Galeri Wayang Purwakarta Penulis : Salwa Nurkhotimah

Hai teman teman! Ada yang pernah berkunjung ke Purwakarta? Atau anda sendiri yang bertempat tinggal di Purwakarta? Ya! Jika anda bertempat tinggal di Purwakarta, pasti anda sudah tidak asing lagi dengan kebudayaan dan kesenian yang biasa ditampilkan di Purwakarta.

Salah satu contohnya adalah Galeri Wayang yang bertempat di Alun-alun Purwakarta. Aku dan teman-teman beserta guru kami mengunjungi Galeri tersebut pekan lalu, sekarang aku akan membagikan pengalamanku selama berada disana.

Saat anda masuk, anda akan disambut ramah oleh tuan rumah. Yang pertama kali anda lihat ketika masuk adalah pembuatan suling tradisional yang dibuat oleh pak Rahmat Junaedi (69) atau yang biasa dipanggil Abah Djudju. Abah Djudju telah membuat suling dari umur 9 tahun, secara otodidak lho!

Jika ada yang berminat belajar pembuatan suling bisa langsung mampir ke Galeri Wayang pada hari Sabtu atau Minggu. Lalu terdapat 8 Wayang karakter Bima yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Wayang Bima sendiri memiliki ciri khas yaitu memiliki kuku pancanaka dan kalung naga pasa, tetapi untuk Wayang Bima modern sudah tidak memperlihatkan kalung naga pasa.

Terdapat pula 2 dinding relief 3 dimensi yang diukir, gambar timbul ini menceritakan tentang kisah cinta Rama&Shinta dan kisah Mahabarata. Dinding ini berasal dari Bandung.

Di belakang dinding ini terdapat pohon Hayat. Yaitu, pohon kehidupan tentang pewayangan. Pohon ini berbentuk silinder yang diatasnya terdapat bentuk menyerupai ranting-ranting pohon dan dibawahnya terdapat bentuk menyerupai akar pohon. Pada badan pohon ini, terdapat wajah-wajah pewayangan yang bersifat timbul atau menonjol.

Dan tertera 70 karakter Wayang di pohon Hayat ini. Pohon ini sifatnya berkasta. Semakin atas berarti semakin tinggi derajat atau kedudukannya. Bagian atas terdapat pada dewa, raja, putri dan yang bagian bawah hanya rakyat biasa seperti Gareng, Cepot dll.

Disamping kanan kiri pohon Hayat, terdapat banyak lukisan kaca yang berasa dari Cirebon. Lukisan ini dilukis secara terbalik dari belakang, adapula tulisan yang mendeskripsikan lukisan tersebut pun ditulis secara terbalik dari belakang. Lukisan ini menceritakan tentang Ramayana. Wah, bisa dibayangin kan teman-teman, bagaimana susahnya membuat lukisan kaca ini.

Nah, kita sudah menjelajahi ruangan pertama, dan kita akan melihat-lihat lagi ke ruangan selanjutnya. Disini kalian akan benar-benar cuci mata! Ada ratusan wayang yang dipajang disini, ada wayang golek, wayang kulit dan masih banyak lagi.

Di ruangan ini juga terdapat contoh panggung pementasan pewayangan. Ada satu set wayang golek dari Purwakarta, Surabaya, Jawa Barat, Wayang kulit dari Jawa Tengah, Wayang Santri, Wayang cepak dari Cirebon. Tidak ketinggalan ada juga Wayang Kelitik dan Wayang Betawi.

Di sini juga terdapat Wayang yang langka lho! Wayang ini belum ada penerus pembuatannya sama sekali, namanya Wayang Suket,yaitu Wayang yang terbuat dari rumput yang dianyam. Wah, sayang banget ya teman-teman. Lebih disayangkan lagi jika kesenian kita hilang begitu saja.

Dan ternyata masih banyak hal yang belum saya ketahui tentang kesenian Wayang. Pokoknya Galeri Wayang ini keren banget deh! Dan sangat banyak nambah wawasan kita tentang kesenian Wayang, ditambah kita bisa melihat langsung pembuatan wayang, minta diajari juga boleh kok!

Bisa kita lihat, banyak sekali budaya dan seni di negara tercinta kita ini. Bahkan telalu banyak untuk kita pelajari satu-satu. Tetapi, setidaknya sebagai anak bangsa yang berbudaya kita bisa mengenal dan mempelajari kebudayaan dan kesenian dari daerah kita masing-masing. Kalau bukan kita, siapa lagi? Ayo menjelajah Galeri seni! []

 

* Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Campaka tinggal di Purwakarta. Hobinya berenang dan mendengarkan musik. Media sosial ig : @iam.salwanurkhotimah

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *