Jalan Sore ke Galeri Seni Etnik Dayak Penulis : Reren Ramanda

Saat akhir masa-masa perjalanan ku ke Sintang (sebenarnya lagi coass stase Paru di Rumah Sakit nya ^-^ hehe) salah satu temanku yang asli orang Sintang ngajakin kami sekelompok buat jalan ke galeri seni, namaya “Rumah Betang Kobus”.

Sesuai namanya (yaitu rumah betang) jelas saja bentuk galeri ini unik tidak seperti galeri pada umumnya, karena bentuknya yang  khas rumah adat Dayak, rumah dengan bahan dasar kayu model memanjang dan berlantai tinggi dari tanah alias panggung, ruangannya luas karena tanpa sekat (asik buat nyantai).

Masuk halaman galeri ini rasa nya adem banget karena banyak pepohonan asri tertata di halamannya, buat naik ke galeri nya (karena rumahnya tinggi banget, lantainya sekitar 3-5 meteran dari tanah) kita bakalan naik tangga dari kayu belian (kayu besi kata orang karena kayunya sangat kuat dan tahan lama hehe).

Masuk ke dalam galeri, aku dibuat terperangah dengan koleksi galeri ini teman-teman, rasanya seperti kembali (napak tilas ^-^) ke zaman dulu dan merasakan gimana gaya hidup suku Dayak dan sinergi mereka dengan lingkungan. Galeri ini menyediakan berbagai macam hasil karya seni khas Dayak, mulai dari hiasan manik-manik sampai peralatan dapur yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

Nah ada juga kain tenun khas etnik Dayak yang menggunakan pewarna alami, seperti tananam Aminosa pudica alias putri malu untuk warna hijau hingga kuning dari Curcuma longa yaitu umbi kunyit dari flora hutan hujan tropis kalimantan yang kaya,  dan tentu saja  kain-kain ini ditenun dengan alat tenun bertenaga manusia (wah rajin bener yang bikinnya).

Tenunan khas dayak kainnya tebal namun pas dipegang ditangan lembut dan sejuk ditelapak tangan, enak lah pokoknya (harmoni dengan alam gitu  feel nya)

Nah, pas ngeliatin koleksi gelang nya, ada gelang khas Dayak yang dibuat dari manik dan ada yang dibuat dari simpai, gelang simpai ini yang aku taksir (udah kebayang kerennya aku saat memakai gelang itu saat balik ke pontianak nanti), gelang ini bahannya dari akar pohon Jangang yang tumbuh dirimba Kalimantan. Sebenar nya lebih bagus kalau gelang nya ukuran nya pas nge press.

Cuma aku susah buat masukin gelang nya ke tangan ku, kata nya sih ada teknik khusus biar tuh gelang bisa muat ditangan kita, tapi yah apa daya aku ndak tahu cara nya. Ada cara lain yaitu gelang itu dibuat saat itu juga dengan menyimpainya ketangan kita secara langsung, akhirnya jadilah aku beli yang gelang nya berukuran agak besar (alhasil kedodoran pas dipakai wkwkwk)

Puas foto-foto seru sekelompok dan selfi selfi akhirnya kamipun berencana buat pulang, pas turun liat tuh tangga yang tinggi buat diturunin, kepikiran lah kami semua buat foto-foto (lagi). Di dekat galeri ini teman-teman ada penangkaran Orang Utan, nah ini bisa menjadi ladang buat hunting foto-foto apik (^-^).

Puas kata senang banget bisa jalan di galeri Rumah Betang Kobus ini, nah kalau ada teman yang  ke Sintang kalimantan barat, coba aja ke galeri ini ya, gak nyesel !!! []

 

* Penulis kelahiran kota Pemangkat, Kalimantan Barat , 30 Maret 1991, dapat dijumpai di sosial media FB = Reren Ramanda | IG = rerenramanda

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *