Beribadah pada Seni Penulis Inang Jalaludin S

“Asu” karya Lahir Setya Budi

Di lahan sekitar 30 x 30 meter, dua buah bangunan besar berdiri berhadapan dengan pohon-pohon besar melindungi dari sinar matahari. Saking teduhnya, atau saking banyak pohon dan tentu dahan di sana, mata kerap kali lupa ada tulisan “Galeri Seni Rupa”.

Saya termasuk pengunjung “tetap” galeri ini. Ini bermula ketika kos saya yang hanya berjarak kurang dari 50 meter dari galeri. Setiap pulang dari kampus, baliho besar atau kadang sound sistem yang menggelegar menggoda hati untuk mampir sejenak.

Galeri Seni Rupa di kompleks Taman Budaya Jawa Tengah yang terletak di kota Solo ini memang dikelola pemerintah. Setidaknya ada satu acara tiap bulannya di sana. Entah itu pameran dari seniman, maupun yang masih bergelar mahasiswa. Gelaran bisa dari lukisan, rupa, kriya, foto, hingga kombinasi bermacam seni.

Pengalaman pribadi pada seni kadang cukup anomali. Saya termasuk orang yang tidak berbakat dalam hal seni, tetapi memiliki minat yang sangat tinggi pada isu seperti ini. Terlebih, kota memfasilitasi sebuah tempat untuk menampung karya untuk diinstalasi. Praktis, galeri seni menjadi persoalan yang sangat pribadi.

Tampak depan Galeri Seni Rupa TBJT Surakarta

Galeri seni kerap kali, kalau tidak boleh disebut selalu, menyegarkan persepsi. Paling tidak itu yang saya jawab ketika ada yang bertanya,”mengapa anak Sastra Inggris suka pergi ke pameran?” Ada kalanya bentuk, gambar, atau bahkan cahaya, bisa memberikan sengatan listrik ke otak.

Saya masih ingat pengalaman pertama datang ke galeri ini. Dua buah ruangan besar yang terhubung dengan teras berkoridor akan tampak sederhana dengan warna putih kekuningan. Satu banner besar biasanya sudah cukup untuk menjadi penerima tamu bagi pengunjung. Acara yang masih mengisi ruang di benak saya itu adalah “Art Educare”.

Mulanya, pengunjung akan menyisir gedung dari sisi kiri setelah masuk pintu. Di ujung paling kanan, pengungjung akan menemukan pintu lainnya yang juga jalan menuju gedung sebelahnya. Tidak ada perbedaan berarti sebenarnya. Hanya fasilitas untuk menambah dekorasi. Misalnya di acara ini akan ada jembatan yang menghubungkannya.

Di galeri itu, saya juga kerap menjumpai diri saya dengan keadaan paling sadar. Kurang lebih mirip-mirip dengan sensasi pergi ke tempat ibadah. Di tempat inilah ramai orang menunaikan apa yang diyakini atau dicintai. Sama, galeri menyuguhkan tempat bernuansa relijius karena tubuh hanya dan seharusnya bertatap dengan karya, sama seperti beribadah kepada Tuhan.

Di sinilah pengunjung yang berjamaah mendapatkan kebebasannya sebagai tubuh yang menikmati obyek yang diminati. Pengunjung atau pikiran akan berrelasi dengan lukisan. Di galeri seni, kita sendiri menghadap karya.

Sebuah karya berjudul “generasi menunduk” karya Hermawan Tri Prastya

Tentu kita bisa bicara bahwa foto yang teknologis akan menggoda untuk berbisik,”minta foto, dong,” tetapi ibadah mengunjungi seni tak seremeh dengan hasrat pamer pada dinding social media. Pengunjung pameran seni, yang pemaknaannya tak semudah menulis komentar tak bisa juga dianggap dosa karena ibadahnya pamrih.

Misalnya saja, acara “Art Educare, yang menggagas seni yang ramah lingkungan atau lingkungn yang “ramah. seni. Di gelaran ini, seni bertindak secara langsung sebagai aktor yang mengeksplorasi bentuk bermodalkan limbah rumah tangga. Di lain sisi, seni juga menunjukkan diri bahwa kreativitas juga bisa berpengaruh dalam gerakan sosial.

Demikian, mengunjungi galeri tak ubahnya adalah mengenal sekitar dari berjuta persepsi. Dan kita sadar, mengunjungi galeri tak berbeda dengan pergi beribadah. Kekhusyukan adalah jalan menuju karya, dan juga pada-Nya.[]

 

* Penulis adalah mahasiswa Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret, Solo. Dapat dijumpai di Twitter: @saint_inang | Instagram: @inang_sh

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *