Pagi Hari di Galeri Nasional Indonesia Penulis : Anggi Parwati

Waktu itu, lupa-lupa inget gue sama satu temen baik gue yang namanya disini gue samarkan, sebut saja Ined pulang dari belajar pagi di hari Minggu yang super cerah tepatnya tanggal 8 Oktober 2017.

Nah gambar ini merupakan salah satu ungkapan kritik Natee Utarit terhadap modernisme Barat. Pameran ini merupakan sebuah satire dari modernisme dan kapitalisme serta menceritakan adat dan tradisi lokal.

Entah karena niatan apa kita berdua melanjutkan perjalanan kita dari Sunda Kelapa ke arah Medan Merdeka Timur Jakarta Pusat, tepatnya ke Galeri Nasional Indonesia. Tapi, karena hari juga kayanya masih pagi pas kita berdua sampe di sana, sekitar pukul 09.50 WIB jadi galeri belum buka dan alhasil kita berdua menghabiskan dengan berfoto aja sambil duduk santai di beranda Galeri Nasional Indonesia tersebut.

Tidak begitu lama, jam 10.00 WIB taraaaa pintu dibuka oleh petugas dan gue beserta pengunjung yang datengnya kepagian diperkenankan masuk. “..Silahkan mba, mas, anggap rumah sendiri..” #lah hahaha enggak yaa ini khayalan gue semata. Gii please!

Okey, untuk kalian yang sudah sering mundar-mandir ke galeri seni, pasti udah tau kan yaa kalau ke galeri itu kita dilarang untuk membawa barang-barang pribadi, seperti tas, botol minum, sepatu roda, atau bahkan kalau ada yang bawa layangan juga pasti bakal disuruh titip di tempat penitipan yang ada.

Ya iyalah yaa, untuk menghindari penjiplakan karya atau menjaga warna dan hasil dari lukisan yang dipajang di galeri-pun, kadang kita juga tidak diperkenankan untuk membawa kamera DSLR atau SLR atau kamera-kamera professional lainnya untuk dipergunakan pada saat kita muter-muter di area galeri.

Itu sebabnya, gue sama ined cuma bawa kamera yang udah jadi satu paket sama handphone. Hahaha padahal mah emang aslinya kita berdua gak punya kamera canggih seperti itu.

Nah, setelah semua barang bawaan dititipkan ke mba-mba petugas dan sebagai gantinya kita dikasih nomer buat ambil barang kita kembali nantinya. Gue dan Ined, memutuskan untuk menyusun rencana berkeliling samudera galeri yang terletak di tiga lokasi berbeda namun tetap menjadi satu area Galeri Nasional Indonesia.

Ketiga area tersebut dipisahkan dengan masing-masing Gedung, yaitu di Gedung A, B, dan C. Untung gue sama Ined gak perlu panjang-panjang berkompromi untuk masuk ke gedung mana dulu, karna kita tepat banget memulai dari yang A lalu mengikuti alur sampai akhir.

Oh iya, for your information…  gue baru tau setelah gue keliling itu bahwa di Gedung A ini lagi ada pameran tunggal Natee Utarit yang berlangsung dari tanggal 3 – 17 Oktober 2017 yang bertajuk ”Optimism is Ridiculous: The Altarpieces”.

Yhup, sebenernya gue sih gak ngerti-ngerti banget ya untuk masalah pameran atau tema dari semua yang udah digambarkan dari jenis karya seni yang gue lihat. Hmm, tapi dari kesemua gambar yang disana gue suka semua, entah mulai dari judul lukisannya, mimik yang ada di dalam lukisan, unsur warna, dan semua penghayatan yang gue dalemin saat orang lain sibuk foto-foto di depan lukisan-lukisan itu, menurut pandangan gue yang awam banget masalah ini.

Gue suka. Suka banget. Pokonya kalo udah ada di dalem galeri seni, bawaannya adem. Imajinasi gue berkeliaran, sruduk sana, bengong sini, yah pokonya gue suka. Dan tetep, untuk mengabadikan momen kegemaran gue ini, Ined as usually my captain, dengan sigap mengabadikan kegembiraan gue didepan lukisan yang gue atur cara foto dan segala macemnya. Ahh, makasih banyak yaaa. Kamu luar biasa- huee

Setelah puas di Gedung A kita berdua langsung melipir ke Gedung B yang lagi-lagi sedang ada pameran berbeda yaitu pameran “Resipro(vo)kasi: Praktik Seni Rupa Terlibat di Indonesia Pascareformasi”.

Di sini gue sama ined menemukan banyaaak banget hasil karya seni yang luar biasa kerennya, terlebih semua hasil karya ini mengartikan bahwa kecenderungan praktik seni rupa terlibat dalam kurun waktu pascareformasi hingga sekarang sebagai praktik penciptaan karya alternatif dari dominasi karya individual berbasis studio.

Nah kan, kebayang dong keren-kerennya semua pameran disini kaya apa? Biar gak penasaran, berikut foto gue yang lagi-lagi berhasil diabadikan oleh Ined…

Nah pada pameran ini mengingatkan gue pada runtuhnya rezim Orde Baru sebagai “musuh utama” seniman yang dirayakan dengan beragam ekspresi dan bahasa-bahasa rupa baru yang cenderung mudah dipahami, meninggalkan gaya subversif, mengelaborasi isu-isu yang relevan dengan realitas keseharian.

Periode ini juga ditandai dengan berlanjutnya gejala internasionalisasi perupa Indonesia di jejaring seni rupa regional Asia Tenggara dan Asia Pasifik maupun global sebagai efek pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Begitulah sekiranya yang gue baca dari buku yang gue dapet sebelum masuk ke dalam pameran “Resipro(vo)kasi: Praktik Seni Rupa Terlibat di Indonesia Pascareformasi”.

Entah kenapa semakin berjalannya waktu, Indonesia yang kaya sekali akan kebudayaan, sejarah, ragam ilmu dan segala hasil buminya, membuat gue semakin sedih saat gue tau kalau ternyata masih banyak orang-orang atau bahkan wilayah yang hampir sama sekali belum berkembang. Baik perekonomiannya, ataupun sarana dan prasarananya. Indonesia itu akan semakin kaya, kalau kita semua sadar. Mana yang harus kita kejar untuk dibangun lagi mimpinya, dan mana yang seharusnya ditiadakan hingga keakar-akar serabutnya.

Yaa, akhir kata terima kasih untuk tetap setia membaca tulisan gue yang berantakan gak karuan ini, kalau-kalau kalian mau mampir ke galeri seni manapun, tetep ingat untuk selalu menjaga kebersihan, menjaga keaslian dari suatu karya seni, menghargai pencipta dengan tidak memfoto menggunakan kamera profesional, dan ikut menjadi warga negara yang patuh pada peraturan.

Karena dengan mengenal sejarah, berarti belajar mencintai negara kita lebih dalam lagi.[]

 

* Penulis dapat ditemui di media social Facebook: Anggi Parwati |Instagram : @anggi.gii serta kakaanggi.wordpress.com.

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *