Galeri Alternatif yang Meramaikan Pergerakan Seni di Bandung Penulis : Satira Yudatama

Gairah seni rupa di Bandung begitu bergelora, merambah sampai ke ruang publik. Kemunculan sejumlah galeri alternatif menjadi bagian dari tanda, para pegiat ingin lebih memasyarakatkan seni rupa, memperluas jangkauan apresiator hingga kalangan masyarakat awam. Berdasarkan pantauan saat berkunjung, galeri alternatif terbagi atas dua karakteristik dari aspek konsep operasional, otonom (hanya ruang pameran), juga ada yang menyatu dengan fungsi lain.

Pameran foto How to Make A Compelling Personal Photo Project

Galeri alternatif dengan karakteristik otonom, di antaranya, Ruang Gerilya, Kolekt, Platform3. Sementara itu, galeri yang menyatu dengan aktivitas lain, tampak pada Temporal Platform (clothing Maternal Disaster), Omnispace (Omuniuum) Rumah Proses (tempat tinggal keluarga Rudi ST Darma), Galeri Titik Temu (working space, meeting room), Semata Gallery (tempat tinggal keluarga Wilman Hermana) serta s.14 yang sedang vakum (perpustakaan, dan tempat tinggal keluarga Aminudin TH Siregar).

Fungsi ruang pameran alternatif tampak komplementer dengan galeri organik, seperti Griya Seni Popo Iskandar, Galeri Hidayat, NuArt Sculpture Park, Selasar Sunaryo, Thee Huis Gallery. Apalagi, seniman yang berpameran di galeri alternatif bukan sembarangan, contohnya, Aldi Tirta Pratama, Riandy Karuniawan, Mufti “Amenkcoy” Priyanka, Resatio Adi Putra, Alexander “Mayatschism” Benedict.

Lokasi beberapa galeri alternatif berada di dekat pusat keramaian, mudah terjumpa masyarakat. Faktor lokasi turut menguatkan aksesibilitas, membuka peluang lebih besar masyarakat awam “berkenalan” dengan seni rupa.

Berdasarkan ciri yang tampak, terdapat fungsi lain dari galeri alternatif, sebagai ruang bagi seniman melakukan eksperimen beserta eksplorasi penuangan gagasan, juga panggung untuk mahasiswa seni rupa menunjukkan karyanya kepada khalayak. Sebagian galeri altenatif mempunyai program rutin guna mewadahi “uji coba” tersebut . Hal itu justru menjadi poin utama dari keberadaan galeri alternatif, mengorbitkan banyak nama seniman baru.

Pameran Gendhuk

Inisiator gerakan kreatif bernama Rumah Proses, Rudi ST Darma mengatakan, penyediaan galeri bertujuan menyalurkan, dan mengembangkan bakat seniman muda, terutama yang tinggal di Bandung. Untuk mamacu daya kreativitas seniman, rumah Proses menyelenggarakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan seni, seperti workshop, diskusi, maupun program edukasi.

Rumah Proses, ucap Rudi, memunyai beberapa galeri guna mewadahi berbagai genre seni rupa. Salah satu galeri memiliki nama Bobi, wujud dedikasi terhadap seniman angkatan 1980-1981 yang menggairahkan geliat seni di wilayah Bandung. “Nama Bobi berasal dari penggabungan angka 80, dan 81. Semoga spirit kreativitas dari masa itu menular pada para seniman kalangan muda” kata Rudi.

Pameran Happy Balangsak

Suasana ruang pameran alternatif lebih cair daripada galeri organik. Bahkan, ada pengelola galeri alternatif yang memperbolehkan pengunjung mengapresiasi karya sembari merokok, menghadirkan nuansa informal nan santai.

Dimensi ruangan galeri alternatif memang cenderung sempit. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman berkunjung ke pameran di galeri alternatif, hal itu bukan persoalan. Pengelola galeri bersangkutan selalu bisa mengatur tata letak karya sedemikian rupa, tentunya dengan memerhatikan sisi artistiknya.

Pernyataan dari salah seorang mahasiswa Departemen Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia, Rudy Nurahman, menggambarkan fungsi penting galeri altenatif. Dia memilih galeri alternatif untuk pameran tunggal dengan alasan ingin menjangkau apresiator lebih luas.[]

 

* Penulis adalah jurnalis yang menyenangi dunia seni.

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *