Mempertemukan Seniman dengan Anak-anak di SemAta Gallery Penulis : Akmalia Rizqita

Sanggar seni untuk anak pastinya sudah tidak asing lagi dan dapat ditemui di tiap kota. Mereka biasanya menyediakan jasa mengajari anak menggambar dan mewarnai. Saya juga termasuk orang yang pernah dileskan oleh orang tua di suatu sanggar saat kecil, tapi saya tidak merasa mendapat apa-apa selain teknik mewarnai dan cara meniru gambar guru saya. Berbeda sekali rasanya saat saya pertama kali mengunjungi SemAta Gallery.

SemAta Gallery dan karya Zusfa Roihan, Juni 2017. (sumber: dokumentasi penulis).

SemAta Gallery digagas pada tahun 2013 oleh Wilman Hermana dan Suniaty, seniman dan edukator. Awalnya ia tidak memiliki tempat dan berfokus pada pengadaan lokakarya/workshop sebagai kegiatan sepulang sekolah untuk anak-anak, guna menggarisbawahi pentingnya pendidikan seni sejak dini.

Sampai akhirnya ia mempunyai tempat sendiri di Jl. Boscha III No. 147, Cipaganti, Bandung, di sebuah garasi rumah yang disulap menjadi tempat berkegiatan seni. Untuk melihat proses pembelajaran, anda dapat membuat janji terlebih dahulu, dan jika tidak ada kelas anak-anak, anda dapat datang untuk melihat-lihat karya proses anak yang dipamerkan.

Dalam ruangan bercat putih berukuran kurang lebih 4x2m itu, terdapat berbagai macam alat-alat berkesenian, buku-buku seni, hasil karya anak-anak, dan juga karya-karya seniman lain yang merupakan koleksi dari Wilman, direktur SemAta Gallery, yang juga masih aktif berkarya sebagai seniman. Begitu masuk ruangan ini, ingin sekali rasanya membuat sesuatu!

Zusfa Roihan, seniman lukis, mempresentasikan karyanya pada anak-anak di SemAta.(sumber: dokumentasi penulis)

Lantas, apa yang membedakan SemAta Gallery dengan sanggar biasa? Perbedaannya terletak pada metode pengajaran yang diberikan SemAta terhadap anak-anak. Di SemAta, pengajarannya berbasis seni rupa modern dan kontemporer, dimana anak diperkenalkan dengan biografi seniman-seniman dan karya-karya mereka. Contohnya, jika temanya adalah membuat patung, maka anak-anak akan diperkenalkan dengan seniman-seniman patung sebagai referensi, seperti Alexander Calder dan Jeff Koons.

Alih-alih mengajarkan anak karya seni mana yang bagus dan tidak, anak-anak dibebaskan untuk mengembangkan karyanya sekreatif mungkin, sama seperti seniman yang menjadi inspirasi mereka. SemAta juga seringkali mengundang seniman-seniman lokal untuk berkolaborasi dan berpameran bersama anak-anak, seniman yang diundang kali ini adalah Zusfa Roihan, seniman lukis yang juga merupakan dosen di ITB.

Zusfa Roihan dengan karya kolaborasinya bersama anak-anak SemAta. (sumber: dokumentasi penulis

Sungguh membahagiakan melihat ekspresi anak-anak yang antusias saat mereka dipertemukan dengan Zusfa. Pada waktu berkarya pun mereka sangat semangat dan aktif. Saya menjadi iri, karena saya tidak pernah ingat menjadi sebahagia mereka saat saya masih berkarya di sanggar.

Sebagai mahasiswa seni, saya melihat bagaimana SemAta berupaya untuk menjadi jembatan bagi para pelaku seni dengan masyarakat umum. Dengan mengenalkan seni pada anak-anak, secara tidak langsung pun orang tuanya akan tertarik untuk memahami seni. Hal ini tentunya dapat memperbaiki citra seni di mata orang tua. Pasalnya, masih banyak sekali orang tua yang melarang anaknya untuk menjadi pekerja kreatif, apalagi seniman, karena pekerjaan kreatif masih dianggap sepele dan kurang menguntungkan.

Selain untuk anak, SemAta juga membuka kelas bagi orang dewasa atau siapapun yang tertarik untuk belajar seni. Jadi, bagi yang tertarik dengan seni tapi tidak tahu harus mulai darimana, jangan ragu untuk mengunjungi SemAta Gallery! []

 

* Mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Program Studi Seni Rupa Studio Kajian Seni 2014 – sekarang.  Menyukai dunia seni dan tinggal di Bandung. Dapat dijumpai di media sosial FB : Akmalia Rizqita, Instagram: @akmlrizqita

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *