AWAS SPOOR ! Lintasan Lokomotif Visual Karya Rismanto Penulis : Sasih Gunalan

“Saya ingin orang yang melihat karya saya, siapa pun dia, merenung. Saya ingin karya saya tidak berhenti di mata”

Lukisan “Awas Spoor# Saatku Merasakan Manis” akrilik di atas kanvas 200×300 cm, 2016.. Foto : Sasih Gunalan

Ungkapan di atas adalah beberapa patah kata yang disampaikan Rismanto, sebagai ikrar yang mengiring para  kerumunan pengunjung, untuk memasuki ruang pameran tunggalnya, bertajuk “Awas Spoor” di gedung pamer Taman Budaya Yogyakarta.

Memasuki pintu ruang pameran, pengunjung akan melewati sebuah lintasan rel kereta api menuju lorong berbatu, yang akan menggiring alam bawah sadar kita bahwa inilah realitas ruang imaji Rismanto dalam menyampaikan segenap ide penciptaan karya – karyanya, pada pameran kali ini.

Deru suara lokomatif yang terus bergerak dari salah satu sudut ruangan, membantu saya untuk semakin menyatu diantara berbagai miniatur lokomotif dan bentangan lukisan – lukisanya.  Kompleksitas kekuatan konsep, teknik dan ide sangat terasa pada beberapa karya lukis Rismanto, untuk menghadirkan citra gerbong Spoor tua, yang hidup dan selalu bergerak dalam memenggul nasib.

Lukisan “Awas Spoor#Kubawa Sampai Tujuan” akrilik di atas kanvas 180×120 cm, 2015. Foto : Sasih Gunalan

Lihat saja, salah satu lukisan Rismanto yang berjudul, “Awas Spoor# Saatku Merasakan manis”. Pada lukisan ini, sebuah bentuk gerbong tua, berkarat dan berdebu, bergerak dengan segenap beban di punggungnya.

Hal ini menyiratkan semangat kuat pada gerbong tersebut untuk berlari dan terus bergerak dalam membelah segala medan, meski kerentaan dan karat sedang menyelimutinya.

Pada lukisan yang berbeda, kecermatan teknik visual Rismanto, diperlihatkan pada lukisan  “Awas Spoor# Kubawa Sampai Tujuan”. Pada lukisan ini, Rismanto menyuguhkan kekuatan detail citra yang kuat, sekaligus tidak menghilangkan ekspresi untuk menyampaikan visual message yang tersembuyi. Kedua aspek ini, dapat disebut  sebagai kombinasi daya pukau dan daya ganggu yang seimbang.

Daya pukau dapat ditemui pada kekuatan menghadirkan tata rupa dengan detail yang kuat, sedangkan daya ganggu dapat dimaknai sebagai  kekuatan gagasan yang mewujud dalam ketepatan memilih bentuk sebagai metafor.  Lukisan berukuran 180×120 ini, menjadi citra yang menarik untuk melihat sisi lain dari lokomotif tua dengan segala pernak perniknya.

Lukisan “Awas Spoor# Tetap Bergerak Diam dan Pasti”, 2015. Foto: Sasih Gunalan

Selain menggelitik dimensi visual pengunjung dengan karya dua dimensi, Rismato juga menghadirkan karya trimatra yang sangat memukau. Melalui berbagai panel jembatan dan gerbong serta rel yang terpisah dari tonggaknya, Rismanto memberikan kita gambaran kratifitas dan sanse of art seorang seniman dalam menjinakan berbagai media, untuk menghasilkan berbagai jenis dimensi karya seni rupa.

Meski diwujudkan dalam bentuk yang lebih mungil dari realitasnya “lokomotif –lokomotif  kecil” yang dihadirkan Rismanto, mampu mewakili relitas yang ada, dalam usaha menjemput setiap pemaknaan atas karya – karyanya.

Secara keseluruhan sajian karya Rismanto pada pameran ini, dapat ditemukan sebuah kesamaan subjek untuk menghadirkan, spirit kehidupan, dari sepotong gerbong untuk selalu berjalan pada rel hidup yang telah digariskan.

Ini tentu merupakan bagian kecil dari kompleksitas pardigma kehidupan, yang “dipinjam” Rismanto sebagai tematik dan ide penciptaan seluruh karyanya, dan masih ada ribuan aspek lain yang harus dihadirkan, agar kita selalu bergerak menyusuri rel kehidupan yang telah digariskan. []

 

* Penulis tinggal di Yogyakarta dapat ditemui di media sosial facebook : SASIH GUNALAN

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *