Art’s Change My World Penulis : Syifa Fadhila

Seni telah memasuki duniaku yang berwarna abu-abu. Seni sudah mewarnai duniaku. Berkat seni, hidup begitu menyenangkan. Begitu lebay? Mungkin iya, tapi itulah yang kurasakan saat pertama kali teman mengajakku ke Pergelaran Seni yang diadakan sekolahnya.

Saat itu mereka mengadakan pergelaran seni dalam rangka pengambilan nilai akhir para siswanya. Kami melihat pergelaran seni saat kami sudah duduk di bangku SMA. Dan tentu saja kami datang ke sana dianggap sebagai senior, dan temanku adalah alumni mereka. Walau saat kami datang kesana banyak halangan seperti tiba-tiba turun hujan deras, angin malam berhembus begitu dingin dan untung saja saat hujan turun itu kami sudah berada disekolahnya.

Saat kami memasuki ruangan olahraga, tempat mereka melakukan pertunjukkan seni terasa pekat disana. Kami seperti memasuki dunia yang berbeda, tampak klasik tapi terasa elegant.

Aku yang datang kesana saja sedikit minder karena pakaian yang kukenakan terkesan sederhana, sedangkan para tamu maupun penonton yang lain sebagian besar datang mengenakan pakaian yang tradisional tapi terkesan mewah. Setelah masuk, kami mencari bangku yang kosong dan dapatlah kami dibangku depan. Ya, tidak terlalu depan sih, paling urutan ke empat dari depan.

Begitu acara mulai yang diawali pembukaan dari Kepala Sekolah mereka, kemudian lanjut ke peresmian acara yang dibuka oleh Guru mata pelajaran mereka selaku ketua dari acara tersebut. Pembukaan mereka diawali tarian daerah, ada Zapin, Randai dan juga Kecak. Dari situlah aku mulai menyukai seni.

Mereka menampilkan berbagai kegiatan seni, seperti photografi, drama musikal, dan juga tak pernah luput yaitu penampilan band terkenal mereka. Yang menarik dari itu semua dan yang menarik perhatianku adalah penampilan teater mereka. Terlihat ketika mereka menampilkannya begitu energik, santai, dan menyenangkan. Ada banyak hal yang lucu dari drama musikal mereka, contohnya “Sendal Jepit Epo” itu diambil dari film Disney yang terkenal yaitu Cinderella.

Mereka menampilkan sesuatu yang unik, beda dari yang aslinya. Cinderella atau upik abu diperankan oleh pria yang bernama Epo, memiliki 3 saudara tiri perempuan yang selalu jahat kepadanya termasuk ibu tirinya. Kemudian sang ibu peri, diperankan juga oleh pria dengan memakai baju layaknya seorang peri. Namun, pangeran mereka tetaplah diperankan oleh pria. Begitu banyak kelucuan yang mereka tampilkan.

Kemudian ada drama musikal yang berjudul “Badut”, diambil dari sebuah film yang sama dengan judul mereka yaitu Badut. Tetapi disini mereka memakai Bahasa daerah yaitu minang dan juga batak. Dan juga dalam teater mereka ada diselingi iklan produk yang mau bekerjasama dengan mereka. Menampilkan iklan lain dari yang lain, mereka begitu kreatif membuat iklan dengan gaya mereka masing-masing sehingga memiliki ciri khas tersendiri.

Mulai dari situlah aku tertarik dengan dunia seni yaitu teater. Setiap melihat pertunjukkan teater, hati begitu berdegup kencang. Ingin rasanya ikut tampil disana, bahkan setiap melihat pertunjukkan teater selalu membayangkan kalau aku ada berada diantara mereka semua.

Walau aku tidak bisa menjadi pemain teater terkenal dikarenakan keluarga yang kurang setuju tetapi asal selalu bisa melihat pertunjukkan teater, itu sudah bisa memberiku semangat.

 

* Penulis kelahiran Pekanbaru ini dapat dijumpai di media sosial FB: Nisadhila Dila | IG : Syifafadhila1412

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *