Lukisan-Lukisan Abstraksi Hari Ini

Tisna Sanjaya “Wajah Nusantara?” (2017). 290 cm x 590 cm, debu arang, kunir, pala, cabe merah, dan rempah-rempah lain di atas kanvas. FOTO: Tisna Sanjaya.

artspace Indonesia melihat sebuah fenomena produksi bahasa artistik yang cenderung ilustratif pada karya dwimatra, khususnya lukisan-lukisan yang diproduksi oleh pelukis/seniman muda di Yogyakarta. Lukisan sejenis lebih kurang dikatakan sebagai gambar-gambar representasional. Kecenderungan serupa juga terjadi di Kuala Lumpur. Bahasa artistik sejenis dijadikan highlight dalam pasar seni rupa kontemporer dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini oleh para pecinta seni. Sementara lukisan-lukisan abstrak hanya dikonsumsi oleh pecinta seni lebih menyukai dinding ruangannya “diisi” merujuk faham desain interior.

Lukisan-lukisan abstrak kali pertama berkembang di Indonesia di kota Bandung sejak tahun 1950-an hingga saat ini. Sekolah Guru Gambar yang berkembang FSRD-ITB memiliki sejarah panjang mengenai produksi bahasa abstrak seiring pengembangan akademik yang sejajar dengan perkembangan seni rupa dari gerakan abstract expressionist di New York.

Seni abstrak kemudian dianggap karya seni lukis yang kurang dipahami oleh pecinta seni pada umumnya, bahkan cenderung kurang diminati oleh pecinta seni yang memiliki pengetahuan terbatas mengenai seni lukis. Lukisan abstrak dianggap lukisan yang mudah dibuat ketimbang lukisan realis yang membutuhkan kemampuan teknis yang terasah.

Sejumlah seniman pun nampak bermigrasi pada metodologi abstraksi pada karya-karya dua dimensinya di tengah arus perkembangan seni rupa yang cenderung ilustratif atau mengutamakan gambar yang jelas narasinya. Sementara seniman-seniman Indonesia yang konsisten dengan produksi bahasa abstrak pada karya-karyanya nampak tidak terganggu dengan kecenderungan apresiasi seni yang menyajikan gambar di atas bidang-bidang kanvasnya.

artspace Indonesia pun berdialog dengan seniman-seniman yang berbasis di Yogyakarta; Dipo Andy, Katirin dan Januri. Serta meminta komentar dan penjelasan dari Tisna Sanjaya dan R.E. Hartanto di kota Bandung, serta seniman Bali, I Ketut Suwidiarta, mengenai kecenderungan ini. Beberapa seniman yang memang eksis di domain karya-karya abstrak masih akan ditambahkan di dalam artikel ini.

***

Argus FS (artspace Indonesia): Apakah statement akademisi dan seniman mengenai kehadiran lukisan abstrak di tengah produksi bahasa artistik yang cenderung ilustratif dalam karya dwimatra saat ini yang hidup di era seni rupa kontemporer?

Tisna Sanjaya (Seniman dan Akademisi): Lukisan dengan dua metode: Ilustratif, karena ada narasi yg ingin disampaikan secara visual dari ragam peristiwa kehidupan, bentuk, warna yang dilukiskan secara visual mengingatkan pada gestur, gerak, bentuk perilaku manusia serta makhluk, alam yang terjadi. Abstrak, mungkin karena kebosanan dari sikon visual trend lukisan yang dominan dengan ilustratif.

I Ketut Suwidiarta (Seniman): Menurutku, pasar terbuka seluas luasnya tanpa rekayasa. Kalau itu memang menjadi kecenderungan seniman, let it be. Tapi menurutku kesenimanan adalah jalan perenungan. Ada pertanyaan besar dalam kehidupan yang terus membutuhkan jawaban. Every great artist is a philosopher before becoming the real one. 

 

Argus FS (artspace Indonesia): Apakah menurut Mas Tanto  kehadiran seni lukis abstrak itu subordinasi dari lukisan figur atau yang cenderung ilustratif saat ini?

R.E. Hartanto (Seniman dan pengelola Klinik Rupa Dokter Rudolfo): Lukisan abstrak itu non-representasional. Representasinya aja nggak ada, apalagi narasi. Abstrak itu sudah ada sejak tahun 1950-an di Indonesia. Kalo menurut saya justru seni abstrak yang sejak dulu sampai sekarang dominan di Nusantara, soalnya praktiknya luas sekali, mencakup seni tradisional segala. Dulu waktu Pak Barli berantem sama Pak Sadali soal cara pendidikan seni rupa, Pak Sadali bilang seni abstrak sudah ada di Nusantara sejak seniman tradisional bikin karya.

Abstraksi (penyederhanaan) dan stilasi (penggayaan) itu inheren dalam praktik seni rupa tradisional. Pak Sadali menolak paham “anthropomorphonaturrealism” dan nggak mau para mahasiswa di ITB belajar dengan cara klasik Eropa (seperti yg diinginkan Pak Barli). Karena itu Pak Barli keluar dari ITB. Jadi, seni abstrak itu dominan di Nusantara. Bukan subordinat. Seni abstrak jadi subordinat itu cuma satu kali, yaitu waktu Lekra sedang kuat-kuatnya. Yang subordinat itu justru seni representasional, misalnya realisme. Itu pun nggak semuanya ilustratif. Ilustratif dihindari dalam ekspresi. Karya itu ngga boleh ilustratif.

John Martono “The Shadows of Happines” (2015). 60 cm x 60 cm, panting and hand stitching on polyester silk. FOTO: John Martono.

Argus FS (artspace Indonesia): Mas John, kenapa memilih karya abstrak dan apa yang melatarbelakangi pilihan bahasa itu?

John Martono (Seniman): Sejak SMP aku sudah ditempa realis. Pameran di tingkat lokal kehidupan di kampung, sampai setelah SMA, pameran di Sanggar Olah Seni – sebelum kuliah di ITB Bandung. Memang, sebelum kuliah sudah lihat gaya macem-macem karya seni. Masuk kuliah jurusan Desain Tekstil, mulai mengenal berbagai langgam ornaments, menekuni seni tekstil sejak 1993an, sambil tetap melukis. Atmosphere seni di Bandung menjadi vitamin tersendiri sambil tetap berkarya “mencari-cari”. Kemudian, disadari atau tidak, ini jalan abstrak mengalir “menyambung” rupa-rupa yang aku cari, meski sakleg abstract-nya juga nggak karena ada bentuk-bentuk yang masih dikenali di beberapa karyaku. Banyak orang menyebut absrtak, di dalam abstrak saya menemukan kesinambungan rupa-rupa dalam pikiran saya. Ketidakterbatasan itu yang saya suka, karena menjadi tantangan sendiri. Jujur saja, dalam abstrak ada unsur susah memulai dan susah mengakhiri meski saya punya sketsa-sketsa yang jadi rencana dalam karya.

 

Argus FS (artspace Indonesia): Tentunya, mas John menggunakan teknik khusus dalam membangun konstruksi bahasa abstrak dalam karya dwimatra, bagaimana itu?

John Martono (Seniman): Teknik khusus, aku masih ingin bahwa ilmu tekstilku ada di dalam karyaku. Pengalaman seni tekstil 15 tahun, jadi painting ada stichingnya. Saya pakai sutra dan bahan tekstil lainnya agar ilmu seni tekstil bisa dipakai.

 

Argus FS (artspace Indonesia): Gejolak lukisan abstrak menggeliat lagi beberapa tahun terakhir. Bisa dijelaskan alasan bung Dipo migrasi karya ke post-abstract expressionist?

Dipo Andy (Seniman): Pada fase yang sedang aku jalani ini sebenarnya telah dimulai dari kegelisahanku pada pemahaman baru tentang menciptakan karya seni itu sendiri. Dimulai sekitar 5 tahun yang lalu. Aku melakukan banyak eksperimen sebagai upaya pencarian untuk mengakomodasi kegelisahanku. Aku rasa sudah sangat muak dengan visual image yang tiap hari kita jumpai di segala sudut kehidupan, aku gelisah dengan pengertian apakah menciptakan karya seni, khususnya lukisan itu, metode dan prosesnya adalah sama dengan para ilustrator, sineas, fotografer, desainer? Lukisan itu bukan karya ilustrasi, walaupun mengilustrasikan zaman.

Hingga sampai pada pemahamanku yang personal bahwa menciptakan karya lukis itu berbeda dengan para kreator yang kusebut tadi. Lukisan itu bisa tetap eksis hingga hari ini karena sebenarnya lukisan itu misterius. Karya lukis itu bukan sekedar konsep, teknik dan visual semata, tapi harus lebih dari itu. Bagiku harus ada peleburan antara pelukisnya, ruang, waktu, identitas personal dan berbagai pengalaman untuk mendapatkan visual akhir dari karyanya. Ya singkatnya, aku menemukan diriku pada karya ekspresif semacam ini.

 

Dipo Andy “OT19160131” (2016). 200 cm x 280 cm, cat akrilik di atas kanvas. FOTO: Dipo Andy.

Argus FS (artspace Indonesia): So, Bung memilih kecenderungan lain dari dominasi seni rupa Jogja yang kini makin ilustratif dalam karya dua dimensi ya. Lalu, apakah karya-karya abstrak yang kini sedang dieksplor ini jadi sebuah upaya kritik estetik sebagai seniman Jogja terhadap kecenderungan itu, Bung?

Dipo Andy (Seniman): Yang lebih penting dari itu adalah dorongan dari dalam, Bung. Bukan sekedar melepaskan diri dari visual mainstream. Karena bisa dibilang karya saya sebelumnya juga “visual imaging”. Bisa jadi adalah akumulasi luar dalam. Pasrah pada proses (usia, pikiran, pengalaman), seperti juga zaman yg terus berkembang. Istilah visual imaging maksudku, melukis dengan bantuan fotografi, internet image, komputer grafis, dll, pokoknya kaya gitu lah.

Katirin (Seniman): Karya saya belum sepenuhnya abstrak. Memang siapa seniman Indonesia yang ada di situ? Karya-karya saya banyak eksplorasi di dalam proses melukis, jadinya abstrak atau figur itu tidak ditentukan dari awal melukis. Saya mengalir saja. Tetapi, karya saya mungkin abstraksi dari tubuh sebagai pokok soal dalam lukisan-lukisan saya akhir-akhir ini. Semuanya keluar dari dalam bathin saya saja.

Januri (Seniman): Lukisan abstrakku malah lebih awal sebetulnya dari karya-karya yang sekarang aku buat. Karyaku yang masuk dalam kompetisi Philip Moris Art Award tahun 1998 adalah karya abstrak. Dan periode itu saya menghasilkan banyak karya. Kalo sekarang malah belum terlalu banyak menghasilkan karya-karya abstrak. Sebetulnya berkesenian itu buat saya adalah sebuah proses panjang tidak ada namanya titik akhir, saya harus berhenti di titik yang mana. Tapi saya berjalan mengikuti proses itu. Karena saya bisa menikmati karya yang sepenuhnya ketika masih dalam proses.

 

Januri “Mentes” (2018). 50 cm x 70 cm, cat akrilik di atas kanvas. FOTO: Januri.

Argus FS (artspace Indonesia): Apa yang hendak dicapai dari apresiasi publik seni rupa hari ini terhadap bahasa abstraksi yang kini sedang dikerjakan?

Katirin (seniman): Mungkin lukisan saya dipengaruhi oleh lingkungan  studio saya sekarang (Wonosari -Red.). Studio saya sekarang di atas bebatuan, bukan tanah. Sehingga yang muncul ke atas bidang kanvas adalah warna dan tekstur yang terlihat di sekitar studio saya. Dan saya jarang membuat keputusan akan melukis abstraksi sebagai metoda ya atau melukis figur. Saya tidak memiliki target sebenarnya, karena proses melukis yang saya kerjakan tanpa konsep di awal. Apa yang saya kerjakan di atas kanvas itu murni dorongan dari dalam bathin saya. Ruang bathin yang ingin saya munculkan secara ekspresif di atas kanvas-kanvas saya.

Dipo Andy (Seniman): Bagiku melukis abstrak itu seperti laku spiritual. Berupaya memanifestasikan keberadaan yang tiada menjadi ada. Membuat hal yang tidak terasa menjadi berasa. Menempatkan sesuatu yang kosong menjadi berisi. Dan mengetahui kapan dan di mana harus berhenti. Lukisan pada pemahamanku hari ini adalah penggalian identitas personal. Kembali ke dalam diri. Dengan mencapai transenden, maka sebuah pribadi akan mampu melihat sekaligus memahami berbagai perspektif.

Januri (Seniman): Kenapa saya sekarang mulai ke abstrak lagi? Karena saya kadang merasa bersalah ketika berkarya tentang sosial, politik atau yang lain-lainnya tapi dalam kehidupan nyata sering bertolak belakang dari yang saya buat, ada rasa berdosa. Jadi saya sekarang coba berkarya yang keluar dari semua itu untuk melepaskan beban tanggungjawab.

Katirin “Views of the Village” (2017). 200 cm x 250 cm, cat akrilik di atas kanvas. FOTO: M.A. Rozik.

John Martono (seniman): Yang ingin saya capai ya gaya seni yang memang murni sangat personal dari segala pengalaman saya. Sesungguhnya perjalanan ini masih panjang juga. Saya ingin siapapun yang menikmati karya saya memang bener-bener menemukan kesan sendiri, karena dunia seni ini bener luas. Menurutku tamasya ke setiap seniman harusnya ya menemukan kesan khusus sendiri-sendiri.

***

Seniman-seniman tersebut di atas menyatakan dengan tegas bahwa kecenderungan umum terkait visual trend dalam seni rupa Indonesia akhir-akhir ini bukan tolok ukur untuk menilai sebuah kecenderungan apresiasi seni. Bagaimana seorang seniman dalam menanggapi kecenderungan pasar seni rupa terkini bersifat bebas nilai, artinya, seniman memiliki sikap masing-masing. Karya abstrak mereka justru lahir dari penjelajahan bathin dan estetik yang ingin mereka raih melalui sebuah proses kreatif yang tidak mudah.

Lukisan abstrak, di satu sisi, adalah sebuah tangga kehidupan yang harus dilakoni hingga mencapai tingkat spiritual atau kualitas religiusitas seorang seniman melalui karyanya. Dalam hal tertentu, lukisan abstrak dianggap seni dengan pencapaian paling tinggi karena sudah tidak berkutat pada eksplorasi bentuk di atas bidang karyanya.

Pokok soal yang menarik dari lanskap seni lukis abstrak di Indonesia saat ini adalah memeriksa kembali sejarah gerakan abstract expressionist di New York, Amerika, yang muncul kali pertama di medan seni rupa Bandung pada tahun 1950-an. Lukisan-lukisan itu dapat dilihat pada karya Ahmad Sadali, Mochtar Apin, Umi dahlan, dan Sunaryo serta AD Pirous yang masih produktif berkarya. Dalam wacana ini nampak jelas tegangan metodologi Eropa Barat dan Amerika dalam hal praktik seni rupa.

Artikel ini ditutup dengan catatan menarik mengenai cara memahami seni abstrak dari seniman Bandung sekaligus pengelola Klinik Rupa Dokter Rudolfo, R.E. Hartanto. Inilah catatan dari Mas Tanto, Memahami Seni Abstrak

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *