Lukisan Teja Astawa Menghidupkan Narasi Budaya Bali

Teja Astawa “Confused War” (1017). 150 cm x 280 cm, akrilik di atas kanvas. FOTO: I Ketut Teja Astawa.

 

Teja Astawa menyuguhkan lukisan “Confused War” (2017) dan “Simulation War” (2017) untuk diulas dalam rubrik KUARTORIAL ini. Dua lukisan itu sepertinya memang menyambut tahun politik Indonesia di tahun 2018, dimana perang-perangan antar kubu partai politik menjadi lanskap budaya politik Indonesia tahun ini. Perseteruan yang terkesan lucu digambarkan oleh Teja Astawa pada dua lukisan  itu. Penggambaran yang naif justru menjadi penekanan simbolik dimana Teja Astawa sebagai seniman sekaligus penonton perseteruan citraan para politisi menghubungkannya dengan narasi budaya Bali. Kita bisa membaca bahwa pesan-pesan perdamaian dari filsafat Timur yang ada di dalam lukisan-lukisannya akan mengetuk nurani para politisi untuk konsisten menjadi manusia yang beradab.

Teja Astawa (1971) adalah seniman yang hidup dan berkarya di Sanur, Bali. Ia lulusan seni lukis di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) tahun 1990 – sekarang ISI Denpasar. Karya-karyanya berbasis drawing dengan tema-tema hidup keseharian yang berjukstaposisi dengan cerita pewayangan yang ia pelajari sejak kanak-kanak. Garapan bentuk naif pada figur, binatang juga lanskap pulau dewata Bali menjadi bahasa rupa itu menghidupkan kembali filsafat-filsafat Timur.

Teja Astawa masih setia dengan narasi-narasi budaya Hindu Bali hingga jadi konten karya-karyanya. Tak heran bila bentuk figur dalam lukisan-lukisannya disajikan secara naif, datar dengan warna-warna tanah yang hidup. Bentuk visual itu mengingatkan saya pada bentuk figurasi yang populer dalam tradisi visual wayang Beber juga wayang Kamasan serta Ubud style. Karena melihat lukisan-lukisan Teja Astawa membawa kita sejenak pada sejarah seni rupa modern pada masa raja-raja Majapahit dan Bali pada tahun 1930-an, di mana lukisan wayang Beber menjadi rujukan visual dalam khazanah seni rupa modern Indonesia, khususnya di Bali yang dikenal dengan lukisan Kamasan. Gambaran kehidupan masyarakat Bali pun terlihat lebih modern setelah kelompok Vita Maha di Ubud memberikan corak baru dalam penggambaran figur atau objek yang terkesan memiliki volume.

 

Teja Astawa “Simulation War” (2017). 250 cm x 250 cm, akrilik di atas kanvas. FOTO: I Ketut Teja Astawa.

 

Lukisan Teja Astawa boleh dikatakan berada di antara benang merah sejarah bentuk tradisional dan modern. Kita juga bisa melihat bagaimana tradisi menggambar figur, tanaman, daun, ombak atau lanskap Bali pada lukisan Teja Astawa dalam konteks seni lukis. Pertama, Teja Astawa menggunakan material cat yang modern ketimbang lukisan tradisi Bali menggunakan pewarna alam. Kedua, garapan lukisan Teja Astawa menggunakan teknik seni lukis modern dan drawing.

Paduan dua teknik ini memberikan nuansa baru pada lukisan-lukisan Teja Astawa hingga terasa lebih segara, ketimbang lukisan-lukisan tradisi Bali yang sudah bergeser pada khazanah budaya modern Bali. Meskipun narasi pewayangan masih dominan sebagai rujukan utama dan situasi budaya Bali saat ini sebagai imbuhan tematik, Teja Astawa menyajikan bahasa visual yang memiliki karakter kuat dengan ciri kuat taksu-nya. Teks-teks yang ditambahkan secara spontan memberikan kekuatan artistiknya saat ini.  

Kita bisa lihat Teja Astawa juga menggunakan strategi visual yang unik dan khas melalui bentuk animasi figur-figur dan objek-objek dalam lukisannya. Walaupun terkesan politis, lukisan-lukisan Teja Astawa sebenarnya ingin mengajak apresiannya bermain dengan bayang-bayang keindahan budaya Bali kuna dan lanskap budaya bali masa kini.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *