Membangkitkan Mimpi yang Terlupakan Penulis : Windi Prasetia

Aku pernah mengunjungi sebuah galeri lukisan bersama temanku di Galeri Nasional Indonesia beberapa tahun yang lalu. Aku sangat menikmati memandangi lukisan-lukisan indah hasil karya tangan seorang seniman.

Walaupun aku adalah seorang mahasiswi jurusan akuntansi tapi sejak dulu aku memang menyukai hal-hal berbau seni dan juga suka menggambar bahkan sampai sekarang.

Aku ingat saat masih duduk dibangku SD dulu aku mempunyai mimpi untuk menjadi seorang pelukis. Tapi rasanya mimpi itu takan pernah jadi kenyataan sekarang.

Orang tuaku tidak pernah suka melihatku menggambar. Dulu hal yang paling aku ingat adalah Ibuku pernah menyobek gambarku dan membuangnya keluar rumah di tengah-tengah hujan yang lebat karna aku tidak belajar dan malah menggambar, dramatis memang.

Tapi sejak saat itu aku tidak pernah lagi menggambar di depan orang tuaku. Itu sebabnya aku suka memandangi sebuah lukisan, melihatnya mengingatkanku pada masa kecilku, mengingatkanku akan mimpiku yang terlupakan.

Saat aku mengunjungi Galeri Nasional dan melihat ruangan yang penuh lukisan, hatiku juga dipenuhi oleh bermacam perasaan. Aku merasa senang, bahagia, bangga, kagum, marah dan sedih. Aku merasa senang dan bahagia karena kapanpun aku melihat sebuah lukisan rasanya seperti melihat ke dalam dunia mimpiku lagi, dunia dimana hanya aku, para seniman yang membuat lukisan-lukisan ini dan siapapun yang menghargai seni yang dapat mengerti.

Aku merasa bangga dan kagum melihat hasil karya anak bangsa, seniman Indonesia. Mereka adalah orang-orang hebat yang berani melawan seluruh dunia untuk mewujudkan cita-cita dan mimpinya. Mereka adalah orang-orang yang konsisten dan tidak pernah putus asa untuk terus memegang mimpi mereka. Mereka adalah orang-orang yang memimpikan mimpi mereka dan berhasil menggambar mimpi mereka.

Aku tidak pernah merasa iri pada orang-orang kaya dengan harta yang berlimpah, orang  yang memiliki kekuasan atau mereka yang memiliki ketenaran dan dipuja semua orang. Aku merasa iri pada orang-orang beruntung yang bisa mendapatkan pekerjaan dari melakukan sesuatu hal yang ia sukai dan bahkan mendapatkan uang  karna hal  tersebut.

Tidak ada kenikmatan selain bekerja dengan cinta. Aku merasa marah pada diriku sendiri, kenapa aku bisa begitu lemah dan pengecut. Tidak mampu mengambil konsekuensi dan langkah besar untuk mewujudkan mimpiku.

Aku sudah merasa puas dengan hanya menggambar diam-diam disela-sela rasa penatku. Aku hanya berkeluh kesah dan tidak memperjuangkan mimpiku. Aku hanya menghibur diriku sendiri dengan berkata aku akan mekanjutkan mimpiku nanti setelah aku menyelesaikan pendidikan dan gelar yang diinginkan orang tuaku ini.

Kenyataannya di akhir tahun masa kuliahku ini, keyakinanku kian menipis dan keinginanku semakin memudar. Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku bisa mewujudkan mimpiku atau tidak. Memikirkannya membuat hatiku sedih. Tapi untuk saat ini aku titipkan mimpiku pada mereka orang-orang hebat yang telah berhasil mewujudkan mimpinya, pada para pelukis dan seniman yang mampu menunjukan hasil karyanya pada hal layak dan bahkan dikenal luas.  []

* Windi Prasetia lahir di Jakarta tanggal 15 Juni 1996. Saat ini adalah mahasiswa semester akhir yang sebenarnya tengah sibuk mengerjakan proposal & skripsi. Hobinya adalah menggambar, menonton, dan membaca. Sangat menyukai karya-karya Van Gogh, Leonid Afremov, Kahlil Gibran, JK.Rowling, Habiburrahman El Shirazy, dan Pixar Animation Studios.

Media Sosial : Instagram : @Windyprasetia, Facebook : Windi Prasetia

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *