Lukisan-Lukisan “The Orient and Beyond” oleh Geneviéve Couteau

Victor melihat salah satu karya Geneviéve Couteau di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat. Sabtu (3/2) sore.

Anak-anak muda terlihat sedang berkerumun di selatan taman Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat. Langit Jakarta sore itu penuh dengan polusi, sepertia biasanya. Tidak nampak matahari di antara gumpalan awannya namun tidak terasa panas seperti biasanya. Penanda sedang berlangsung sebuah pameran besar di Gedung A Galeri Nasional Indonesia berkelebatan tertiup angin di area tengah halaman Galeri Nasional Indonesia. Langkah kaki dengan penuh semangat mengantar tubuh ini ke gedung utama yang didesain dengan gaya artdeco.

Sebuah stiker yang memuat catatan penulis pengantar pameran di dinding depan pintu masuk sepertinya memang memaksa untuk dibaca, sebelum masuk ke ruang pameran. lalu, sayup suara mahasiswi terdengar dari sudut ruang pameran di dalam gedung itu dan sesekali terdengar cukup jelas di sudut lainnya. Rupanya, mereka sedang asyik swafoto di depan lukisan-lukisan yang digantung pada dinding yang dicat merah tua, lengkap dengan bingkainya masing-masing. Sepasang remaja pun terlihat melakukan photo session.

Aneh ya? Sepasang pemuda itu terlihat buru-buru atau mungkin sedikit ketakutan bila ada pendamping pameran yang menegur mereka. Pemandangan itu sudah dianggap lazim di dalam ruang pameran di tanah air. Karya-karya pelukis asal Perancis ini malah dijadikan background untuk kegiatan photo session model anyaran juga sepasang calon pengantin. Mengharukan.

Satu per satu lukisan-lukisan yang terpajang itu menyuguhkan pesona eksotis dari lanskap budaya Asia Tenggara. Mengamati sapuan-sapuan cat minyak di atas kanvas, warnanya cukup mengesankan. Sedikitnya mengingatkan saya pada lanskap budaya masyarakat dan alam pulau dewata, Bali. Lalu, saya teringat pada percakapan soal seni lukis modern dengan AD Pirous di Serambi Studio AD Pirous, Bukit Pakar Bandung, beberapa tahun silam, terkait dengan sejarah seni lukis mazhab Bandung pada mula sejarah Sekolah Guru Gambar didirikan pada tahun 1950-an – sekarang menjadi FSRD-ITB.

Ya, melalui lukisan-lukisan itu saya teringat kembali pada serpihan tulisan sejarah seni lukis dan penggalan kalimat dari tokoh-tokoh seni rupa Indonesia itu. Soal bentuk pada lukisan-lukisan modern pada tahun 1960 hingga 1970-an di Perancis yang dikembangkan oleh Jacques Villon – bentuk kubis pada karya dwimatra yang kali pertama dikembangkan oleh Pablo Picasso pada awal abad 19.

Pameran tunggal Geneviéve Couteau “The Orient and Beyond” di Galeri Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, berlangsung dari tanggal 23 Januari sampai 14 Februari 2018. Pameran tunggal Geneviéve Couteau dalam pameran tunggalnya itu menyajikan 78 karya berupa drawing, sketsa dan lukisan. Puluhan karya yang menyajikan pesona budaya masyarakat Nusantara sebelum Perang Dunia Kedua hingga saat ini mengisi semua dinding ruang pameran di gedung utama Galeri Nasional Indonesia.

Ada hal menarik dari ulasan Agus Dermawan T. , kritikus seni rupa Indonesia, terkait dengan lukisan Geneviève Couteau  yang dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, bahwa:

“Di sisi lain, lukisan-lukisan Geneviève yang menyimpan banyak adegan, tampak tidak ingin untuk menjadi naratif. Pun ketika yang dilukiskan itu sesungguhnya menawarkan deskripsi dan filosofi yang begitu panjang, sehingga keramaian gong kebyar, kemeriahan gamelan semar pegulingan, misalnya, dibekukan dalam tableau yang digambarkan cuma sebagai kesan, sebagai impresi,” kata Agus Dermawan T. di dalam Katalog pameran “The Orient and Beyond” (2018), halaman 13.

Pameran Geneviève Couteau (1925-2013) terselenggara atas kerjasama Institut Prancis di Indonesia (IFI) Jakarta dengan Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. pameran itu dikurasi oleh Eddy Soetriyono, dengan kurator pendamping Jean Couteau dan Citra Smara Dewi. Serta melibatkan penulis Jean Couteau dan Agus Dermawan T.

Geneviéve Couteau (1989) “Monk”. 92 cm x 72 cm, cat minyak di atas kanvas. FOTO: artspace Indonesia.

Salah seorang pemuda yang menonton pameran Geneviéve Couteau, Victor (21 tahun) memberi komentar kepada artspace Indonesia bahwa lukisan-lukisan yang dipamerkan itu, mengenai lanskap Bali, pernah dia lihat langsung di sekitar Ubud karya pelukis lain.

“Pameran ini bagus dan menarik ya. Sketsanya yang bagus, detail banget. Kaya sketsa yang itu [Bonje (1996) pastel on paper] mirip banget,” pungkas Victor di Gedung A, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Sabtu (3/2) sore.

 

Lukisan Geneviéve Couteau dapat dibagi ke dalam dua bagian, yaitu karya sketsa dan drawing yang menunjukkan pencapaian teknis Geneviéve Couteau dalam membangun konstruksi anatomis hingga lahir karya-karya realisnya. bagian kedua adalah lukisan-lukisan post-impressionist yang muncul dengan kekuatan brush-stroke di atas kanvas menggunakan cat minyak [lihat lukisan “Monk” (1989)]. Bidang-bidang warna yang disusun melalui sapuan kuasnya menyajikan ciri yang kuat pada perkembangan kubisme serta collage [lihat lukisan “Variation on Jungle” (1970)] paling mutakhir di jamannya.  Pokok soal yang paling penting pada karya-karya seni lukis yang disajikan oleh Geneviéve Couteau justru pilihan warna dan tonal value-nya. Kita bisa melihat bagaimana pokok soal warna yang dimunculkan oleh pelukis-pelukis impressionist di jamannya banyak terpengaruh oleh warna-warna yang muncul dari keindahan alam di daratan Jepang dan China. Juga, tentunya, warna-warna dingin yang diperoleh Geneviéve Couteau dari lanskap alam Nusantara (Laos dan Bali).

Memang, ribuan pelukis pernah singgah atau bermigrasi ke tanah Bali untuk mengabadikan lanskap alam dan kehidupan masyarakat Bali yang masih sederhana di atas kanvas dan kertas. Banyak pula di antara mereka yang mencari penghidupan sebagai pelukis dengan menetap di desa-desa wisata di daratan Nusantara.

Di antara ribuan pelukis dari Eropa, Asia, Amerika juga Indonesia yang mengabadikan keindahan alam dan manusia-manusia Bali adalah Geneviéve Couteau. Pelukis perempuan dari negeri para penyair dan filsuf ini merasa cukup berhasil membuat rekam jejak visual mengenai lanskap dan manusia Bali di atas medium kertas dan kanvas yang sebagian banyak dipamerkan pada kesempatan ini di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat.

Sementara Jean Couteau memberi catatan pengantar dalam pameran itu, bahwa karya-karya Geneviéve Couteau (1925-2013) termasuk dalam tradisi peintre voyageur atau pelukis penjelajah.

“Usai menjelajah Laos, Geneviéve Couteau mencari laku lain dari spiritualitas Asia. la menemukannya di Bali. Bali tahun 1970an adalah pulau yang masih hidup dalam ritme lamban di mana orang-orangnya masih bertelanjang kaki dalam aroma budaya agraris. Keindahan terlihat di mana-mana tanpa kontras apapun,” kata Jean Couteau, penulis pengantar pameran Geneviéve Couteau ” The Orient and Beyond”.

Geneviéve Couteau (1970) “Variation on Jungle”. 37 cm X 45 cm, cat minyak di atas papan kayu. FOTO: artspace Indonesia.

Geneviéve Couteau menyajikan karya-karya representasional dengan kecenderungan ilustratif mengenai budaya dan manusia Asia Tenggara itu dengan teknik seni lukis tertentu yang menghasilkan impresi-impresi atas objek-objek yang diamatinya melalui sapuan kuas dengan cat minyak di atas kanvas atau pastel di atas kertas. Sehingga dapat terlihat bagaimana seorang Geneviéve Couteau dalam memandang manusia-manusia primitive di pulau dewata dengan unsur-unsur religiusitas sebagai aksesoris atau simbolik di atas karya-karyanya.

Laiknya seorang seniman yang terpikat pada eksotika masyarakat yang masih hidup dengan cara sederhana dan yang baru beranjak modern, semuanya menjadi objek artistik di tangan mereka. Karya-karya Geneviéve Couteau juga pelukis lain yang pernah singgah di Bali, mengedepankan faham orientalistik pada karya-karyanya. Ada banyak pelukis seperti Geneviéve Couteau yang menetap di Bali di akhir usia senja mereka. menjadikan lanskap alam dan budaya masyarakat Bali sebagai surga objek artistik yang masih hidup hingga saat ini.

 

Geneviève Couteau (1925-2013) dibesarkan di tengah keluarga trader saham yang ulet. Menjelang Perang Dunia II, bersama keluarganya ia mengungsi ke kota Nantes di mana ia melanjutkan sekolah hingga menikah dengan Joseph Couteau (1916-2004), seorang dokter hewan dari kota Clisson. Pasangan ini kemudian memiliki tiga anak; Edmée, Jean dan Pierre.

Lulusan terbaik sekolah tinggi Beaux-Arts Nantes (1951), Geneviève Couteau tampil sebagai pelukis terkemuka di Paris dan dianugerahi piagam bergengsi Prix Lafont Noir et Blanc pada 1952. Ia juga menulis buku “Mémoire du Laos” (Seghers, 1987) yang berisi pengalamannya datang ke Laos atas undangan Pangeran Souphanna Phouma dan buku kumpulan cerpen “Mykonos, Chronique d’une Ile” (Maisonneuve et Larose, 2002). Geneviève Couteau wafat pada 17 Desember 2013 dengan meninggalkan banyak karya dan jejak perburuan estetik.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *