Napak Tilas di Sendang Kamal Penulis : Muhammad Arwani Musthofa

Sore itu mengagetkanku akan sebuah wacana jadwal KMD (Kursus Mahir Dasar) bahwasanya pada hari Sabtu akan melakukan napak tilas di Sendang Kamal, sebuah sumber mata air di Desa Kerato, Kec. Maospati, Kab. Magetan.

Sendang Kamall

Dan diteruskan Perkemahan Sabtu Minggu (Persami) di lapangan dekatnya. Kekagetan kami bukan tanpa alasan, karena sebelumnya kami sering mendengar kabar menyeramkan dari sendang tersebut.

Dulu sih waktu awal kuliah kami hanya mendengar cerita-cerita masyarakat sekitar dan kini di semester 2 akhir kami harus melakukan napak tilas, bagi kami sih lebih kepada ekplitasi peninggalan budaya. Hari Sabtu pun telah tiba kami mulai di siapkan untuk berangkat dari kampus sekitar jam 07.30 an menuju sendang kamal dengan jalan kaki sambil memungut sampah sepanjang jalan katanya sih biar lingkungan bersih.

Setelah kita sampai di gerbang Sendang Kamal kami di beri tugas oleh kakak-kakak pembina untuk merangkum beberapa situs yang ada di sendang kamal ini.

Takut, ya mungkin itu di benak sebagian dari kami termasuk aku juga sih hehe ….namun demi  tugas kami beranikan mulai dari pintu masuk Sendang Kamal terdapat cakruk (seperti pos ronda) yang di sampingnya terdapat patung kera dan gapura bertuliskan aksara jawa.

Kami kira sih dulu kerajaan kera ternyata bukan.

Setelah kami terlusuri ke dalam kami lokasi sekitar 35×15 meteran itu kami menemukan 3 batu prasasti yang bertuliskan nama orang Belanda. Langsung saja kami berdiskusi kemungkinan ini adalah bangunan yang dipelopori orang Belanda dan dibangun oleh orang jawa dengan bahasa jawa kuno, prasasti ini di bangun tahun 1927 jelas tahun ini tertera di prasasti paling besar.

Setelah itu kami mulai masuk k edalam untuk melihat sendangnya namun kami harus melewati bangunan tembok seperti rumah namun sudah tak ada atapnya dan terkesan tidak terawat benar saja saat kita sampai di belakang bangunan kuno itu kami temui sendang kamal yang memiliki warna  air kehijau-hijauan itu dan sudah tertulis di dinding kolam “dilarang memancing” seolah ini menghilangkan kesan seram di benak kami dan berganti biasa saja ternyata tak se seram yang kami bayangkan di awal perjalanan kami.

Prasasti 3 Batu Sendang Kamal

Apa yang dibicarakan orang tak seperti yang kami lihat kami pun berasumsi bahwa semua cerita seram dari masyarakat yang disebarkan tentang suatu prasasti bukti sejarah hanya akan menjadi suatu isu pemusnahan bukti  sejarah yang terabaikan karena cerita konyol.

Selesai menjelajahi sendang kamal kami melaporkan kepada kakak pembina dalam tulisan sekilas sejarah yang kami pelajari setelahnya kami di persilahkan melanjutkan perjalanan ke lapangan Suratmajan tepatnya di desa Suratmajan, kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan.

Sesampainya di lapangan kami di tugaskan menyelesiakan sandi, membuat jembatan monyet, mendirikan tenda dan malamnya kami hampir tidak tidur karena padatnya kegiatan  hingga selesai sholat subuh, tinggal capeknya pukul 07.00 WIB kita mulai apel pagi untuk pembubaran Persami.

Sekian cerita dari saya. []

 

* Penulis adalah mahasiswa kelahiran Blora 1992, menyukai renang dan lari. Media social : fb & ig : arwi musthofa

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *