Dilan Diary Seniman Penulis : Suci Apriani

Suka dengan lukisan belum tentu mengerti makna lukisan. Pandai membuat lukisan belum tentu dapat menjelaskan apa isi lukisan. Tetapi seorang penikmat seni tahu bagaimana mengekspresikan lukisan.

Nah, kali pertama saya jatuh cinta pada lukisan ketika saya mempunyai tugas dari dosen untuk membuat karikatur seseorang. Dan saya minta bala bantuan kepada teman saya yang jurusan seni rupa Unimed (Universitas Negeri Medan) karena saya seorang mahasiswa jurusan bahasa yang tidak menahu masalah lukisan.

Dan saya sangat senang dengan lukisan buatan dia dan menghantarkan saya untuk berkunjung ke Galeri Seni Rupa kampus saya yang terletak di Universitas Negeri Medan Kota Medan.

Suatu hari yang cerah, saya dikunjungi oleh turis dari Kanada. Itulah untuk pertama kalinya saya masuk ke Galeri Seni Rupa Unimed kampus saya. Awalnya saya tidak berniat mengajak teman saya dari negeri jiran tersebut berkunjung kesana tetapi mereka ingin melihat-lihat karya anak Unimed tentang lukisan dan apa yang unik dari kampus saya. Jadi, pilihan saya jatuh untuk mengadakan kunjungan gratis mengelilingi Galeri Seni Rupa Unimed.

Pada saat itu saya tidak terlalu tertarik dengan halaman depan bangunan tersebut karena hanya terlihat seperti bangunan tua yang tidak mempunyai nilai seni. Tetapi, pada sisi kanan dan kiri para mahasiswa memajangkan patung hasil karya mereka yang menyerupai pahlawan nasional. Kemudian saya masuk ke dalam Galeri Seni tersebut dan saya menemukan banyak karya anak bangsa khususnya karya mahasiswa kampus saya terletak disana.

Lukisan-lukisan hasil karya mahasiswa di pajangkan dan diletakkan di lantai dua. Selain itu, mereka juga memajangkan hasil karya mereka di dinding-dinding galeri. Mulai dari lukisan-lukisan yang saya tidak tahu makna sesungguhnya (abstrak), saya seperti melihat dunia dongeng. Banyak sekali lukisan disana ditambah lagi mereka di lantai satu tempat untuk mahasiswa mencorat-coret kan kuasnya.

Saya awalnya pernah berpikir kalau mereka melukis itu asal-asalan tetapi pada tahap akhir. Bukan lukisan asal-asalan yang saya temui. Tetapi lukisan yang luar biasa indahnya di pandang oleh mata. Pada saat itu, saya bertanya pada salah seorang mahasiswi jurusan seni rupa yang berada disana. Kalau lukisan ini bakalan di pamerkan dan akan di lelang di kalangan para pejabat. Kisaran harganya dibandrol mulai dari 1 juta.

Wah… karya anak bangsa kalau terjual seperti itu mungkin akan menambah semangat mereka untuk lebih berkarya dan menciptakan banyak karya yang lain lagi.

Selain lukisan, di dalam Galeri Seni Rupa ini juga terdapat patung hasil dari mahasiswa kampus saya. Bentuknya juga bermacam-macam mulai dari bentuk tangan, piala hingga bentuk manusia. Disana, terdapat pula ruangan untuk membuat patung-patung tersebut dan bagaimana proses pengerasan hingga pembentukannya. Saya juga melihat adanya tungku pembakaran patung tersebut.

Saya dulu percaya orang-orang bilang berkunjung ke Galeri Seni itu sangat membosankan, tiada artinya dan tiada gunanya. Tetapi, pada saat itu saya berpikir bahwa mereka ‘seniman’ butuh kita untuk pengakuan dan penghargaan. Karena tangan mereka adalah suatu berkah yang terindah yang setiap harinya menari-nari di atas kertas yang orang-orang bilang yang ‘katanya’ asal-asalan. Tetapi, bagi saya seni itu indah, seni itu mahal harganya. Seni itu asal-asalan tetapi layaknya harta. []

 

* Penulis kelahiran Silau Jawa ini adalah Mahasiswi Universitas Negeri Medan, Sumatera Utara. Hobinya membaca dan menulis. Punya motto hidup : “Mereka yang tidak punya keberanian untuk mengambil resiko tidak akan mencapai apapun dalam hidupnya.” Dapat dijumpai di media sosial instagram : suciikk_

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *