Galeri Seni: Galeri Buku Yang Tersembunyi Penulis : Abu Aman

Jujur, menjaga kredibilitas, bertangung jawab, baik terhadap keluarga, pekerja, maupun terhadap sosial. Tulisan Eka Tjipta Widjaja terpampang di samping pintu masuk geleri buku, terbingkai di vas figora. Bersama teman-teman memasuki galeri, buku-buku tersusur didalam lemari yang disinari lampu berwarna senja kemerah-merahan.

Hembusan AC terasa dingin, membaluti kulit yang hanya memakai kaos oblong pemberian panitia Qureta. Kami peserta yang berjumlah dua puluh lima orang terkesima oleh sajian-sajian buku-buku berwarna-warni. Seni gambar di buku dan di tas-tas yang semua bahan dasarnya kertas yang terpampang gagah.

Aku sebagai orang yang tidak pernah memasuki mesium buku sedikit terhipnotis. Ternyata tidak semua galeri seni itu berbentu lukisan dan benda-beda antik. Di Mojokerto aku temukan museum yang bernuansa kerta, kertas dengan bermacam ragam, dengan olahan bentuk mengisi disudut-sidut.

Buku-buku yang ada di museum buku adalah produksi pabrik Tjiwi Kimia Mojokerto. Semua dengan warna-warni mengisi ruang yang bernuasa keputihan. Museum buku ini sudah ada sejak berdirinya pabrik kertas ini, sebelumnya bukan pabrik kertas melainkan pabrik kimia. Namun berjalannya waktu berubah menjadi pabrik kertas.

Keunikan musium buku di pabrik Tjiwi Kimia Mojokerto adalah jarangnya orang yang dapat menikmati dan mengunjungi museum buku, hanya orang-orang tertentu yang di perbolehkan mengunjungi. Bahkan masyarkat Mojokerto sendiri belum tau kalau di daerahnya ada museum buku.

Keseruan kami tidak sampai disitu, aku masih melihat-lihat buku-buku dengan bermacam ragam produksi. Namun aku lebih tertarik pada buku sinar dunia karena buku itu tidak asing bagi kehidupanku. Sinar dunia dan buku-buku lainnya adalah produksi pabrik Tjiwi Kimia, hanya beda namanya.

Selain itu, aku memandang salah satu tas sekitar setengah meter tingginya, bergambar orang yang tidak berpakainya. Gambar itulah yang menarik semua perhatian teman-teman, selain memproduksi buku-buku untuk Indonesia pabrik Tjiwi Kimia juga mengimpor tas ke luar negeri.

Pabrik Tjiwi Kimia yang telah menjadi saksi produksi buku-buku, juga menjadikan buku-buku sebagai museum. Buku-buku yang telah banyak diproduksi memiliki nilai-nilai tersendiri, karena gambar-gambar yang dipakai juga mengadopsi dari luar negeri seperti China. Hal yang membuat berbeda museum buku di pabrik Tjiwi Kimia, kumpulan produksi-produksi kertas dari zaman kezama tersimpan rapi.

Museum buku parbrik Tjiwi Kimia mengajarkan kalau pentingnya menjaga buku-buku, guna sebagai ladang wawasan keilmuan. Selain itu, museum buku merupakan hal yang unik yang ada di Jawa Timur, mungkin museum buku pabrik Tjiwi Kimia hanya ada satu-satunya di Indonesia. []

 

*  Penulis kelahiran Bangkalan ini adalah Mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Ampel Surabaya. Media sosial Facebook: Abu Amansyach | IG : @abu_amansyach

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *