Mengagumi dan Belajar dari Karya-Karya Sang Maestro Affandi Penulis : Zuli Hanifah

“Traveling. It leaves you speechless, then turns into a storyteller.”

Sepertinya ungkapan dari sang petualang dunia, Ibnu Battuta diatas benar adanya. Seringkali ketika seseorang mendapat pengalaman dari sebuah perjalanan, mereka akan semangat bercerita, terlebih jika perjalanan yang mereka lalui sangat berkesan.

Oleh karena itu, untuk kali ini izinkan saya sedikit bercerita tentang pengalaman yang saya peroleh ketika mengunjungi salah satu museum yang ada di kota pelajar, yaitu Museum Affandi.

Museum Affandi yang terletak di Jalan Laksda Adisucupto 167 Yogyakarta yang didirikan oleh maestro seni lukis Indonesia yaitu Affandi ini berdiri pada tahun 1974. Museum yang buka setiap hari dari pukul 09.00-16.00 WIB kecuali dihari libur nasional ini, terbagi menjadi tiga galeri.

Dari ketiga galeri tersebut, saya pun memulai dengan berkeliling ke Galeri I, dimana lukisan-lukisan yang ada mengisahkan perjalanan hidup sang maestro dan keluarganya. Selanjutnya, saya pun melanjutkan memasuki Galeri II yang berisikan lukisan Affandi dan beberapa pelukis Indonesia seperti Popo Iskandar, Basuki Abdullah, Hendra Gunawan, Sudjojono, dan lain-lain.

Setelah puas berkeliling di Galeri II saya pun memasuki Galeri III yang berisikan lukisan-lukisan karya istri dan anak dari Affandi.

Bila ada yang bertanya mengenai lukisan terbaik dari ketiga galeri yang saya masuki tersebut, sepertinya akan sulit untuk menentukannya. Karena karya-karyanya begitu indah dan mengagumkan. Namun dari banyaknya karya sang maestro, ada dua lukisan yang membuat saya jatuh hati. Ya, jatuh pada pandang pertama, dan kebetulan dua lukisan tersebut terletak di galeri I.

Untuk lukisan favorit yang pertama, saya terhenti pada sosok sederhana nan tangguh dan apa adanya. Sosok manusia biasa, dimana kurang dan lebih ada padanya. Wanita itu bernama ibu. Yups, lukisan Affandi yang berjudul “Mother Inside the Room” berhasil merebut hati saya. Lukisan yang mengajarkan kepada saya arti malaikat hidup bagi seseorang. Bila saya dapat membaca pikiran Affandi saat melukiskan ibundanya, mungkin kata untuk mewakilkan perasaan Affandi adalah “teramat cinta”.

Kemudian lukisan kedua yang menjadi favorit saya jatuh pada lukisan seorang wanita, dimana orang yang dilukis Affandi tersebut adalah istri Affandi yang bernama Maryati. Lukisan yang halus dan sederhana. Sesederhana alasan saya menyukai lukisan ini. Dimana saya dibuat meleleh karena lukisan tersebut, hingga membuat saya merajut asa,”Sepertinya menyenangkan ketika ada seseorang yang begitu mencintaimu membuat gambar dirimu, terlebih jika seseorang tersebut adalah kekasih halalmu”.

Mungkin ini definisi dari romantis. Sedikit melantur memang. Bisa membuat anda mengulum senyum atau tertawa geli ketika membayangkannya. Entahlah, tapi inilah adanya ketika saya mengunjungi galeri seni yang satu ini. Tak ayal lagi, karya-karya dari sang maestro yang membuat saya kagum sekaligus meleleh ini memang banyak mendapatkan penghargaan, hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya penghargaan yang dipajang di museum ini.

Sebenarnya ada beberapa tempat disudut Museum Affandi yang tak kalah menarik dari ketiga galeri tersebut, namun bila saya ceritakan semua pastilah tidak seru. Jika tertarik, mungkin bisa mengunjungi sendiri. Selamat jatuh cinta. Ya, tentu saja. Hal yang akan selalu lekat dalam ingatan salah satunya adalah jatuh cinta, cinta akan ingatan tentang tempat yang membuatmu ingin kembali kesana, seperti Museum Affandi ini misalnya. []

 

* Penulis kelahiran Bantul, 26 Juli 1996 ini menyukai dunia seni, hobby membaca, menonton film, mendengarkan musik, traveling, photography dan suka coret-coret. Seseorang pernah berkata padanya, “tanpa mimpi kau tak kan memiliki apapun”. Dapat dihubungi melalui email: hanifahauthor@gmail.com

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *