Visual Branded pada Karya Nyoman Masriadi

I Nyoman Masriadi “Moment Itu Penting” (2017). 180 cm x 250cm, akrilik di atas kanvas. FOTO: Agung Sukindra.

Dua ukisan cat akrilik di atas kanvas berjudul “Moment Itu Penting” dan “Tak Pernah Berubah” serta karya trimatra dengan material perunggu berjudul “Blekik Jones & Soekarno Treasure” masuk ke ruang redaksi KURATORIAL sebagai catatan kedua di awal tahun 2018.

Saya melihat bentuk tanggapan seorang seniman, I Nyoman Masriadi, dalam melihat fenomena sosial dan politik yang disampaikan melalui kanal-kanal media informasi. Saya kira, ia seorang manusia yang berkomentar dengan cara yang unik terhadap persoalan-persoalan itu. Unik, karena ia menuangkan komentarnya pada karya seni. Komentar dari seniman yang selalu dicitrakan sebagai seniman yang sering menghabiskan waktunya bermain game perkelahian selain melukis.

I Nyoman Masriadi, “Blekik Jones & Soerkarno Treasure” (2016) ukuran 81 cm x 56 cm x 48 cm, perunggu. FOTO: Agung Sukindra.

Karya patung berjudul “Blekik Jones & Soekarno Treasure” berbicara hal lain yang lebih politis terkait dengan kekayaan bangsa ini yang selalu dirongrong oleh orang asing. 

I Nyoman Masriadi justru melayangkan sebuah kritik pada bangsa dan pemerintah yang terkesan abai dalam memanfaatkan kekayaan negeri ini hingga pengelolaannya harus dikerjakan oleh pihak asing dan mereka mengambil keuntungan lebih besar daripada apa yang diperoleh oleh bangsa Indonesia. I Nyoman Masriadi juga nampak terpengaruh oleh sikap nasionalisme Bung Karno dalam persoalan bangsa Indonesia.

Karya I Nyoman Masriadi memuat persoalan perilaku keseharian manusia kontemporer pada dua lukisan tersebut. Ia juga ingin mengingatkan publik bahwa fenomena faktual tersebut sebagai penanda jaman di mana interaksi sosial secara langsung sudah tergeser oleh kesibukan orang-orang menggunakan smartphone, khususnya selfie.

Ia mengimbuhkan drawing-drawing atau coretan sepontan di atas garapan lukisannya, hingga menghasilkan layer (lapisan) pada dua lukisan itu juga beberapa karya seni lukis sebelumnya. Ketika lukisan realis itu mencapai titik akhir sebuah garapan, drawing-drawing itu justru mengakomodasi kepuasan I Nyoman Masriadi dalam menyampaikan pesan, semacam penegasan atau hal lain yang ada di balik makna kehadiran figur-figur dengan bentuk tubuhnya.

I Nyoman Masriadi tidak banyak mengungkapkan alasan-alasan artistik terkait dengan kehadiran drawing-drawing itu.

“Untuk nambah artistik dan kreatif dan kesan expresif,” kata I Nyoman Masriadi.

Seorang fotografer profesional biasanya enggan menceritakan hasil jepretannya kepada publik, sebab ia yakin bahwa gambar hasil jepretannya dianggap sudah mampu “berbicara sendiri” tanpa harus dijelaskan ini dan itu. Katanya, “Biarlah gambar yang bicara!” Sikap itu juga muncul dari para pelukis, bahkan I Nyoman Masriadi juga menggunakan sikap yang serupa.

Agung Sukindra, “Nyoman Masriadi” (2017). 50 cm x 65 cm, cat akrilik di atas kanvas. FOTO: Agung Sukindra.

I Nyoman Masriadi, laiknya fotografer profesional, membiarkan imbuhan tafsir-tafsir dan pemaknaan yang bersifat terbuka dari para penulis seni dan kurator terhadap konten yang ada di dalam karya-karyanya. Hal itu ia lakukan untuk memposisikan karyanya sebagai bagian dari opini publik atas fenomena sosial yang terus bermunculan.

Lalu, saya membuat hipotesa bahwa melihat karya-karya I Nyoman Masriadi seperti membaca halaman-halaman iklan produk di sebuah majalah gaya hidup. Melihat setilasi tubuh-tubuh manusia yang diproduksi dengan teknik seni lukis dan disematkan penanda artistik atau saya sebut saja “visual branded” dalam bentuk kartun milik I Nyoman Masriadi.

Visual branded pada lukisan yang hadirkan bentuk figur-figur besar, warna kulitnya coklat tua – kadang-kadang disertai dialog laiknya dalam gambar dalam sebuah komik.

I Nyoman Masriadi, “Tak Pernah Berubah” (2017), 200 cm x 300 cm, cat akrilik di atas kanvas. FOTO: Agung Sukindra.

Lukisan I Nyoman Masriadi sudah diberi merek dagang yang disahkan melalui sebuah ketuk palu di balai lelang. Bentuk figur macam ilustrator game animasi itu di-branding dengan harga fantastis sebagai milik I Nyoman Masriadi. Maka, para investor seni, art dealer dan kolektor pun bersepakat bahwa bentuk visual seperti itu milik I Nyoman Masriadi. Pelukis lain yang menggunakan bentuk figur dan warna serupa diklaim sebagai copy-work dari lukisan I Nyoman Masriadi.

Hal ini menyisakan pertanyaan-pertanyaan, pertama, apakah bentuk visual sebagai bahasa artistik dalam seni lukis dapat dimiliki oleh seorang pelukis? Saya menduga bahwa I Nyoman Masriadi sudah bersepakat dengan hal itu, bahwa karya seni rupa kontemporer dipahami memiliki konteks relasi kuat dengan nilai investasi ekonomi dan persoalan bentuk visual yang dipilih dari sumber manapun adalah sah.

Kedua, apakah I Nyoman Masriadi tidak berupaya menyajikan bahasa rupa baru yang dicapai dari nilai orisinalitas bahasa artistik versi I Nyoman Masriadi sendiri?

Sebuah representasi visual dari kebebasan eksplorasi artistik dalam upaya menyajikan suatu kebaruan dari visual branded yang sudah ditetapkan oleh para investor. Persoalan ini saya kira akan dijawab oleh karya-karya teranyar dari goresan tangan I Nyoman Masriadi di tahun 2018.

Apakah ia akan beranjak dari zona nyaman  atau melanjutkan visual branded yang saat ini sudah digariskan? Mari kita simak kekaryaan I Nyoman Masriadi di tahun 2018 dengan kehadiran medium-medium baru yang belum disentuhnya selama ini, termasuk persoalan bentuk figur yang lain juga konten karya-karyanya.[]

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *