Melihat Street Art di Dalam Galeri Seni Penulis : Irsan Aditya 

Saat itu pada bulan September tahun 2013. Tepatnya tanggal sepuluh ada sebuah pembukaan pameran dengan tajuk “tes.ti.mo.ni”. Pameran ini merupakan presentasi tunggal dari seniman stensil yakni Digie Sigit. Seorang seniman yang tinggal dan bekerja di Jogja.

Karya Digie Sigit berjudul “Bansky Lagi Bansky Lagi”

Karya-karyanya sering dijumpai di dindingdinding ruang publik ataupun dipojokan dekat perempatan sekitar kawasan kota Jogja. Mundur lebih jauh saya mengetahui kiprah Digie Sigit dari sebuah band yang bernama “Teknoshit”.

Pada band tersebut Digie Sigit berperan sebagai vokalis dan penulis lagu. Lagu-lagu Teknoshit mulai saya dengarkan sekitar tahun 2004. Waktu itu saya masih duduk di bangku SMP. Lirik-lirik lagunya dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari.

Dengan nuansa musik elektrik yang dipadukan dengan lirik dan teriakan ysng kritis, menyuarakan kondisi lingkungan, dan keadilan sosial. Salah satu lagu yang paling menempel di telinga saya adalah lagu yang berjudul “Pahlawan Penyapu Jalan” Pameran tunggal Digie Sigit ini dikelola oleh Jogja Contemporary, untuk venuenya bertempat di  Sangkring Art Space.

Pameran ini digelar pada 10 September sampai 21 September 2013. Tepat di malam itu saya dan teman-teman menghadiri pembukaan pameran tunggal Digie Sigit. Saat itu kami sampai di Sangkring Art Space sekitar pukul 20.00 WIB. Dimana saat itu sedang tampil Musikalisasi Sastra oleh Elektronik Liar dan pameran telah resmi dibuka.

Karya Digie Sigit berjudul “Untuk Munir”

Tidak menunggu lama kami kemudian masuk ke gallery. Saat masuk ruang pameran kami disambut sebuah karya stensil besar yang ditempel tepat disamping pintu masuk gallery. Seperti yang khalayak ketahui Digie Sigit berkarya menggunakan teknik stensil.

Teknik ini merupakan salah satu pilihan pendekatan dalam berkarya seni grafis. Dimana sang seniman menggunakan karton yang sebelumnya telah digambar lalu gambar tersebut dipotong sesuai dengan bentuknya sehingga terbentuklah potongan pola yang sesuai dengan gambar.

Karton tersebut biasa disebut “mal-malan” (cetakan gambar) selanjutnya ditempelkan ke dinding atau media datar lainnya dan siap untuk di semprot dengan menggunakan cat semprot.

Ada beberapa karya yang menarik perhatian pengunjung salah satunya karya yang berjudul “Bansky Lagi Bansky Lagi”. Karya ini merupakan sebuah karya stensil yang disematkan pada sebongkah tembok atau reruntuhan dinding tua. Karya tersebut berukuran 37 X 27 cm dengan tebal dinding sekitar 10 cm.

Temanku sedang berfoto disamping karya Digie Sigit dengan judul “Hentikan Perang”.

Karya ini sebenarnya sangat lumrah tapi aneh karena bisa-bisanya Digie Sigit membuat stensil pada sebuah reruntuhan tembok tua lalu memboyongnya ke dalam gallery seni untuk digunakan sebagai salah satu hasil karyanya.

Karya kedua yang menarik perhatian pengunjung yakni karya stensil di atas kertas yang berjudul “Untuk Munir”, karya tersebut berukuran 94 X 152 cm. Karya stensil ini mengangkat sosok wajah Munir, seorang Pejuang HAM yang mati terbunuh karena racun saat perjalanan menuju Belanda dalam rangka mengikuti agenda HAM Internasional.

Sosok Munir yang dibuat dengan teknik stensil dengan cat semprot berwarna hitam ini diletakkan persis di tengah-tengah medan karya dengan background semacam tulisan atau hasil ketikan seperti yang ada pada sebuah terbitan harian ataupun koran.

Pada pameran tunggalnya ini, Digie Sigit menampilkan total 13 karya baik stensil di atas kanvas, stensil di atas kertas, stensil di atas bongkahan dinding, stensil di atas lembaran seng (zinc), dan karya instalasi. Rismilliana Wijayanti pada pameran tunggal Digie Sigit menuliskan bahwa: “Sigit meletakkan stensilnya dimana-mana untuk mengingatkan apa yang terlupa dan untuk tidak-sengaja melupa”.

Pameran ini memberikan pengunjung pengalaman yang berbeda dimana karya-karya stensil Digie Sigit yang biasa ditemui di tempok-temmbok dan susut-sudut perempatan kota Jogja ternyata bisa juga masuk ke dalam sebuah gallery yang mapan seperti Sangkring Art Space. Maju terus Seni Rupa Indonesia, Tabik! []

 

* Penulis kelahiran Yogyakarta 6 Maret 1991 ini sehari-hari menjadi seorang Guru Seni Budaya di sebuah sekolah di kawasan Prambanan, disamping itu juga berkarya melalui media desain grafis dengan membuat desain ragam hias. Silakan untuk berkorespodensi melalui email: irsanaditya@gmail.com  serta media sosial IG: irsanaditya

 

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *