Indonesia di Dalam Piramida Penulis : Altabella Septi Arista

Malam itu di pertengahan tahun 2017, aku segera bersiap-siap, mengganti pakaian lalu bergegas menuju rumah temanku yang saat itu sudah menungguku dan teman-teman lain untuk berkumpul di rumahnya. Sudah lebih dari setahun kami tak bertemu. Rindu pastinya. Beruntung ada sebuah acara pergelaran seni di kota Jogja bertepatan dengan hari di mana kami akan bertemu.

Ya, kami akan mengunjungi acara tersebut. “Festival Kesenian Yogyakarta” namanya atau biasa disebut “FKY”. Ketika semua sudah berkumpul, segera kami menancap gas menuju lokasi.

Setelah menempuh selama kurang lebih 15 menit perjalanan, sampailah kami di Pyramid Cafe, tempat di mana FKY2017 digelar. Bangunan piramida yang megah menjulang tinggi dengan disoroti lampu-lampu serta tulisan ‘FKY 29’ yang begitu besar berhasil menyambut para pengunjung dengan begitu mengesankan.

Banyak tangan kanan para remaja yang mengangkat ke atas sambil memegang telepon genggam lalu bergaya begitu narsis di depan ucapan selamat datang. Tak menunggu lama, tentu kami segera melangkahkan kaki masuk ke dalam piramida.

Saat pertama masuk, kami sudah disambut dengan tata ruang yang indah. Terdapat ukiran-ukiran dari beberapa daerah di Indonesia dan juga kain-kain khas dari beberapa daerah juga, seperti kain batik. Tak hanya itu, kami juga disuguhkan sebuah pertunjukan drama menggunakan bahasa isyarat atau yang dikenal dengan pantomim. Para tokoh yang sukses memainkan perannya dengan apik membuat penonton kerap memberikan tepuk tangan yang keras. Aku dan teman-temanku sangat menikmati pertunjukkan.

Karena sudah semakin malam, maka kami tak ingin menghabiskan waktu dengan berlama-lama melihat pantomim. Untuk itu kami segera menelusuri tempat tersebut lebih dalam.

Di bagian lain terlihat kerumunan orang duduk dengan rapi seperti sedang menonton sebuah pertunjukkan yang lebih besar dari pertunjukkan pantomim tadi.

Ternyata ada pertunjukkan musik yang ditampilkan oleh sebuah band yang selalu memasukkan unsur lucu ke dalam sebuah lagu pop, namun tanpa menghilangkan unsur kejawaan. Para penonton pun terlihat gembira dan sangat terhibur dibuatnya.

Setelah puas tertawa, kami segera melanjutkan perjalanan dan melihat-lihat berbagai barang unik di tempat itu. Terlihat banyak sekali orang berjualan.

Bukan barang-barang kekinian yang dijual, melainkan barang yang mempunyai sifat kedaerahan dan unik tentunya. Tak hanya penuh orang berjualan, tetapi terdapat pula hal lain yang tak kalah menarik.

Kerajinan unik di sepanjang jalan yang sebagian terbuat dari bambu dan sudah dimodifikasi sedemikian rupa berhasil menambah kesan suasana klasik, tak lupa dengan tetap menaruh unsur kedaerahan Indonesia.

Di sana juga terdapat sebuah ruang yang menyuguhkan karya-karya bernilai seni tinggi, seperti berbagai macam lukisan dan patung-patung pahatan berukuran kecil yang disusun rapi berurutan.

Begitu cairnya kami mengikuti aliran suasana klasik di tempat itu membuat kami lupa dengan gadget yang biasa tak bisa dilepas. Hanya untuk mengabadikan beberapa foto saja agar tidak lupa dengan pergelaran seni yang menakjubkan itu.

Setelah melihat banyak miniatur-miniatur lucu yang dapat mengingatkan dan secara tak langsung mengajakku untuk explore Indonesia membuat perasaan cintaku terhadap Indonesia dan budayanya menjadi lebih besar. Membuatku merasa bangga menjadi orang terpilih yang dapat lahir di negeri ini.

Dengan mengunjungi tempat kesenian seperti itu sekaligus menyadarkanku betapa miskinnya pengetahuanku terhadap kesenian Indonesia, membuatku rindu dan ingin kembali lagi. []

 

Akun media sosial : FB: Bella Altabella Septi Arista | IG: xowriteme

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *