Tur Menyusuri Labirin Karya Penulis : Suhelnida Eka Putri

 Huruf-huruf kapital berwarna merah tegak berdiri, merangkai kata Galeri Nasional Indonesia di bagian depan gedung. Di sanalah, sebuah pameran lukisan bertajuk Genevieve Couteau: The Orient and Beyond digelar mulai tanggal 25 Januari- 14 Februari 2018. Gratis. Informasi itu kuperoleh saat iseng menjelajah media sosial. Aku pun penasaran seperti apa rupa pameran di galeri seni karena belum pernah sekalipun melihatnya.

Sekitar pukul 16.45 WIB, tanggal 26 Januari lalu, aku pun menyempatkan diri mampir. Demi menuntaskan keingintahuan terhadap koleksi seni di dalam gedung warisan cagar budaya itu. Asri, batinku kala memandang lingkungan sekitar Galnas, sesaat setelah turun dari boncengan sepeda motor temanku.

Berhubung belum shalat Ashar, kami pun bergegas menuju mushola yang terletak di bagian paling ujung dari pintu masuk. Tak jauh darisana, mural-mural indah mendandani dinding di dekat gedung serbaguna Galeri Nasional (Galnas). Salah satu mural bertuliskan: Wake Up Indonesia is Great. Saya menangkap mural itu sarat makna, mengajak pemuda Indonesia mencintai Indonesia dan giat berkarya memberdayakan potensi luar biasa Indonesia.

Selanjutnya, kami berjalan melewati gedung B, tempat biasanya koleksi Galnas  dipamerkan secara tetap tiap Senin- Jumat sejak pukul 09.00-16.00 WIB. Sayang sekali saat itu tidak bisa sekalian menjelajah kesana karena waktu layanan telah usai.

Terus berjalan ke depan, mata kami kembali dimanjakan oleh keindahan karya seni. Kali ini berasal dari Ruang Sketsa untuk Publik, papan panjang berkaki dua itu menjadi sarana pameran karya sketsa milik masyarakat umum yang mengikuti kegiatan  KamiSketsa, agenda rutin Galnas tiap hari Kamis. Melihat hasil karya yang tampil disana, saya semakin yakin banyak pemuda Indonesia yang berbakat dan penuh kreativitas.

Berbelok ke kiri, sampailah kami ke lokasi pameran yang menjadi alasan utama tujuan mengunjungi Galnas hari itu. Setelah mengisi daftar pengunjung dan menitipkan barang bawaan kecuali ponsel, aku bersama teman pun dipersilakan masuk. Mataku tertumbuk pada sepetak informasi yang ditempel di dinding bagian kanan pintu masuk.

“Realisme Magis Genevieve Couteau”. Entah apa maksudnya, aku awalnya tak paham.

Ruang pameran tampak temaram. Cahaya hanya bersumber dari tiap-tiap lampu sorot yang setia menyinari masing-masing lukisan. Tata letak di bagian kiri-kanan dinding tampak rapi. Tiap lukisan juga dilengkapi judul  beserta jenis dan ukuran media lukisnya di bagian kanan bawah.

Satu per satu lukisan kami pandangi sambil menyusuri ruang-ruang yang seolah labirin dengan tema berbeda-beda. Budaya  dan Keseharian Masyarakat Bali, Wanita Bali, Pria Bali, Biksu di Laos. Garis besar itulah yang saya simpulkan setelah melihat seluruh karya pameran.

Ketika melangkahkan kaki ke luar gedung pameran, sambil menyusuri deretan pepohonan hijau yang membingkai lajur jalan kami, saya masih terpesona  oleh keindahan “realisme magis” tadi.

Genevieve Couteau mampu menyuguhkan gurat-gurat emosi dari garis-garis model lukisannya di atas kanvas sehingga tampak seolah-olah hidup. Gambar realisnya juga mengandung makna tersirat. Itulah yang saya rasakan dalam sepersekian waktu singkat berkenalan dengan ia melalui karyanya.

Terduduk di kantin Galnas sambil menyeruput teh sebelum pulang, kuhirup sekali lagi suasana nyaman Galnas. Sayang sekali baru mengetahuinya sekarang. Seterusnya aku akan berkunjung lagi bersama lebih banyak teman agar lebih banyak pemuda Indonesia yang mengetahui asyiknya tur menjelajah Galnas. []

 

* Media Sosial : @suhelnida (instagram), Suhelnida Eka Putri (facebook)

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *