Menyusuri Nu Art Sculpture Park Penulis : Ajoy

Sebuah galeri dan museum yang terletak di jalan Setra Duta Kencana II/11 Bandung, Jawa Barat ini memiliki nilai artistik yang luar biasa. Sebagian besar adalah karya I Nyoman Nuarta seorang seniman asal Bali yang menyelesaikan studinya di salah satu universitas ternama, Institut Teknologi Bandung.

Patung karya seniman Nyoman Nuarta

Bangunan museum ini juga tampak menawan saat malam hari karena sorotan cahaya putih yang memperjelas warna biru pada kaca-kaca bangunan. Sebenarnya terdapat 2 lokasi yang menjadi tempat kunjungan para wisatawan, di bagian indoor atau gedung galeri dan museum, dan di bagian outdoor atau taman dengan keindahan karya seni dari para seniman yang tak kalah keren.

Sebelum sampai di museum galeri ini kita melewati perumahan ter-elit di Bandung, begitu kata supir yang mengantarku ke tempat tujuan. Di depan komplek perumahan kita terlebih dulu di sambut dengan karya seni berbentuk telapak tangan yang dibaliknya terdapat seorang wanita menempel di sisi belakangnya, aku rasa dia terjebak atau tertidur? Ah entah lah aku tak pandai menafsirkan maksudnya.

Aku dan seorang temanku sengaja datang memilih tempat ini pada malam hari sekitar pukul 7 malam karena entah mengapa menikmati seni di sebuah museum paling pas ketika suasana sepi dan tidak terlalu ramai orang. Sebelum benar-benar masuk ke dalam museum kami menemukan bentuk wajah wanita cantik, kuda yang sepertinya sedang memekik dan seseorang yang terlihat duduk berusaha mengangkat kepalanya lengkap beserta bayangannya.

Kemudian, saat masuk melalui pintu utama kami disambut oleh hasil karya seperti gambar di atas. Aku sempat terperangah melihatnya sementara temanku sibuk menarikku cepat-cepat menjauh dari sana. Sebentar, aku ingin menebak cerita pada bentuk seni satu ini.

Seorang wanita berjubah yang bisa kita lihat wajahnya tak dilihatkan secara jelas layaknya memiliki kuasa terhadap hidup atau matinya seseorang yang di rantai berada dipijakan kedua kakinya serta di satu tangannya membawa tongkat bercelurit tajam layaknya malaikat, tangan lainnya membawa sebuah timbangan untuk menimbang dosa dan pahala memantaskan manusia tersebut masuk ke surga atau neraka.

Sebelum masuk lebih dalam lagi kita membutuhkan tiket masuk yang bisa kita dapatkan dengan harga 50.000/orang.

Beberapa hal yang perlu di perhatikan saat melihat museum ini salah satunya tidak boleh menggunakan flash saat memotret dan tidak boleh memegang benda seni yang ada.

Untuk alasan mengapa, aku hanya mengiyakan kemudian berjalan sesuai arahan pemandu untuk naik terlebih dahulu ke lantai 2.

Di lantai 2 bermacam-macam bentuk seni yang diukir sejak tahun 90-an sampai 2000-an, kebanyakan terbuat dari tembaga dan kuningan. Karya Nyoman Nuarta dan seniman lain berjajar indah disana. Salah satu karya yang membuatku terpikat saat melihatnya adalah bentuk seni wanita yang sedang terlelap dalam tidurnya.

Di ceritakan pada sebuah puisi yang menggambarkan seorang wanita ini mengalami kejadian terburuknya pada hari dimana hiruk pikuk, serang bantai, bakar amarah hingga abu kebencian bertebaran merajalela.

Aku tak begitu paham dengan apa yang terjadi waktu itu hanya saja kisahnya sampai sekarang masih suka dikenang oleh banyak orang. Setahuku kejadian ini terjadi sekitar 1 bulan sebelum aku melihat dunia, aku rasa bentuk karya satu ini menceritakan saat terjadi krisis moneter. []

 

* Penulis adalah seorang Korean-fans. Bisa dibilang mudah bergaul atau aktif bersosialisasi melalui media. Bisa kalian temui di instagramnya @ajoygee 

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *