Rindu Yogya, Rindu Galerinya Penulis : Ibenzani Hastomi

Yogyakarta, begitu mendengar kata ini, ada banyak rangkaian makna tersirat. Kota pariwisata, kota pelajar, kota budaya, dan seabrek julukan lainnya. Ya, Yogya memang terasa istimewa, bagi siapapun yang pernah singgah. Segala aspek kehidupan di sana, bisa menjadi sesuatu yang sangat “ngangeni” suatu saat nanti.

Sebagai contoh, hiruk pikuk akan kegiatan seni, khusunya seni rupa, kota ini patut diacungi jempol. Hampir setiap harinya, perhelatan seni rupa tak ada habisnya. Pemberitaan seni dan budaya, tak pernah alpa menghias wajah koran maupun media massa lainnya. Selain ditopang keberadaan institusi pendidikan, baik negeri maupun swasta, keberadaan galeri sebagai ruang seni rupa di kota ini tak terhitung jumlahnya.

Mulai galeri yang dikelola pemerintah, maupun yang dikelola pihak swasta ataupun perseorangan. Tercatat ada Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jogja Gallery, Bentara Budaya Yogyakarta, Rumah Seni Cemethi, Sangkring Art Space, dan masih banyak lainnya.

Sebagai orang yang pernah mengenyam kuliah pendidikan seni rupa di sebuah perguruan tinggi swasta di kota ini, tentu atmosfer ini sangat membantu proses belajar saya. Dari kampus saya belajar teori-teori dasar seni rupa, dari galeri saya belajar wacana-wacana terbaru yang berkembang saat itu.

Galeri membuka cakrawala pengetahuan saya seputar isu, wacana, dan dinamika seni rupa yang sangat menarik untuk diketahui dan diperbincangkan. Dengan demikian, saya yang tadinya masih awam, sedikit mengenali dunia seni rupa dan dinamikanya, walaupun saya merasa belum tuntas belajar. Sungguh perpaduan sangat harmonis. Serta menjadi cerita rindu saat harus kembali ke daerah asal, rindu suatu saat bisa menimba ilmu lewat panel-panel karya yang dipamerkan.

Seperti terjadi pada Minggu, 21 Januari lalu. Saya berkesempatan tamasya ke Yogyakarta bersama rekan kerja. Tiba di Kawasan Malioboro, saat rekan-rekan rindu suasana kawasan paling “legendaris” di Yogya ini, saya iseng berjalan ke selatan di mana tak jauh dari situ terdapat Jogja Gallery. Sambil berharap di sana sedang ada kegiatan pameran.

Harapan saya terwujud, di sana sedang diselenggarakan Jogjakarta-Vienna Young Architects Exhibition (JV-YoA Exhibition). Sebuah pameran yang menampilkan konsep dan karya-karya arsitek muda Yogyakarta, Jakarta, dan Wina (Austria).

Menonton pameran seni rupa sangat menyenangkan. Ibarat mendengar musik ‘klangenan’, karya-karya yang dipajang bak menjelma alunan musik nan syahdu. Kadang seperti hentakan suara drum, atau kadang juga terdengar ‘blam-blam’ suara gendang. Yeah, menonton pameran bisa membangkitkan rasa kagum, semangat, bahkan kebahagiaan tiada tara.

Dan saat perjalanan pulang, adalah saat di mana kebahagian “berpiknik-ria” terbayar tuntas. Pun dengan saya, bahagia tiada tara. Ada banyak “mutiara di balik panel” yang akan saya ceritakan pada anak-anak didik saya. Betapa kehidupan ada banyak macam warna, kreasi dan inovasi-lah yang membuatnya menjadi demikian.

Pada akhirnya, rindu Yogya adalah memori laku nan istimewa, terlebih bagi generasi yang pernah belajar dan bergelut proses di sana.

Dan, galeri seni termasuk satu rangkaian cerita di dalamnya. Akan menjadi kenangan indah untuk dikenang, dan diceritakan saat masing-masing kembali ke kampung halaman. Sehingga rindu akan dinamika seni rupa Yogya akan terus menjadi cerita yang selalu terdengar dan terkenang. Ars Longa Vita Brevis… []

 

Pendidik Seni Rupa di SMA Negeri 1  Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *