Pengalaman Pertama di “Galeri Seni” Sekolah Penulis : Laila Nurjannah 

Sejak masih SD, saya ini termasuk pecinta seni yang sering mengapresiasi karya teman – teman saya. Terkadang, saya merasa iri dengan mereka para “seniman” sekolah. 

Ini Batik karya saya. Ketika dipamerkan masih berbentuk kain. Batik ini menggunakan motif dawet ayu dan kuda lumping.

Mereka, yang memiliki bakat di bidang seni, baik seni musik maupun seni rupa, terlihat sangat keren, cool dan pastinya terlihat menonjol di antara siswa lainnya. Mereka bisa menunjukkan kemampuan mereka secara live di depan banyak orang dan bisa membuat orang lain terkagum – kagum dengan karyanya. Dari sekolah dasar sampai sekarang, saya pun masih tetap menjadi pecinta seni.

Ngomong – ngomong soal seni, saya pernah menjadi panitia “Galeri Seni Rupa” dalam rangka HUT SMA, tepatnya pada tahun 2014. Walaupun saya bukan bagian dari ektsrakuliler seni mana pun, saya ikut menjadi panitia karena saya termasuk anggota OSIS. Panitia utama tetap mereka para seniman sekolah di bimbing oleh guru seni kami, sementara kami dari OSIS membantu menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

Galeri Seni ini diselenggarakan selama 3 hari. Karya yang di pamerkan, 100 % merupakan karya warga sekolah. Tentunya merupakan karya pilihan dan telah lolos seleksi. Mulai dari lukisan, batik, seni kriya dan masih banyak lagi. Lukisan yang dipamerkan terdiri dari berbagai tema yang berbeda. Teknik yang digunakan juga berbeda – beda.

Lukisan yang paling menarik perhatian saya adalah lukisan sungai serayu (sungai besar di kota kami). Lukisan tersebut mengandung pesan agar kita selalu menjaga kebersihan sungai, agar sungai serayu tetap bermanfaat sebagaimana mestinya.

Seni kriya berupa miniatur “dawet ayu” dari pelepah pisang juga sangat menarik. Apalagi seni kriya ini, pernah diikutkan dalam festival seni tingkat nasional dan berhasil meraih juara 1. Saya sangat salut dengan seniman tersebut (kakak kelas yang saya lupa namanya), karena proses pembuatannya membutuhkan kesabaran dan memiliki tingkat kerumitan yang cukup tinggi.

Batik yang dipamerkan merupakan karya siswa dan karya saya termasuk di dalamnya. Jadi, ketika pelajaran seni rupa, setiap kelas diwajibkan untuk membatik. Di antara kelas lain, ternyata kelas kami merupakan kelas tercepat yang berhasil menyelesaikannya. Maka dari itu, batik kamilah yang dipamerkan termasuk batik saya di dalamnnya.

Kami benar – benar belajar dari nol. Awal mencoba tentunya sangat sulit, tangan yang gemeteran, lilin yang mbleber kemana – mana, tangan melepuh kena panasnya lilin, lilin yang terlalu kental hingga canting tersumbat dan masih banyak lagi. Batik ini cukup menarik perhatian warga sekolah, karena baru pertama kali batik di pamerkan (dan katanya sekarang sudah ada ekstrakuliler membatik). Selain melatih kesabaran, belajar membatik juga ikut serta melestarikan warisan budaya Indonesia lho.

Pameran ini sangat bermanfaat dan menambah wawasan saya mengenai seni rupa. Saya jadi tahu ternyata ada banyak teknik melukis. Saya belajar cara memadukan warna yang baik, belajar mengapresiasi sebuah karya dan belajar menerima kritik terhadap karya saya. Pengalaman ini menjadi pengalaman pertama (semoga tidak menjadi yang terakhir) bagi saya untuk mengunjungi sebuah galeri seni.

Pengalaman pertama juga, karya saya ikut dipajang. Ada perasaan senang, bangga dan bersyukur pastinya. Semoga ke depannya, saya bisa bergabung dalam galeri seni lainnya dan dapat meningkatkan wawasan saya mengenai seni.[]

 

* Penulis tinggal di Tangerang dapat dijumpai di media social Facebook: Laila.jurnannah.3 | Twitte: @lailannn_  | Instagram: lailanurjannah7 Silakan berkunjung https://lailanurjannah.wordpress.com

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *