Geliat Taman Budaya Sriwijaya Penulis : Yulia Savitri

Setelah lebih 30 tahun diwacanakan, galeri seni bagi seniman di Provinsi Sumatera Selatan akhirnya terwujud. Hal ini ditandai dengan diresmikannya Taman Budaya Sriwijaya yang bertempat di kawasan Jakabaring Kota Palembang, pada November 2015 silam.

Setelah 30 tahun akhirnya seniman Palembang memiliki galeri seni, yakni Taman Budaya Sriwijaya.

Sebagai bentuk penguatan kehadirannya, digelar pameran seni rupa yang difasilitasi langsung Direktorat Kesenian Dirjen Kebudayaan Kemdikbud kala itu. Sedikitnya 33 penggiat seni asal Kota Palembang dan sekitarnya yang terdiri dari pelukis dan perupa terlibat dalam gelaran perdana tersebut.

Sebanyak 46 lukisan, 15 foto, dan 6 patung bertema ‘Asap Kebakaran Hutan’ dinilai sukses memikat pengunjung, mengingat masalah lingkungan di tahun itu menjadi perhatian terbesar bangsa.

Seiring berjalannya waktu, Taman Budaya Sriwijaya yang berada di kompleks Dekranasda Sumsel ini mulai dimanfaatkan untuk beragam gelaran seni lainnya. Salah satunya yakni peringatan Hari Puisi Indonesia yang menampilkan pembacaan puisi, musikalisasi puisi, dan bincang puisi oleh para penyair, pada Agustus 2017 lalu.

Dibincangi di satu kesempatan, salah satu seniman Palembang Marta Astra Winata menyatakan, dibukanya Taman Budaya Sriwijaya sebenarnya sangat terlambat. Mengingat banyak seniman lokal yang terlanjur memilih berkarya di luar kota lantaran sebelumnya tidak tersedianya sarana dan fasilitas.

Menurutnya pula, Taman Budaya Sriwijaya masih belum bisa disebut galeri sesungguhnya apalagi jika harus disamakan dengan taman budaya ideal.

Namun begitu, Marta yang pernah mengikuti Pameran Seni Rupa se-Indonesia di Kupang NTT 2015 ini tetap bersyukur masih adanya kepedulian dan dukungan atas geliat seniman lokal. “Jika (pemerintah) memang mau membebaskan kami berekspresi, bukan tidak mungkin ke depan akan lahir kurator lokal dari Sumsel,”ucap dia.

Memasuki tahun 2018, geliat kesenian Sumsel diakui tidak mati dalam idealisme kendati Taman Budaya Sriwijaya yang dibanggakan itu perlahan mulai terlupakan. Gedungnya yang bisa dimanfaatkan sebagai galeri, lokasi pementasan, serta ruang diskusi dan perkantoran terpantau tanpa geliat yang berarti. Galeri akan ramai apabila ada pementasan teater atau event pameran saja.

Diakui Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP) Vebri Alintani, Taman Budaya Sriwijaya sebagai galeri seni terbengkalai saat ini. Keberadaannya belakangan diketahui hasil dari tukar guling kawasan pemerintah daerah setempat.

Untuk kepengurusannya dibentuk strukturisasi kelembagaan berupa UPTD, namun anggaran pengelolaannya minim untuk mendongkrak perkembangan seni. Lebih dari itu, lokasinya tidak strategis membuat penikmat seni enggan datang yang berakibat lesunya iklim kesenian di Palembang.

“Harus dimaklumi, galeri seni itu bukan sekedar untuk gelar karya tapi juga menjual karya. Kalau pengunjungnya sepi karena lokasi jauh, seniman yang idealis akan semakin terjepit. Mau pameran sendiri di tengah kota seperti hotel butuh dana besar,”kata Vebri.

Ruang seni alternatif seperti public space menjadi pilihan seniman selanjutnya. Beruntung, Pemerintah Kota Palembang mulai membuka destinasi wisata pedesterian di sepanjang Jl Jenderal Sudirman, pada Mei 2017.

Taman Budaya Sriwijaya yang berada di kompleks Dekranasda Sumsel dimanfaatkan untuk beragam gelaran seni.

Bak panggung atraksi seni terpanjang, kawasan yang dijuluki Sudirman Walk tersebut dimanfaatkan maksimal seniman Sumsel di setiap Sabtu malam, mulai dari musik tradisional, kontemporer, tari, teater, lukis, hingga diskusi budaya.

Pengunjung tinggal pilih atraksi yang diminati. Sebelumnya dibuka juga panggung terbuka DKP di bawah Jembatan Ampera Palembang, namun kini tak lagi dihidupkan semangatnya lantaran kawasan itu dijadikan tempat parkir pasar.

Pemerintah dinilai bertanggung jawab menjaga iklim kesenian. Para seniman bukan hanya butuh ruang seni terbuka, tapi juga butuh ruang tertutup yang layak dan strategis. Terutama untuk penempatan karya lukis atau seni rupa, serta arena latihan tari maupun teater. Taman Budaya Sriwijaya dirasa belum mewakili galeri sesungguhnya. []

 

* Yulia Savitri sudah suka menulis sejak bangku sekolah. Berangkat dari kesukaannya membaca buku-buku anak, majalah, novel, dan koran. Dara kelahiran Palembang ini akhirnya memilih kuliah di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (Unpad) dan mulai menekuni kepenulisan bersama komunitas Forum Lingkar Pena (FLP). Kesibukannya saat ini bekerja sebagai jurnalis di media lokal Palembang dan tercatat aktif dalam organisasi profesi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang. Dapat ditemui di media social @yuliasavitri (IG), @amalia_3n (Twitter), Yulia Savitri (FB)

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *