Museum Affandi : Galeri Seni dan Hati Sang Maestro Penulis : Dewi Gunarto

Anda pernah ditolak? Sedih dan bingung, itu wajar. Bisa jadi kemudian anda berusaha memperbaiki kekurangan, supaya tidak lagi ditolak. Tapi apa jadinya kalau ditolak, gara-gara dinilai sudah sempurna?

Aneh? Tapi ini benar-benar pernah dialami oleh maestro seni lukis Indonesia, Affandi, yang ditolak beasiswanya akibat dianggap sudah tidak memerlukan pendidikan dalam bidang seni lukis lagi lho. Saya jadi penasaran. Sebagus apa sih karyanya? Sehebat apa sih beliau?

Kebetulan di kota saya tinggal, Yogyakarta, ada 1 museum yang sekaligus difungsikan sebagai galeri seni, milik beliau. Daripada penasaran, saya memilih datang ke sana. Karena memang harus diakui, pengalaman saya mengunjungi galeri seni, sangat minim.

Yah, hitung-hitung melihat langsung karya beliau lah. Karena memang selama ini, saya baru melihatnya melalui buku-buku ataupun gambar di internet.

Di pertengahan Januari kemarin, sampailah saya ke tempat yang dituju.

Untuk bisa menikmati apa yang ada didalamnya, pengunjung tentu harus mengeluarkan sedikit uang untuk membayar tiket masuk, yang tarifnya berbeda antara wisatawan domestik dan mancanegara.

Setiap hari jam 9.00–16.00, dengan hanya Rp.25.000,- untuk wisatawan domestik dan Rp.75.000,- untuk wisatawan mancanegara, ditambah Rp.10.000,- apabila akan mengambil gambar menggunakan handphone, dan Rp.20.000,- apabila wisatawan akan mengambil gambar menggunakan kamera, anda bisa segera menjelajahi dan menikmati koleksi museum.

Harga segitu sih, cukup murah. Karena di museum yang terletak di Jl. Laksda Adisucipto 167 Yogyakarta ini, memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk menjejaki seluruh bagian berarti dalam kehidupan Affandi, sekaligus interaksinya dengan keluarga dan pelukis lain.

Bagaimana tidak? Karena sejatinya di bangunan seluas 3.500 m2 ini, terdapat 4 galeri  yang peruntukannya berbeda-beda, meskipun yang paling menarik bagi saya, adalah Galeri I dan IV. Galeri I terasa berbeda, karena galeri yang pertama kali dibangun pada tahun 1962 ini awalnya merupakan bangunan rumah tinggal sang maestro.

Berbentuk seperti pelepah daun pisang, bagian ini dibangun dan didesain karena terinspirasi oleh fungsi daun, sekaligus menyimbolkan perlindungan untuk Affandi dan keluarganya.

Mengunjungi galeri ini, selain anda akan terpukau oleh kehadiran patung Affandi  serta reproduksi patung beliau bersama putrinya, Kartika, anda juga dapat menyaksikan  sebuah mobil kesayangan sang maestro, yaitu Mitsubishi Gallant buatan tahun 1976.

Sementara di Galeri IV, mungkin inilah bangunan yang merepresentasikan jiwa sosial Affandi.

Kenapa? Karena selain digunakan untuk memajang karya pribadi, bangunan ini digunakan juga untuk memajang karya pelukis lain, yaitu istrinya, Maryati, anaknya, Kartika dan Juki, serta karya para sahabatnya, yaitu Sudjojono, Hendra Gunawan, Barli dan Mochtar Apin. Selain itu terdapat pula patung karya Amrus Natalsya, dan cukil kayu karya I Nyoman Tjokot.

Keren ya? Seseorang yang sudah punya nama besar di dunia internasional, mau berbagi tempat dengan kolega pelukis dan seniman-seniman muda lainnya.

Tak cukup rasanya berpanjang lebar melalui tulisan ini. Tapi yang jelas, anda harus datang ke Museum Affandi, karena menikmati seni disini, ternyata juga mengajarkan pada kita tentang kebaikan pada sesama. Seperti kata Charles Dickens, “No one is useless in this world who lightens the burdens of another.” Salam. [DGW]

 

 * Penulis kelahiran Yogyakarta 14 April 1980 ini adalah MC, Radio Announcer, A Geek Wannabe. Suka membaca, tapi kurang gemar menabung, karena lebih menikmati jalan-jalan plus ngemil lucu-lucu. Dapat ditemui di media sosial IG: dewigunarto | FB: dewigunarto

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *