Kerajinan Jati  Kreativitas Masyarakat di Blok Cepu Penulis : Endah Kemala

Apa yang terlintas ketika Anda mendengar tentang Blok Cepu yang merupakan perbatasan antara Kabupaten Bojonegoro dan Blora ini? Bila bukan investor minyak dan gas bumi, tentu hutan jatinya yang sangat luas.

Walaupun sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, namun tidak sedikit yang memiliki keahlian mengolah jati menjadi sesuatu yang menarik. Itu sebabnya, penduduk di daerah ini rata-rata memiliki rumah yang terbuat dari jati. Bahkan, kulit jati yang sudah menjadi limbah sekalipun dapat dijadikan sebagai bagian dari tembok rumah. Tidak hanya itu, bahkan limbah jati juga dapat dibuat menjadi karya seni yang sangat menarik.

Tidak percaya? Coba saja kunjungi Desa Batokan yang berada di Kecamatan Kasiman Bojonegoro. Memasuki desa saja sudah terlihat aneka galeri yang memajang kerajinan dari Jati. Ada dua jenis kerajinan yang bisa dibuat dari Jati. Pertama, kerajinan yang dibuat dari pohon jati tua yang besar. Biasanya berbentuk mebel atau patung. Kedua, kerajinan dari limbah jati. Di sinilah para pengrajin harus sekreatif mungkin menghasilkan aneka kerajinan unik. Biasanya berbentuk souvenir atau interior rumah. Mulai dari tempat tisu, tempat aqua, kaligrafi, jam dinding, patung binatang, vas bunga, asbak dan aneka souvenir lainnya.

Tentunya, penduduk di desa ini terkenal akan kemampuannya membuat aneka kerajinan jati yang menarik. Hasil kerajinan ini kemudian dibeli oleh pengusaha setempat yang membuka galeri untuk menjual hasil kerajinan tersebut. Walaupun sepanjang jalan di desa ini banyak sekali galeri kerajinan jati, namun para pengusahanya tetap percaya diri untuk memasarkan produk mereka. Itu sebabnya, walaupun kebanyakan produk mereka serupa, namun mereka harus tetap melengkapi koleksi galeri dengan kerajinan yang lebih unik.

Salah satu tempat usaha yang dikenal lengkap galeri kerajinan jatinya adalah UD. Raga jati. Sejak rumahnya selesai dibangun pada tahun 1996, Umi Srimiati dan suami kemudian menjadikan bagian depan rumahnya sebagai tempat usaha menjual kerajinan jati. Walaupun kerajinan jati yang dijualnya tidak dipasarkan secara khusus, namun tidak jarang pembeli berdatangan dari luar daerah, seperti Jakarta, Surakarta hingga Medan. Bahkan, mereka membeli dalam jumlah banyak untuk dijual kembali di kota-kota besar.

Menurut Frasinta Y. Artantin, anak Umi Srimiati, mereka juga sering mendapat pesanan hingga dari luar negeri, seperti Australia, Amerika. dan yang paling sering adalah dari India. “Kalau pemesan dari luar negeri biasanya mereka lebih ketat dalam soal kualitas. Tidak boleh ada cacat sedikitpun,” ujar wanita kelahiran Bojonegoro ini. Frasinta pun bercerita bila pembeli dari luar negeri ini juga tidak segan untuk datang dan memeriksa sendiri barang yang akan mereka beli sebelum dikirim.

Untuk harga, tiap jenis barang terkadang tidak sama harganya. Seperti kotak tisu misalnya yang memiliki ragam jenis model yang berbeda, ataupun dengan model yang sama namun memiliki ukiran yang berbeda. Seperti pernyataan Frasinta yang mengatakan bila mereka menentukan harga tergantung dari modelnya.

Untuk aneka kerajinannya sendiri, biasanya UD. Raga Jati memesan dari pengrajin langganannya yang merupakan masyarakat sekitar Desa Batokan. “Sama seperti yang lainnya, biasanya kami langsung memesan dari pengrajin yang ada di sini. Makanya jenis barangnya juga sama. Baru kami finishing sendiri. Jadi dengan penjual lain berbeda dari segi harga,” tutup Frasinta. []

* Penulis lepas kelahiran Mataram dapat dijumpai di blog www.kamusperjalanan.blogspot.co.id | IG : @lala.endah | FB : https://www.facebook.com/KemalaLala

 

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *