Kontempelasi di WOT Batu Penulis : Inov Fauzi

Wot Batu – yang berlokasi di Bukit Pakar, Bandung, selangkah kaki dari Selasar Sunaryo Art Space – diciptakan oleh Sunaryo, salah satu pematung terpandang Indonesia dan dibuka untuk umum pada tahun 2015.

Suasana WOT Batu karya seniman Sunaryo

“Established in 2015, Wot Batu is a configuration of stones conceptually and harmoniously laid out and planted in about 2000 m2 open space. Sunaryo created Wot Batu to be a spiritual bridge: the balance between the human soul and physical manifestations of life, and also to bring awareness on human existence in an infinite dimension of nature.”

Tercetak di tiket masuk, dua poin penting dari introduksi Wot Batu di atas ditekankan lebih jauh dalam tur panduan yang disediakan untuk para pengunjung.

Pertama, “… Wot Batu is a configuration of stones…”. Ini mengindikasikan bahwa Wot Batu bukan sekedar ‘tempat’ yang menampilkan karya-karya seni, seperti halnya sebuah museum atau a galeri. Wot Batu itu sendiri lah karya seni yang sedang ditampilkan.

Ia adalah sebuah karya instalasi site-specific yang dengan sengaja ditempatkan untuk mencakup perbukitan di sekitarnya sebagai pendukung tujuannya – mengekspresikan pandangan kontemplatif dan spiritual Sunaryo tentang keberadaan manusia dan hubungannya dengan alam (semesta), sesama manusia dan Tuhan.

Ini adalah poin kedua yang disebut dalam introduksi.

Kontemplasi memang adalah nafas utama yang menyatukan semua karya yang terorkestrasikan dengan hening di Wot Batu. Sebuah konfigurasi bebatuan berjudul Batu Air menawarkan salah satu perhatian manusia yang paling dalam, misterius dan banyak dipikirkan – tentang hidup dan mati.

Bebatuan diatur menyatu dengan latar-belakang, mengindikasikan kematian sebagai bagian dari hidup, dan mereka berada di tengah kolam yang tenang bak cermin, mengindikasikan bahwa kematian adalah fenomena yang memberikan manusia kesempatan untuk merefleksikan hidup mereka.

Wot Batu mewakili berbagai hal yang mendasar bagi manusia yang seringkali dibayangi oleh urusan-urusan duniawi kita. Sebuah plakat logam pada karya Batu Gunung mengungkap upaya besar yang dilakukan untuk mengingatkan kita akan keberadaan dasar tersebut. Pada plakat tersebut tergurat informasi mengenai berbagai gunung yang merupakan asal dari bebatuan yang digunakan untuk membuat Wot Batu.

Bebatuan memiliki daya pikat tersendiri bagi Sunaryo, dan ini tidak semata karena kualitas fisiknya: kekuatan, tekstur dan lapisan warna. Terdapat pula hubungan panjang yang telah dimiliki manusia dengan bebatuan, yang berawal dari masa pra-sejarah. Menurut Wot Batu, memang sepertinya tidak ada saksi keberadaan manusia yang lebih baik daripada bebatuan, karena mereka telah ada jauh sebelum kita.

Seperti Kapel Rothko, Wot Batu memang sepatutnya dipandang sebagai sesuatu yang lebih dari sekedar sebuah ‘tempat’ indah yang menyenangkan sebagai obyek unggahan Instagram terkini. Kalau tidak, kita akan melewatkan nilai sesungguhnya.[]

 

* Penulis kelahiran Jayapura, 18 November 1973 ini adalah seorang guru seni rupa, lulusan S1 DKV, Universitas Trisakti, Jakarta. Dapat dijumpai di media sosial  facebook:  Inov Fauzi

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *