Museum Sejarah dan Literasi ala Nahdlatul Ulama Penulis : Abu Aman

Gedung yang bernuasa hijau dengan jelas terpampang tulisan Museum Nahdlatul Ulama. Gedung yang menyerupai kubah–gedung putih Amerika Serikat di film “Bulan Terbelah Di Langit Amerika”. Gedung Museum Nahdlatul Ulama pada hari Ahad, 28 November 2004 di resmikan oleh KH MA Sahal Mahfudh, yang berada di Gayungan, Surabaya, Jawa Timur merupakan satu-satunya di Jatim.

Untuk memasuki Museum Nahdlatul Ulama yang berlantai tiga harus membayar tiket sebesar 2000 rupiah. Saat memasuki lantai pertama langsung disugukan lukisan KH Hasyim Asyari pendiri organisasi Nahdlatul Ulama. Tidak hanya itu, di lantai pertama dengan ruangan yang di kotak-kotak, kotak pertama yang berada di tengan dengan sajian lukisan-kukisan para tokoh-tokoh yang berpengaruh salah satunya Gus Dur.

Saat pertama kali masuk terasa heran, karena ruangan yang di sinari lampu, seperti nuansa  jingga. Museum Nahdlatul Ulama saat itu hanya saya sendiri sebagai pengunjung, sehingga leluasa memasuki ruang demi ruangan. Lantai pertama dengan pesona lukisan yang lumayan besar-besar, bahkan lukisan Zamroni Imron mayoritas mengisi Museum Nahdlatul Ulama. Ada lukisan Gus Dur yang lebih besar sekitar satu meter setengah.

Saat menaiki tangga menuju lantai dua, disisi kanan dan kiri lukisan Gus Dur yang berjumlah tujuh belas. Lukisan Gus Dur dengan bahan serbuk kayu berwarna coklat dengan tulisan-tulisannya, seperti Gus Dur Sang Pemimpin Negeriku, Gitu Aja Kok Repot, Gus Dur Berjiwa Pancasila, dan lain sebagainya.

Distinasi lantai dua sangat berbeda, terasa bulu kuduk berdiri dan terhipnotis. Al-Quran raksasa  yang berasal dari Iraq. Al-Quran ini merupakan bukti sejarah yang terselamatkan saat masjid dihancurkan pada waktu Agresi Meliter Amerika pada tahun 2002 pada masa pemerintahan Saddam Hussein, Iraq.

Ruangan yang berbentuk lingkaran, disisi dinding ruangan, tercamtum lukisan-lukisan perempuan-perempuan Nahdlatul Ulama yang berpengaruh terhadap kejayan islam Indonesia. Sedangkan di tengan-tenganya ada almari kaca yang berisi, keris, klat bahu, ndok bledhek, pedang dan lain sebagainya.

Ada satu lagi keunikan Museum Nahdlatul Ulama, terdapat sepeda ontel bekas para pejuang atau ulama Nahdlatul Ulama. Saat berpindah di runang lain, saya menemukan lukisan Gus Dur kembali dengan lukisan memakai kemeja, menjabat sebagai presiden Indonesia. Selain itu, terdapat potret foto bersejarah, foto warga Nahdlatul Ulama Jawa Timur saat melakukan demonstrasi di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur, sebab Gus Dur ingin dijatuhkan dari kursi presiden Republik Indonesia ke-4.

Di pojok ruangan saya tertarik pada lukisan Mahbub Djunaidi. Ada tiga lukisan dan dua tulisan tentangnya di media massa. Ternyata Mahbub Djunaidi merupakan wartawan yang politisi. Selain tokoh penulis seperti Mahbub Djunaidi, juga ada lukisan sosok seniman Indonesia–KH Mustofa Bisri.

Diruang yang lain, tepatnya pojok kanan berdekatan dengan cendela, ada bungkusan pakaian Rianto, Banser pahlawan kemanusian. Rianto merupakan Banser kota Mojokerto, meninggal dunia dalam peristiwa pengeboman Gereja Ebenheizer saat berlangsungnya Natal, 25 Desember tahun 2000.

Menaiki tangga lantai tiga, terdapat ruangan luas berjejer bangku dan meja, tempat rapat dan membaca koleksi perpustakaan. Lantai tiga merupakan pembendaharaan buku-buku ulam-ulama Nadhlatul Ulama. Keunikan Museum Nahdlatul Ulama selain berkas dan lukisan bersejarah juga tidak melupakan budaya literasi. []

 

* Penulis kelahiran Bangkalan ini adalah Mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Ampel Surabaya. Media sosial Facebook: Abu Amansyach | IG : @abu_amansyach

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *