Dipo Andy: Melukis Abstrak Seperti Laku Spiritual

Dipo Andy “OT181710020343” (2017), 200 cm x 280 cm, cat akrilik, cat minyak dan media lain di atas kanvas. FOTO: Dipo Andy.

 

“Bagi saya melukis abstrak itu seperti laku spiritual. Berupaya memanifestasikan keberadaan yang tiada menjadi ada. Membuat hal yang tidak terasa menjadi berasa. Menempatkan sesuatu yang kosong menjadi berisi. Dan mengetahui kapan dan di mana harus berhenti. Lukisan pada pemahaman saya hari ini adalah penggalian identitas personal. Kembali ke dalam diri. Dengan mencapai transenden, maka sebuah pribadi akan mampu melihat sekaligus memahami berbagai perspektif,” kata Dipo Andy.

Dipo Andy menjelaskan lebih lanjut perkara mencipta karya seni lukis hari ini, bahwa landasan teori penciptaan pada karya-karyanya adalah upaya untuk kembali pada prinsip-prinsip dasar dari seni lukis; garis, warna, bidang dan ruang. Dipo Andy membangun dialog yang bersifat transenden melalui layer setiap warna, juga menciptakan tekstur nyata dan tekstur semu dengan garis lurus melintang, secara visual terkesan seperti efek cetak grafis. Nilai imanen pada karyanya hadir pada kesan ruang kosong, bentuk-bentuk yang tercipta tanpa diduga sebelumnya selama proses penciptaan adalah ciri khusus secara artistik.

Maka, landasan teori penciptaan pun lebur, hilang di dalam proses atau laku spiritual Dipo Andy ketika bekerja di studio kreatifnya. Hal ini juga memberi tanda khas pada karya-karya Dipo Andy juga terasa makin sublim karya-karyanya.

Bagi Dipo Andy, intuisi sangat diperlukan dalam mengolah hal semacam itu pada saat ini. Suatu perkara yang mungkin sederhana bila didengar oleh pecinta seni maupun seniman lain. Tetapi bagi seniman ini perkara itu sangat kompleks dalam proses penciptaannya. “Dibutuhkan kepekaan pada setiap unsur-unsur dasar tadi. Dengan memahami aspek-aspek visual yang paling dasar itu saya beranggapan bahwa seni lukis itu akan selalu menarik untuk tetap dieksplorasi sepanjang masa,” katanya.

Karya seni lukis abstrak di Indonesia hingga saat ini masih bertumpu pada ekspektasi pecinta seni mengenai narasi secara intriksik. Juga keterlibatan teknologi dalam proses penciptaannya seringkali dipertanyakan sebagai sisi lain dari keunikan dalam percepatan sebuah proses produksi bahasa artistik. Dipo Andy pernah mengalami fase artistik dimana keterlibatan teknologi yang mendorong kreatifitas mengolah visual menjadi bagian penting dalam upaya membangun dialog dengan pecinta karyanya.

Dipo Andy “AG141707020141” (2017), 200 cm x 280 cm, cat akrilik dan media lain di atas kanvas. FOTO: Dipo Andy.

Tapi, Dipo Andy memilih untuk bekerja dengan dimensi manusia yang hakiki dan sederhana. Proses penciptaan yang melibatkan unsur kejiwaan penuh ketimbang pemanfaatan teknologi yang mendukung proses produksi karya dua dimensi. Misalnya peralatan dijital untuk membuat lukisan yang makin marak digunakan seniman-seniman deadline sebagai alat bantu produksi artistiknya.

“Ya, karya saya melepaskan diri dari narasi besar kecanggihan dunia. Saya menghayati diri sendiri dan kembali ke pangkal sejati seni lukis. Menyelaraskan garis, bidang, ruang dan warna dengan teknik yang sederhana, kemudian berserah pada pada intuisi seketika. Saya berusaha menyelipkan sejumput penggambaran remeh-temeh sebagai upaya menerobos celah sempit perupaan dalam seni lukis yang sudah sangat sesak,” katanya.

Seni lukis abstrak di Indonesia masih dianggap, satu sisi, mudah dikerjakan dengan bertumpu pada nilai ekspresif saja tanpa harus melampau jenjang akademik melalui tahapan visual atas penguasaan teknis membuat lukisan realis. Di sisi lain, menciptakan karya abstraktif bukan perkara mudah meski nampak sederhana karena rujukan estetiknya melampaui penguasaan dan kekuatan pada garis, bidang, lapisan, warna dan ruang juga tekstur bidang lukisnya. Sehingga dua sisi itu seringkali berjalan masing-masing. Alih-alih, abstraksi malah dijadikan jalan pintas seorang pelukis untuk menutupi kekuarangannya di bidang teknis melukis.

Abstraksi bukan perkara bentuk dan warna, tetapi sebuah pencapaian nilai visual yang berada di luar bahasa artistik yang kasat mata. Sehingga, kita bisa membaca bahwa abstraksi pada karya Dipo Andy periode ini menunjukkan kecerdasan seorang seniman jaman Now. Bagaimana ia menekuni proses penciptaan dan pengolahan bahasa kedalaman yang bukan sekedar nilai ekspresi yang dangkal.

Karya-karya Dipo Andy  dalam periode ini masih menunjukkan otentisitas dan identitas artistiknya yang sudah muncul sejak milenium kedua, yaitu penggunaan judul karya dengan nomor binari atau kode. Metoda ini sudah dibranding sejak kemunculan karya-karyanya dalam Barcode Series; rumusan pribadi tentang masa produksi dan warna-warna yang digunakannya.

“Dengan terus mengasah kepekaan dasar ini, lalu saya jadikan cara untuk membaca yang terlihat dan tidak terlihat, yang dangkal dan yang dalam, yang jujur dan yang munafik, dst… dst… Bisa jadi itulah yang sedang kita butuhkan di dunia sekarang ini,” pungkas Dipo Andy di Yogyakarta.

Rujukan sejarah karya-karya Dipo Andy saat ini memang dari gerakan abstract expressionist, tetapi Dipo Andy mengembangkan bahasa rupa yang lebih sublim dalam konteks dan wacana seni rupa hari ini. Bergerak secara spiritual di antara visual chaos saat ini yang cenderung didominasi oleh gambar-gambar ilustratif pada karya seni lukis di Yogyakarta.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *