Pameran Sekolah Wahana Belajar Berkreasi Penulis : Ibenzani Hastomi

Melihat pameran di galeri seni rupa mungkin sudah terbiasa. Tapi menyaksikan pameran karya seni rupa di sekolah umum tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Apa pasal? Tidak semua sekolah umum, kecuali sekolah menengah kejuruan seni rupa (SMSR dan semacamnya), memiliki galeri seni rupa memadai. Jangankan galeri, sarana yang layak untuk menampilkan karya siswa pun jarang dimiliki.

Namun hal itu bukan menjadi kendala berarti. Mengingat pameran seni rupa di sekolah adalah sebuah keniscayaan. Selain sebagai sarana evaluasi, juga merupakan wahana belajar berkreasi. Di mana siswa mencoba kemungkinan-kemungkinan untuk diwujudkan ke dalam visual-rupa, sesuai pengalaman estetik yang mereka miliki tentunya. Jadilah ruang kelas yang kosong, atau koridor depan kelas, menjadi galeri seni rupa sekolah “dadakan”.

Dua tahun sudah sekolah tempat saya mengabdi, SMA Negeri 1 Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, menyelenggarakan even pameran seni rupa tahunan dengan kondisi “ala kadarnya” seperti ini. Dengan label “SAVE; Smansel Visual Art Exhibition”, ternyata mampu meningkatkan gairah berkarya di kalangan siswa. Ini terlihat dari penyelenggaraan tahun kedua (2017), menurut saya meningkat, baik dari kuantitas, maupun kualitas karya siswa yang lebih baik dari tahun pertama (2016). Sedangkan penyelenggaraan ketiga masih dalam tahap perencanaan dua bulan ke depan.

Pameran juga menjembatani ide untuk disampaikan dan dinikmati khalayak. Ibarat di restoran, peserta pameran SAVE laksana koki yang meracik produk berupa masakan. Berhasil tidaknya produk sang koki, tentu sesuai dengan selera masing-masing penikmatnya. Pun demikian halnya dalam pameran ini. Dapat dikatakan, panel demi panel yang ditampilan merupakan parameter pencapaian siswa atas proses kreatif yang telah dipelajari di sekolah, khususnya di lingkungan SMA Negeri 1 Selomerto.

Pameran di sekolah juga dapat menumbuhkan rasa apresiasi. Bagi pengunjung yang mayoritas warga sekolah, bisa menambah khazanah perbendaharaan akan pengetahuan dan praktik ber-seni rupa. Sehingga timbul rasa handarbeni, hormat, dan menghargai atas dinamika serta proses kreatif yang diwujudkan dalam karya. Kondisi yang menurut Soedarso SP (1988:66) adalah mengerti dan menyadari sepenuhnya seluk beluk hasil seni dan segi estetiknya sehingga mampu menikmati dan menilai karya dengan semestinya. Dan kesadaran demikian sudah mulai tumbuh dan terasa di lingkungan sekolah ini.

Tidak jauh beda dengan penyelenggaraan pameran seni rupa pada umumnya. Pameran di sekolah juga mengusung misi yang hampir sama. Hanya berbeda “level-nya”. Pada pameran umum, kematangan teknik dan pengalaman estetik sang seniman benar-benar digelontorkan secara total dalam sebuah karya. Pada pameran sekolah yang notabene pesertanya masih dalam tahap belajar, kematangan teknik menjadi nomor sekian. Tujuan paling utama adalah bagaimana motivasi dan keberanian siswa dalam berkonsep kreatif rupa. Ini yang patut diapresiasi.

Galeri seni rupa di sekolah tentulah bukan berupa ruang dengan estetika memadai. Ia hanya berupa spirit dan kecintaan untuk terus belajar nguri-uri, sesuai porsi yang dimiliki. Sebagai ajang kreativitas, sekaligus sejarah. Ia mampu bercerita, menebar motivasi, sekaligus virus ampuh untuk menebar bibit-bibit pecinta seni di sekolah selanjutnya. Yah, walaupun tidak semua peserta pameran di sana kelak akan menjadi seniman, minimal mereka bisa memiliki cerita yang bisa ditularkan pada generasi sesudahnya.

Vrede en orde, damai dan tertib dalam berkarya…[]

 

Pendidik Seni Rupa di SMA Negeri 1  Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *