tidak nampak berhubungan lagi secara kasat mata.

Richard Irwin Meyer “Pelaut” (2016). 25 cm x 35 cm, akrilik di atas foam rubber. FOTO: Richard Irwin Meyer.

Abstraksi sebagai metodologi dalam praktik seni para seniman Indonesia saat ini boleh dikatakan unik karena metodologi itu disajikan melalui penggabungan metoda painterly painting, drawing serta imagery – karena wacana medium juga dianggap penting saat ini. Presentasi gagasan dengan metoda abstraksi ini lebih rinci pada produksi bahasa artistiknya saja. Konteksnya adalah praktik seni lukis itu sendiri yang memang tidak ada hubungannya dengan medan sosial tertentu.. Praktik seni rupa semacam ini banyak berkembang di kota Bandung ketimbang daerah lain yang memiliki kecenderungan figuratif hingga ilustratif melalui bentuk representasional – misalnya menyajikan versi komik di atas kanvas.

Louis Finkelstein, pelukis dan penulis seni rupa, pernah mempublikasi esainya yang berjudul Thought About Painterly di Art News Annual, New York (1971). Sebuah esai yang jadi penyerta pameran lukisannya sendiri di Ingber Gallery, New York, tahun 1975. Esai Louis Finkelstein merupakan rekam jejak pengalamannya dalam melukis yang disebut painterly. Ia menyatakan bahwa painterly painting itu nyaris berada di ranah formalist dan colorist lanjutan yang disebabkan oleh gagasan tentang “will to form”.

“Bahwa gagasan artistik yang mungkin kita sajikan jadi subordinasi dari objek-objek itu sendiri terhadap rasa pada media yang melingkupinya, atau mengimbuhkan nilai-nilai optis yang berbeda dari sentuhan, atau memberi bobot pada warna daripada pemodelan, atau sebagai pembedaan yang difokuskan pada melalui ragam sapuan kuas, dan sebagainya. Namun hal yang paling konkrit dari gagasan-gagasan ini, adalah bahwa mereka tidak berhasil meniadakan kebutuhan setiap pencapaian senimannya sendiri. Terlepas dari hubungan antara gaya Titian, Rubens, Velazquez, Goya, setiap gagasan artistik dari pelukis tak pelak lagi merupakan hasil dari pengembangan ciri masing-masing….suatu pencapaian atau hasil atau realisasi dari beberapa jenis pembacaan pada cat yang melambangkan udara, materi, ruang, cahaya, lahiriah.”

 

Richard Irwin Meyer “Refleksi” (2017). 56 cm x 76 cm, akrilik di atas kertas. FOTO: Richard Irwin Meyer.

Apa yang dikerjakan oleh Richard Irwin Meyer pada periode kekaryanya ketika masih berkarya di selatan Bali, adalah tema-tema energi kosmologi makro. Bulan atau bintang juga angin yang melaju di sekitar studionya menjadi perhatian khusus. Lukisan-lukisan abstrak di dalam periode itu sudah menggunakan metoda abstraksi baru dalam keseluruhan ekosistem produksi bahasa artistiknya. Ia menggunakan cat akrilik di atas bidang kertas, plastik, karet, logam, kayu, juga kanvas. Gagasan karyanya banyak lahir dari situasi dan medan sosial masyarakat urban di selatan Bali yang sudah di-branding sebagai pusat pelesiran masyarakat kelas menengah di Asia Tenggara, menjadi lapisan-lapisan warna dan bidang-bidang gelap dan terang.

Perilaku keseharian turis domestik dan turis mancanegara di Bali menjadi lahan garapan Richard irwin Meyer dalam memutuskan pilihan bahasa artistik. Hal itu sesekali masuk di dalam amatannya hingga tertuang di atas kanvas yang berjudul “Three Shopping Ladies/Tiga Hantu” (2010). Termasuk persoalan lingkungan alam yang terseret oleh beton-beton bangunan komersil tidak luput dari amatannya selama berkarya dan berbaur di lingkungan Petitenget, Seminyak, Kuta dan Ubud. Buah dari amatan-amatan itulah yang kemudian diabstraksi oleh Richard Irwin Meyer menjadi karya seni lukis yang kemudian menanggalkan gambaran persoalan-persoalan sosial dan lingkungan alam yang makin rusak jadi sebidang warna dan tekstur di atas kanvas. Memang terkesan rumit tetapi justru terjadi penyederhanaan gagasan melalui wilayah artistik yang lebih fokus pada kaidah seni lukis saja. 

Richard Meyer “Segitiga” (2017). 56 cm x 76 cm, Monoprint dan akrilik di atas kanvas. FOTO: Richard Irwin Meyer.

Hingga kemudian ia tertarik pada persoalan warna dan reaksi kimia dari cat akrilik. Maka, pembacaan karya seni lukis Richard Irwin Meyer itu dapat dihubungkan kembali pada nilai-nilai instrinsik yang dikerjakan oleh seniman-seniman abstract expressionist – hanya sebagai rujukan sejarah saja. Pencarian bentuk (form) yang dikonstruksi oleh wacana material yang digunakan oleh seniman membangun tesis-tesis ekspresi di ranah seni rupa kontemporer yang non-naratif. Ia tidak lagi bicara fungsi material sebagai bangunan struktur bahasa rupa. Karya seni yang dikerjakan Richard Irwin Meyer berada di ranah wacana seni lukis baru, sehingga kehadirannya terlepas dari sejarah seni modern dan penegmbangan baru pada sejarah awal seni rupa kontemporer yang sudah terjadi di kota New York pada masa post-World Word II. Seniman-seniman dalam post-abstract expressionist justru mencari pencapaian baru di wacana seni rupa kontemporer dari sudut pandang yang lebih personal.

Hingga kemudian, lukisan-lukisan Richard Irwin Meyer sudah beranjak jauh dari bahasa rupa yang dikembangkan oleh abstract expressionist, karena yang sedang dikerjakannya saat ini justru membangun bahasa seni rupa kontemporer melalui metoda “abstraksi baru”. Penggunaan medium-medium baru di luar tradisi seni lukis yang sudah dibekukan oleh sejarah juga bagian dari ekplorasi artistiknya. Ada juga pokok soal di dalam lukisan-lukisan Richrad Irwin Meyer, yaitu warna dan tonal value yang banyak dipengaruhi oleh warna lanskap alam yang muncul dan berkekembang di dalam estetika seni rupa Jepang dan Tiongkok.

Sebab lukisan-lukisannya tidak mewakili sebuah narasi seperti lazimnya ditemukan pada karya-karya seni rupa Yogyakarta. Richard malah mengambil nilai-nilai budaya tradisi yang hidup di pelosok Nusantara. Pokok soal lain yang ada di dalam lukisan Richard Irwin Meyer adalah bagaimana jenis cat akrilik tertentu serta media yang dipakainya dapat membangun struktur bahasa abtrak. Oleh sebab itulah, material seni lukis menjadi penting ketimbang gambar atau bentuk representasional.

“Kebanyakan orang Indonesia berfikir bahwa karya saya adalah lukisan dekoratif karena mereka yang berpendapat demikian tidak memiliki pengalaman dalam menyimak lukisan-lukisan abstraksi. Beberapa karya seni lukis abstraksi dapat membuat orang menangis bila sudah memahami lukisan abstraksi,” kata Richard Irwin Meyer di Yogyakarta.

Alih-alih, pembidangan yang dibangun oleh komposisi garis-garis spontan dan bidang-bidang warna malah lebih banyak bercerita mengenai pigmen warna, elaborasi dan asimilasinya. Richard Irwin Meyer juga menggunakan material tambahan yang seringkali dicampurkan pada cat akriliknya. Ia mengamati proses elaborasi antarmaterial itu di atas bidang kanvas, plastik atau karet juga kertas. Tentu saja ada kisah mengapa cara melukis Richard Meyer dapat dijadikan pokok soal terkait material yang dia gunakan dalam seni lukisnya, yaitu tekstur.

Richard Irwin Meyer bersama Linda Sormin (seniman Canada kelahiran Bangkok) dan Theresia Agustina Sitompul a.k.a. Tere (seniman Indonesia) dalam suasana pameran tunggal Richard Irwin Meyer di Yogyakarta, 2014. FOTO: artspace Indonesia.

Proses kreatif Richard Irwin Meyer bertumpu pada orisinalitas karya, ia menolak untuk untuk melakukan ‘revisi’ atau semacam ‘modifikasi visual’ dari karya-karya yang sudah dikoleksi oleh museum seni rupa. Baginya, identitas seorang seniman dipandang dari bahasa artistik yang dibuat secara otentik, organik dan orisinal. Sejak Richard Irwin Meyer berkarya dan bermukim di Yogyakarta sejak tahun 2015, lebih menarik lagi. Usai pameran tunggalnya dengan sajian potret diri di Nalarroepa Artspace, selatan Yogyakarta, ia kembali ke arus utama bahasa artistiknya, yaitu abstraksi warna-warna alam daratan Asia dan nilai-nilai humanis masyarakat Asia sebagai latar belakang gagasan saja. Itulah lukisan abstrak Richard Irwin Meyer.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *